Dunia Menanti Akhir Perang Dagang AS – Cina

 Dunia Menanti Akhir Perang Dagang AS – Cina

David Ricardo dan kebanyakan ekonom percaya pembatasan perdagangan akan mengurangi kesejahteraan konsumen dan menurunkan pertumbuhan produktivitas sehingga mengganggu aktivitas ekonomi, dan menggerus permintaan serta investasi —- pada dasarnya buruk bagi ekonomi secara keseluruhan dengan dampak turunnya kesejahteraan masyarakat.

Namun saat ini, Amerika menerapkan tarif sebesar 200 miliar dolar barang impor dari Cina. Beijing sendiri membalas dengan tarif 60 miliar dolar. Tarif ini mulai berlaku sejak Senin, 1 Oktober 2018 ini. Selain itu, masing-masing negara juga mengenakan bea cukai senilai 50 miliar dolar. Bisa dikatakan, perang dagang terbuka antara Amerika — negara terbesar ekonominya — dengan Cina — negara kedua terbesar ekonominya. Akibat logisnya adalah perang dagang ini akan memberi dampak buruk terhadap perekonomian dunia berupa pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Kelihatannya Cina akan menderita lebih buruk daripada Amerika, karena, diantaranya, negeri Tirai Bambu itu terlalu bergantung pada perdagangan dan rantai pasokan teknologi AS.

Cina memang tidak bisa membuat AS lebih menderita karena Cina lebih banyak mengekspor barang ke AS, sementara negeri Paman Sam mengimpor jauh lebih sedikit. Tahun lalu saja, Cina mengekspor lebih dari 500 miliar dolar barang ke AS. Padahal Amerika hanya mampu menjual barang senilai 130 miliar dolar ke Cina.

Kemudian, ekonomi Cina juga banyak bergantung pada perdagangan dengan AS. Ekspor Cina ke AS bernilai 19 persen dari ekspor total. Sedangkan ekspor AS ke Cina hanya 8 persen saja dari ekspor total. Ini data dari Buku Putih yang dikeluarkan oleh Dewan Negara Cina atau kabinet, Senin lalu. Saat ini, perdagangan memberi kontribusi sampai hampir 20 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negeri tersebut. Sementara Amerika sekitar 14 persen saja. Nilai tambah ekspor AS ke Cina sama dengan 0,7 persen dari PDB-nya. Ekspor Cina ke AS sudah mencapai 3 persen dari PDB. Teori ekonomi menyebutkan perang dagang akan lebih merugikan eksportir daripada importir.

Selain itu, salah satu konsekuensi perang dagang adalah akan terjadi restrukturisasi rantai pasokan global, yang selama ini memberi Cina keuntungan besar. ‘Boming’ ekonomi Cina selama empat dekade terakhir didasarkan pada peranan negeri ini sebagai simpul manufaktur dunia. Perang dagang, yang berlangsung lama, akan memaksa perusahaan-perusahaan asing di Cina melakukan diversifikasi atau memindahkan alur pasokan keluar dari Cina dan merelokasi basis produksinya ke negara-negara yang dipandang aman, seperti Vietnam, Indonesia, dan Meksiko untuk memotong peningkatan biaya. Disini, Indonesia bisa memperoleh keuntungan berupa naiknya investasi ke negeri tercinta kalau pemerintah bisa terus melakukan reformasi iklim berbisnis di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan Cina, yang membeli produk teknologi tinggi AS, terpaksa mencari tempat baru dan pindah ke negara-negara lain untuk menghindari tarif besar yang menekan kemampuannya berkompetisi.

Perang tarif ini juga akan dirasakan dibidang investasi, perusahaan dan investor cenderung akan menahan atau paling tidak mengurangi investasi perluasan usaha karena situasi ketidak-pastian yang tinggi. Di Cina, perusahaan asing memberi kontribusi 2,5 triliun Yuan (US$363,8 miliar) investasi aset tetap dan konsumsi serta sepertiga dari mesin ekonomi Cina. Konsekuensi perang ini, dalam jangka menengah – panjang, jika ketegangan terus berlangsung, pertumbuhan Cina tampaknya akan terkena paling keras dibandingkan dengan AS.

Presiden AS Donald Trump telah mengindikasikan dia siap bukan saja menyerang perdagangan bilateral tapi juga bersiap ‘berperang’ pada bidang investasi dan teknologi.

Situasi akan benar-benar ‘merusak’ jika perang dagang ini melebar di seluruh sisi ekonomi, teknologi, dan geopolitik. Namun tetap selalu ada harapan perang ini akan mereda dan para pemimpin AS dan Cina bisa duduk dan merundingkan perdagangan yang lebih adil bagi kedua negara — Amerika menghendaki pengurangan defisit dan Cina tetap jadi simpul manufaktur dunia. Kita lihat perkembangannya.

Sumber informasi: scmp.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *