Geopark, Basis Pariwisata Danau Toba

 Geopark, Basis Pariwisata Danau Toba

Kiri Dr. Ivan Elisabeth Purba, MKes mewakili Tim Pakar Geopark Kaldera Toba yang juga moderator dan ketiga yaitu Ketua Tim Percepatan Pengembangan Geopark Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Yunus Kusumahbrata, Lokot Ahmad Endah Siregar, mewakili Asdep Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI destinasi regional I, Tata Syafaat Ridwanullah Direktur Destinasi BPODT mewakili Direktur BPODT.

Jayakarta News – Dalam mewujudkan percepatan pengembangan Danau Toba menjadi destinasi pariwisata super prioritas, banyak hal dilakukan. Salah satunya Focus Group Discussion (FGD) Geopark Kaldera Toba yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, Selasa (10/12) di Sanggar Dolok Sipiak Geosite Sibaganding, Parapat, Kabupaten Simalungun.

Acara FGD ini bertema Danau Toba Sebagai Destinasi Pariwisata Internasional Berbasis Geopark, digelar di hari kedua saat berlangsung Festival Danau Toba (FDT), di Open Stage, Parapat. Dalam kesempatan itu, hadir Dr. Ivan Elisabeth Purba, MKes mewakili Tim Pakar Geopark Kaldera Toba, Kadisbudparsu, dr. Ria Telaumbanua, Drs. Unggul Sitanggang MSi mewakili GM GKT, Debbie Rianni Panjaitan, pengawas geosite Samosir Wilmar Simanjorang, lalu beberapa Manager Geosite di sekitar kawasan Danau Toba. Hadir pula para pelaku pariwisata, penggiat lingkungan, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara Baharuddin Saputra SH, unsur media dan lainnya.

Acara FGD menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Ketua Tim Percepatan Pengembangan Geopark Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Yunus Kusumahbrata, Lokot Ahmad Endah Siregar, mewakili Asdep Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI destinasi regional I, Tata Syafaat Ridwanullah Direktur Destinasi BPODT mewakili Direktur BPODT.

Sebelum acara dimulai para peserta diberikan tontonan tarian tortor yang dibawakan oleh anak-anak sanggar Dolok Sipiak di bawah arahan Corry Paroma Panjaitan, yang juga Manajer Pusat Informasi Geopark Kaldera Toba (GKT) di Parapat. Setelah itu Ivan Elisabeth dari tim pakar geopark sebagai moderator, memulai acara dengan memberikan pertanyaan kepada para peserta, apa tema festival Danau Toba, kemudian salah seorang peserta menjawab, dan menjelaskan.

Dr. Ivan Elisabeth Purba, MKes saat ikut menari tortor, saat acara FGD Geopark Kaldera Toba. (Foto: Monang Sitohang)

Lalu Ivan melanjutkan, geopark ini punya makna tersendiri, mungkin para narasumber yang telah hadir akan menceritakan untuk memperkuat pengetahuan kita tentang geopark. Seperti yang dikatakan Unggul sebelumnya keluaran dari FGD kita ini adalah kita seperti memiliki semacam rekomendasi apa yang harus kita buat bersama-sama untuk memajukan Danau Toba yang sangat kita banggakan ini.

Ketiga narasumber akan bertukar pikiran dengan memberikan informasi terkini, apa-apa program kerja, apa yang rencana yang telah ditetapkan untuk bersama-sama dengan masyarakat lokal kita untuk memajukan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata internasional berbasis geopark.

“Bahwa Danau Toba ini, Kaldera Toba itu telah ditetapkan sebagai satu destinasi pariwisata yang khusus yang dinamakan sebagai destinasi pariwisata super prioritas. Jadi sesuai arahan Presiden RI, agar kita semua, pemerintah maupun swasta sama-sama fokus menjadikan Toba sebagai destinasi internasional,” ujar Yunus.

Kegiatan FGD saat sesi tanya jawab . (Fot:. Monang Sitohang)

Ditambahkan, Presiden bahkan telah menginstruksikan para menteri untuk menyiapkan segala sesuatu agar Danau Toba menjadi destinasi pariwisata internasional.

Sesuai paparan yang diutarakan Lokot perwakilan dari Kemenpar, yang menjadi kata kunci pertama adanya komitmen bersama, kemudian harus sehati dan sekata. Untuk itu dituliskan ke dalam exemplain dengan memperhatikan poda na lima yaitu bersihkan jiwamu, badanmu, pakaianmu, rumahmu, lingkunganmu.

Ditambah Tata sebagai Direktur Destinasi, kita harus umumkan sebagi anggota Unesco Global Geopark secara resmi. Kedudukan sebagai anggota Unesco Global Geopark itu akan di-assessment empat tahun ke depan. Agar predikat itu tak lepas, maka perlu didetailkan dalam bentuk matriks kegiatan, tentang siapa mengerjakan apa.

Sebagai contoh, delapan geotrail yang ada, akan dibantu pemerintah pusat. Sedangkan terkait program BPODT sendiri di 2020 tidak fokus di geopark, tetapi membangun areal di Sibisa di lahan otorita. Kegiatan lain adalah meningkatkan kapasitas SDM, membantu perencanaan desa, dan sebagainya. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *