Buku ‘100 Orang Kuat Perfilman Indonesia’ Diluncurkan, Ada Nama Usmar Ismail, Ali Sadikin, Harmoko sampai Jero Wacik

 Buku ‘100 Orang Kuat Perfilman Indonesia’ Diluncurkan, Ada Nama Usmar Ismail, Ali Sadikin, Harmoko sampai Jero Wacik

Akhlis Suryapati (foto Google).

JAYAKARTA NEWS—– Banyak buku tentang 100 orang kaya Indonesia, 100 orang berpengaruh Indonesia, 100 pengusaha tersukses, 100 wanita terkenal Indonesia dll. Tapi 100 orang kuat perfilman Indonesia? Rasanya baru kali ini, buku berjudul ‘100 Orang Kuat Perfilman Indonesia’ (100 Most Powerfull Person in Indonesian Film Industry) karya Akhlis Suryapati ini baru ditulis dan diterbitkan.

Diterbitkan oleh Sinematek Indonesia, buku setebal 454 halaman dibandrol dengan harga Rp250.000. Ihwal diksi orang kuat perfilman Indonesia, Akhlis mengartikan mereka yang terlacak memiliki kekuasaan dan pengaruh penting dalam riwayat perfilman Indonesia. Meski tentu saja riwayat perfilman Indonesia bukan hanya dihuni dan ditentukan oleh kuasa 100 orang kuat perfilman Indonesia.

“Saya menyusun ikhtisar 100 orang kuat perfilman Indonesia berdasarkan berbagai literatur, fakta dan informasi yang sebelumnya sudah jadi pekerjaan umum,” alasan Akhlis Suryapati, wartawan senior dan kini Ketua Sinematek Indonesia, dalam bincang-bincang dengan penulis di lantai 4 Sinematek Indonesia, PPHUI, Kuningan, Jakarta Pusat.

Dikatakannya, ditulisnya orang kuat perfilman Indonesia dengan latar belakang riwayat perfilman Indonesia. “Jadi, dalam buku ini sedikit beda dalam hal pembagian secara periodik dan istilah-istilah yang saya gunakan untuk menyebutkan periode-periode riwayat film nasional Indonesia,” jelas Akhlis yang pernah menyutradarai 2 film yaitu ‘Lari dari Blora’ dan ‘Enak Zamanku Tho’. Ada 9 periode riwayat film versi Akhlis yaitu periode penetrasi film Indonesia (1900-1920), periode pembuahan film RI (1920-1925), periode kehamilan film RI (1926-1949), periode kelahiran film RI (1950-1955), periode pancaroba film RI (1956-1966), periode euforia film RI (1967-1987), periode mati suri film RI (1988-1999), periode kebangkitan film RI (2000-2020) dan periode pandemi (2000-….).

Beberapa nama insan film (produser, sutradara, penulis skenario, aktor hingga pejabat yang mengurus kebijakan perfilman) ditulis kiprah dan rekam jejaknya dalam buku ini. Ada nama-nama seperti Usmar Ismail (orang pertama), Teguh Karya, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, The Teng Tjun, HB Naveen (orang ke 100), Mira Lesmana, Ali Sadikin, Ali Murtopo, Harmoko, Jero Wacik hingga nama-nama orang kuat perfilman RI yang berkekuatan ikonik seperti Roekiah, Fifi Young, WD Mokhtar, Tan Tjeng Bok, AN Alcaff dan Suzanna.

Di sisi lain, Akhlis juga memasukkan nama-nama orang kuat perfilman RI yang berhaluan ‘kiri’, ikut Lekra (onderbouwnya PKI) meski akhirnya tersingkir dari percaturan perfilman RI, seperti Bachtiar Siagian, Basuki Effendy dan Kotot Sukardi. Namun, Akhlis jujur tidak memasukkan nama-nama artis film yang dikategorikan ‘The Big Five’ (5 artis berhonor tertinggi) yaitu Jenny Rachman, Yattie Octavia, Tanty Yosepha (seharusnya yang benar : Doris Callebaut), Roy Marten dan Robby Sugara. “The Big Five kurang memiliki catatan teruji yang menunjukkan adanya ‘perbuatan’ dan ‘tindakan’ yang memiliki pengaruh dalam pusaran perfilman Indonesia pada masanya dan kemudian berpengaruh dalam jangka panjang,” imbuh Akhlis.

Bahkan, di halaman terakhir (Kata Penutup) ditambahkan 1 halaman tentang 25 nama orang-orang kuat perfilman yang tertinggal, diantaranya Ali Tien, Ilham Bintang, Soedewo, Sudiro, Umar Kayam, JB Kristanto dll. Memang, bukan hal mudah menyusun dan menulis buku tentang 100 orang kuat perfilman Indonesia. Berkali-kali Akhlis menulis dan dihapus, lalu pasang lagi. Berkas-berkas arsip, dan dokumen-dokumen dianalisis dan dibaca berulang-ulang.

“Jujur, pandangan saya tetap subyektif. Setiap zaman punya subyektifitas dan kontektualitasnya. Kalau orang lain mungkin punya nama-nama lain 100 orang kuat perfilman Indonesia,” papar Akhlis merendah. Meskipun demikian, keberanian dan ketelitian Akhlis mrnulis buku ini patut diberi punten dan dihargai. “Saya mulai pekerjaan ini dengan mengucapkan Bismillah dan menyelesaikan pekerjaan dengan Alhamdullilah,” demikian pungkas Akhlis Suryapati. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *