Menulis dengan Nurani, Buku Antologi Puisi ke-7 Karya Komunitas Wartawan Usia Emas

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Inilah hebatnya jurnalis. Tak ada istilah pensiun dalam menulis. Usia bukanlah halangan. Selama otak dan hati masih bekerja, tangan masih bisa digerakkan, karya akan terus dilahirkan.

Ungkapan itu disampaikan Sapto Anggoro, Ketua Komisi Pendataan, Penelitian dan Ratifikasi Dewan Pers periode 2022-2025 saat memberikan komentar penerbitan Buku Antologi Puisi ke-7 karya komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas).

Bertajuk “Menulis dengan Nurani”, launching buku antologi puisi tersebut berlangsung Sabtu sore (15/2) di Fairway Nine Mall (ex Lenmarc Mall), Jl. Mayjend Joyo Sewoyo No.9 Pradah Kali Kendal, Surabaya.

Menurut Ketua Warumas, Kris Maryono, penerbitan buku antologi ini dimaksudkan untuk ikut memeriahkan peringatan Hari Pers Nasional 2025. Tema sengaja dipilih sebagai cermin kerja seorang wartawan yang kini berkarya di ranah sastra puisi tentang perlunya mengedepankan nurani dalam berkarya.

Ke depannya, Warumas tetap akan menerbitkan buku antologi puisi, khususnya setiap peringatan HPN, lanjut mantan wartawan RRI Surabaya tersebut.

Tidak beda dengan penerbitan sebelumnya, ada 12 penulis puisi yang tergabung dalam komunitas Warumas, walaupun dengan komposisi penulis yang berbeda.

Mereka adalah para wartawan senior berusia 50 sampai 70 tahun, dan sebagian masih aktif sebagai wartawan.

Ke-12 penulis tersebut antara lain : Achmad Pramudito, Amang Mawardi, Aming Aminoedhin, Arieyoko, Ida Noershanty Nicholas, Imung Mulyanto, Kris Maryono, Mudjianto, Riamah M. Douliat, Rokim Dakas, Sasetya Wilutama dan Toto Sonata.

Disamping itu ada 4 orang penulis tamu yang ikut menyertakan karya puisinya. Yakni, Dr Eko Pamuji (dosen & praktisi jurnalistik), Hariono Santoso (mantan Dirut TVRI), Nunung Harso (Ketua Ikatan Wanita Pelukis Indonesia) dan Suhartatik (guru & penulis buku).

Beberapa pejabat & tokoh masyarakat juga memberi kata pengantar dan sambutan, antara lain Kadis Kominfo Jatim Sherlita Ratna Dwi Agustin, S.Si, M.Ip, Ketua Dewan Pers, Sapto Anggoro, Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Dr Dhimam Abror Djunaid, Ketua PWI Jatim, Lutfil hakim, Bupati Magetan 2019-2024, Dr Suprawoto, Tokoh Pers Jawa Timur, M. Yousri Raja Agam dan CEO Dedurian Park, Yusron Aminulloh.

Juara Lomba Karya Puisi

Yang menarik, dalam penerbitan buku antologi puisi ke-7 ini, juga menampilkan karya para pemenang lomba menulis puisi untuk siswa SMP/SMA/SMK se Jawa Timur.

Lomba ini diadakan komunitas Warumas bekerja sama dengan iniSurabaya.com yang bertujuan untuk menggairahkan minat berliterasi khususnya karya puisi di kalangan remaja.

Diluar dugaan, jumlah peserta membludak. Ketiga juri, Arieyoko, Aming Aminoedhin dan Toto Sonata cukup kewalahan membaca satu persatu karya para peserta, sebab sebagian besar mempunyai kualitas yang sangat bagus.

Menurut ketua panitia lomba, Achmad Pramudito yang juga pemimpin redaksi iniSurabaya.com, dari 200 karya peserta, tersaring dengan perbedaan nilai yang tipis, sebanyak 5 karya pemenang.

Lima terbaik karya puisi tersebut, Jejak di atas Kertas karya Aliya Qurani Maridza M dari SMP Negeri 22 Surabaya, Di balikLayar Kelam karya Ardan Maulana Ardinata dari SMK Negeri 1 Pacitan, Jejak Abadi Sang Nurani karya Fabian Bima Attreza dari Mts Negeri 12 Banyuwangi, Jejak Pemuda di Tanah Merdeka karya Muhamad Arobi Maulana dari SMK Negeri 3 Bondowoso dan Ombak yang Merindu Dermaga karya Salsabila Naqiyyah dari SMA Negeri 2 Bojonegoro.

Kelima pemenang lomba membacakan karya puisinya dalam acara launching buku antologi tersebut.

Beberapa guru pembimbing ikut hadir. Bahkan Kepala Sekolah MTs Negeri 2 Banyuwangi, Uswatun Hasanah, S.Ag ikut pula membaca karya puisi anak didiknya.***poedji

Mantan Dirut TVRI Terbitkan Karya Novelnya

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS– Diam-diam mantan Direktur Utama LPP TVRI Pusat (periode 2008 – 2010), Hariono Santoso, menerbitkan novel.

Meski merupakan karya perdana, namun hasil karyanya tidak main-main,
terdiri dari 500 halaman, dan merupakan dua serial cerita (dwilogi), berjudul “Halimun Biru di Singosari dan Asmara Cempaka Gading”. Diterbitkan oleh Penerbit Meja Tamu Sidoarjo, Januari 2024.

Novel dwilogi ini berlatar belakang sejarah periode akhir kerajaan Singosari dibawah perintah Prabu Kertanegara pada tahun 1292 M serta awal Kerajaan Majapahit. Namun si penulis mengolah ceritanya dengan memasukkan unsur time traveler atau penjelajah waktu lewat tokoh utama bernama Arya Kumbara, seorang pemuda jaman now.

Pertemuan Arya dengan seorang gadis jelita bernama Sun Mi, yang hidup di masa akhir Singosari sangat menarik untuk disimak. Imajinasi pembaca diajak mengembara antara masa kini dan masa silam melalui Arya Kumbara, sang penjelajah waktu.

Menurut Imung Mulyanto, penyunting naskah, Hariono sangat piawai dalam membangun kontruksi dramatik. Peristiwa yang dibangun sangat dramatik dan penggambaran karakter tokoh utama juga detil. Konflik lahiriah dan batiniah yang dialami tokoh utama (protagonis) sambung menyambung dan konfliknya rasional. “Sangat menarik” ujar Imung.

Yang tak kalah menarik adalah proses kreatif mantan Dirut TVRI itu dalam menyelesaikan karya novelnya. Menurut Cak Ono, panggilan akrabnya, awal tahun 2022 adalah permulaan ia menulis logi pertama, yang ia tulis langsung di ponsel kemudian ia posting di status Facebook, sejak tanggal 2 sampai 23 Januari 2022, sebanyak 36 episode. Semula pekerjaan menulis itu hanya iseng, mengisi waktu saat pandemi Covid yang harus diam di rumah.

Ternyata setelah di upload di FB banyak komentar dari teman-teman yang menyambut baik karya novelnya. “Lalu saya minta tolong cucu saya untuk membantu mengumpulkan postingan di FB dan memindahkan ke dalam format Pdf. Dan cerita bersambung di FB itu saya beri judul Halimun Biru di Singosari” ujarnya.

Sedangkan di logi kedua, ia tulis tangan menggunakan pulpen di buku mulai bulan Juni 2022 selama sekitar dua bulan. Kemudian naskah di buku itu ia tulis ulang di ponsel sambil melakukan koreksi naskah disana-sini, dan baru selesai pada awal November 2022. Kemudian Cak Ono minta tolong lagi pada cucunya untuk memindahkan ke format Pdf di komputer.

“Saya tidak punya laptop dan termasuk gagap teknologi” ujar lulusan S2 Administrasi Publik Untag Surabaya ini.

Kedisiplinan dan motivasi yang kuat telah membuahkan karya Novel yang istimewa. Motivasinya makin kuat dan sedang bersiap untuk menulis sekuel kisah ketiga.

Kini arek Suroboyo ini menikmati masa pensiunnya di Surabaya bersama sang istri tercinta, Wati Hariono, yang telah memberinya dua orang anak dan dua orang cucu (satu cucu meninggal dunia). Waktu luangnya banyak diisi dengan membaca, menulis, mengurus tanaman, merawat koleksi barang-barang antiknya, wisata kuliner, atau jalan-jalan mencari tempat ngopi.

Sebelum bergabung dengan TVRI, sebenarnya Cak Ono, panggilan akrabnya, sudah menjadi jurnalis, sebagai koresponden “Selecta Group” terbitan Jakarta (1974-1975). Pada tahun 1975, bergabung dengan TVRI sebagai kameraman dan reporter. Setelah menjalani tugas di berbagai daerah, Tahun 2008 diangkat sebagai Direktur Utama LPP TVRI Pusat sampai pensiun tahun 2010.***poedji

Buku ‘Jualan Ka’bah dan Kisah-kisah yang Terserak’

JAYAKARTA NEWS— Setelah berproses lebih dari sembilan bulan, buku “Jualan Ka’bah, dan Kisah-kisah yang Terserak”, karya terkini Benny Benke akhirnya dirilis. Buku yang bisa didapatkan secara gratis, free atau percuma dalam format ibook itu, dirilis oleh SiPena iPerpusnas.

Atau dapat dibaca di laman https://press.perpusnas.go.id/ProdukDetail.aspx?id=965

lalu tinggal click view in fullscreen,  dan swiped /gesek untuk membaca halaman selanjutnya.

Buku setebal xxiv, 279 halaman; 17,6 x 25 cm, yang disain sampul atau covernya digambar dengan sangat puitis oleh Bakkar Wibowo itu, bernarasi tentang kisah perjalanan Benny Benke saat menjadi anggota Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Media Center Haji (MCH) 2023. Bersama ratusan kawan media seluruh Indonesia yang difasilitasi Kementrian Agama RI, selama 50 hari.

Benny yang bertugas di daerah kerja (Daker) Makkah mengisahkan pengalamannya bersentuhan langsung dengan persoalan penyelenggaraan ibadah haji tahunan.

Di kota Makkah, Madinah, Taif dan Jeddah kisah-kisah yang pernah mengitari dan terjadi di empat kota itu, oleh Benny dituliskan dalam tulisan yang mendalam.

Dari kisah tentang khotbah terakhir Nabi di Padang Arafah, Arafah yang ternyata nglangut di malam hari, Mina yang memesona, hingga Ka’bah yang subtil, sampai Madinah yang memerah, hingga Jeddah yang ‘wah’, dan Taif yang hanif ditulis Kepala Biro Jakarta HU Suara Merdeka, itu berdampingan dengan kisah tentang Gua Hira, dan orang-orang yang hilang dan “menolak” ditemukan di Tanah Suci.

Serta sejumlah cerita lainnya, yang bisa dijadikan teman pengantar tidur, bagi calon jamaah haji sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Makkah dan Madinah demi menunaikan ibadah haji atau umrah.

Memang tidak ada yang baru di bawah matahari dari tulisan Benny ini, tapi niat menulis dan mencatat peristiwa adalah upaya kemanusiaan yang patut dihormati. Manusia boleh datang dan pergi, sebagaimana sunnahatullah, tapi catatan perjalanan kehidupan sepatutnya tetap diabadikan. Untuk itulah menjadi penting buku yang ditulis Kepala Departemen Musik dan Film PWI Pusat  ini.

Benny Benke (kanan) bersama Menag Yakut Cholil Quomas (no 2 dari kanan). Foto bb

Apalagi menurut Menteri Agama RI H.Yagut Cholil Qoumas, buku ini ditimbang sangat pantas untuk dinikmati. “Secara ringkas, membaca buah pikir dan rasa Benny seperti mengeja dan membaca persoalan yang galib kita temui di sejumlah penyelenggara ibadah haji dengan segala dinamikanya. Namun disajikan dengan menarik, dan menyenangkan langsung dari orang pertama.

“Dengan keterampilan menulis yang baik, Benny tahu sekali bagaimana menuangkan pemikiran ke dalam kata-kata dengan apik dan laras, kemudian mengatur dan mengartikulasikannya dengan jelas dan tidak bias.

“Sehingga, siapa pun pembacanya, akan merasa dilibatkan dalam teks, lalu mendapatkan perspektif berbeda, sekaligus akan memperluas basis pengetahuannya. Sehingga—sekali lagi—semua yang dituliskan Benny di buku ini menjadi semacam “pengantar kecil” kepada siapa pun yang hendak pergi berhaji ke Tanah Suci.

“Karenanya, selamat bertamasya di halaman pengetahuan buku ini,” demikian tulis Gus Yaqut dalam kata pengantar buku ini.

Atau dalam bahasa H. Wibowo Prasetyo Staf Khusus Kemenag RI Bidang Media dan Komunikasi Publik, buku ini seperti taman bermain yang menyenangkan

“Sederhananya, membaca “Jualan Ka’bah, dan Kisah-kisah yang Terserak”, seperti memasuki taman bermain dengan panduan cara bermain yang mendalam dan komprehensif, sekaligus berani. Seperti bagaimana Benny kurang lebih menulis, Tuhan tidak melihat seberapa indah redaksi doa yang kita ucapkan, tetapi Tuhan melihat seberapa indah perlakuan yang membenarkan atas doa kita itu.

“Sebab itu, buku ini menjadi lebih dari layak untuk disimak lantaran Benny berhasil menghubungkan tulisannya dengan pembacanya. Sebagaimana dilakukan Khaled Hosseini, penulis Afghanistan-Amerika dengan karya “The Kite Runner” yang mengharukan itu, yang pernah mengatakan: Menulis adalah cara kita terhubung dengan orang lain, cara kita berbagi cerita kita”.

Sedangkan Ketua Umum PWI Pusat 2023-2028 Henry Ch Bangun menulis; “Via catatannya yang terserak di sejumlah tulisan di buku inilah, Benny secara tidak langsung sedang mempertajam pemikiran kritis pembacanya. Karena sebagaimana kita maklumi, tindakan mencatat dan melakukan refleksi, memaksa seseorang menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan membuat kesimpulan. Sebelum akhirnya, lahirlah tulisan yang baik ini.

“Karena dari hasil pencatatannya ini, memungkinkan kita, pembaca tulisannya menangkap ide-ide singkat, bertukar pikiran, dan sekaligus mengembangkan konsep yang sudah ada. Sekaligus melakukan komunikasi dengan pembaca tulisannya. Sambil berbagi dan mendiskusikan catatan akan mendorong kolaborasi, mendorong pertukaran pengetahuan, dan menyempurnakan ide.

“Dan yang paling utama, “melestarikan sejarah intelektual”. Karena, sebagai pewarta atau jurnalis yang lebih dari 20 tahun berkarya, catatan ini mempertegas kemampuan intelektualitas penulisnya. Karena, sekali lagi, catatan yang terpelihara dengan baik akan menjadi catatan berharga mengenai pemikiran individu dan kolektif. Sebelum memberikan wawasan tentang sebuah hal di masa lalu, dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

“Apalagi, membuat catatan, atau menulis dengan baik dan laras, sebagaimana ditunjukkan Benny dalam buku ini, bukanlah praktik yang bisa dilakukan semua orang. Setiap individu harus menemukan metode dan gaya kepenulisan yang paling sesuai untuk dirinya sendiri. Dan Benny Benke melakukannya dengan baik dengan gaya kepenulisannya yang mengalir di buku ini”.

Akhirnya, buku yang menurut si empunya penulis, “…hanya catatan ringan, ihwal bunga rampai pengalaman tak seberapa bahkan belum semenjana, selama mengikuti dan menjadi keluarga besar Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) 1444 H/ 2023.

“Catatan ringan selama 50 hari di Tanah Suci, mengikuti persiapan penyelenggaraan ibadah haji. Yang berisi catatan ringkas dan informal yang diniatkan untuk mencatat pemikiran atau ide secara cepat dan lekas.

“Daripada cerita yang ada di kepala berserakan begitu saja, dan sekedar menjadi bunga obrolan antarkawan seperibadah hajian, maka dirangkailah tulisan suka cita ini”, akan benar-benar sampai ke pembacanya.

Benny juga berharap, pada akhirnya, sebagaimana semua jenis karya lainnya, buku ini akan sampai ke pembacanya dengan caranya sendiri. Mempunyai nasibnya sendiri. Sehingga memberikan sedikit urun ilmu kepada pembacanya, syukur-syukur ada suluh di tulisan ini yang mampu memberikan pelita kepada pengasupnya. Dan siapa tahu, entah bagaimana caranya, nasib membawa pembacanya ‘hilang’ di tanah suci, seperti dirinya.

PLT Kepala Perpusnas RI Prof E. Aminudin Azis M.A, Ph.D berharap buku ini bukan sekedar mampu memberikan ajakan kepada masyarakat untuk menguatkan gerakan mencintai literasi digital. “Tapi juga sekaligus membangkitkan minat kepada generasi z untuk kembali membaca. Membaca apa saja, apalagi pengalaman peristiwa besar seperti ibadah haji dengan persoalannya,” katanya.

Dalam waktu dekat, buku ini juga akan bisa ditemui dan dibaca di iPusnas, masih milik iPerpusnas, Perpusnas Press, Anggota IKAPI. (pik)

15 Wanita Indonesia Tersenarai Dalam Buku “Contribution of Women in Global Islamic Economy”

KUALA LUMPUR, JAYAKARTA NEWS— Belasan wanita hebat dan menginspirasi Indonesia tersenarai dalam buku bergengsi “Contribution of Women in Global Islamic Economy” yang baru diluncurkan Sekjen Institut Standar dan Metrologi untuk negara-negara Islam (SMIIC), Organisasi Koorporasi Islam (OKI), Dr Ihsan Ovut di Turki, Jumat (4/3/).

Buku terbitan  lembaga pendidikan Islamic Economy Academy (Islamicea) ini memuat hampir 100 wanita-wanita seluruh dunia yang berkontribusi dalam pengembangan ekonomi halal. Kontribusi mereka dikelompokkan dalam beberapa kategori, seperti bidang pangan, kosmetik, kesehatan, sertifikasi, ekonomi Syariah, tokoh akademis, hingga Tokoh Kepemimpinan,

Pendiri perusahaan kosmetik terkenal PT Paragon yang memproduksi label terkenal Wardah,  Dr (HC) Dra Nurhayati Subakat tersenarai dalam Tokoh Kepemimpinan Ekonomi Islam.

Kontribusi Nurhayati dalam menjadikan kosmetik halal sebagai nadi pertumbuhan ekonomi telah banyak mendapat apresiasi bukan hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.

“Saya berharap Paragon  dapat berkontribusi nyata pada pertumbuhan ekonomi nasional dan global, dan juga pengembangan masyarakat,” ujar wanita alumni Institut Teknologi Bandung ini.

Selain Nurhayati, Vice President PT Paragon, Dr. Sari Chairunnisa juga turut tersenarai dalam buku ini. Dr spesialis penyakit kulit ini bertanggungjawab dalam Riset dan Pengembangan produk-produk baru PT Paragon.

Mantan auditor halal LPPOM MUI yang kini menjadi General Manager Lembaga Halal Muhammadiyah, Elvina Rahayu, peneliti dari Lembaga Riset Halal Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Nancy Dewi Yuliana, dan Manager Bank Indonesia, Rindawati Maulina,  juga termasuk dalam buku ini.

Wanita Diaspora Indonesia

Yang agak menarik adalah empat di antara wanita Indonesia yang turut tersenarai di atas berkarya dari luar Indonesia. Dr Widya Lestari dan Dr Betania Kartika, keduanya merupakan Associate Professor dan peneliti halal dari International Islamic University Malaysia.

Associate Prof Widya Lestari dan Dr. Fitri Octavianti/foto: istimewa

Dr Widya merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Gigi yang banyak melakukan riset mengenai bahan-bahan halal kedokteran gigi. Alumni Tokyo Medical and Dental Univeristy, Tokyo, ini juga sudah banyak menelorkan mahasiswa pasca sarjana dengan riset kedokteran gigi halal.

Sedangkan Dr Betania merupakan pakar bidang Syariah yang sangat aktif mengadakan pelatihan-pelatihan halal di berbagai negara.

Pakar orthodontik yang juga peneliti bidang halal, Dr Fitri Octavianti turut tersenarai dalam buku ini. Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara ini menyelesaikan program dokter spesialisnya di Universitas Padjajaran sebelum menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sains Islam Malaysia.

Sewaktu menjadi dosen inilah pakar braces asal  Bukittinggi ini aktif melakukan riset berkaitan sistem autentikasi komponen tidak halal. Kini Dr Fitri menjalankan klinik gigi sendiri di Kuala Lumpur disamping meneruskan hobi melakukan penelitian bidang halal dan menulis artikel ilmiah.

“Tantangan utama buat saya adalah kerja klinis di klinik sendiri dan melakukan riset halal adalah dua hal yang sangat berbeda. Saya harus pandai-pandai mengatur waktu,” ujarnya.

Satu lagi wanita diaspora Indonesia yang juga masuk dalam buku ini adalah Dr Rini Akmeliawati, yang kini menjadi seorang Associate Professor di Universitas Adelaide di Australia. Wanita asal Sumatera Barat ini dikenal sebagai  pakar sensor yang berhasil mengembangkan alat pendeteksi bahan tidak halal, seperti lemak dan protein babi serta alkohol.

Dalam bidang riset, Dr Rini kini ditunjuk menjadi Koordinator Pusat Penelitian Robotik dan Automasi, Universitas Adelaide. Nama-nama wanita Indonesia lainnya yang masuk dalam buku ini adalah Susi Susiatun dari Gerakan Wakaf Indonesia,  Dr Dety Mulyanti (ABPPTSI Jawa Barat), Candra Hendriyani (Akademi Sekretaris Taruna Bakti), Rina Novianty (Unpad), Siti Anah Kunyati (Universitas Langlang Buana) dan Prof Dr Mulyaningsih (Universitas Garut).***

UINSA Terbitkan Buku Madzhab Dakwah Wasthiyah

 
JAYAKARTA NEWS—- Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengapresiasi buku Madzhab Dakwah Wasthiyah Sunan Ampel yang diterbitkan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Surabaya. 

Menurut Emil, sapaan akrab Wagub Jatim, bahwa buku tersebut dapat menjadikan pemikiran dan referensi baru mengenai Keislaman Nusantara dan Wali Songo. Sebab, Keislaman di Indonesia tidak terlepas dari peran Wali Songo. 

‘Kami yakin impactnya luar biasa dengan adanya buku ini. Terdapat kearifan lokal di dalamnya untuk memperkenalkan Islam Nusantara,’ ujar Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat Launching Buku Madzhab Dakwah Wasthiyah Sunan Ampel, Daya Center, Penguatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Jumat (26/3/2021).


Dengan diterbitkannya buku tersebut, Emil berharap, masyarakat mendapatkan pencerahan tentang ajaran Islam yang mengarahkan untuk adil, seimbang, bermaslahat, dan proporsional dalam semua dimensi kehidupan. Sehingga, buku tersebut tidak hanya sebagai buku bacaan saja, tetapi sebagai tuntutan dalam kehidupan beragama.

Tidak hanya sebagai simbolis, namun ajaran Kanjeng Sunan Ampel mampu kita jaga, lestarikan, teruskan, dan kembangkan. Hingga kita betul-betul menjadi Islam yang moderat, toleran, inklusif, bisa menghargai, menghormati perbedaan-perbedaan di tengah keberagaman, kata mantan Bupati Trenggalek ini. 

Emil Dardak yakin, buku Madzhab Dakwah Wasthiyah Sunan Ampel telah melalui proses yang panjang untuk bisa diterbitkan. Baik melalui FGD dan diskusi dengan para mubaligh, ulama, guru besar, sejarahwan Islam dan lainnya.

Sementara itu, Menteri Agama RI H. Yaqut Cholil Qoumas mengajak Civitas Kampus UINSA Surabaya untuk ikut mencerahkan dan memberikan edukasi secara optimal. Apalagi di tengah menguatnya narasi ajaran agama yang masih banyak ditafsirkan sebagai alat politik atau alat kepentingan tertentu, ketimbang sebagai inspirasi. 

Karena itu, Kampus UINSA khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi harus memiliki upaya yang kuat dan sistematis untuk mengarahkan energi umat Islam ke arah yang lebih esensial. Sehingga, agama akan lebih kontributif terhadap peradaban. 

Launching Buku Madzhab Dakwah Wasthiyah Sunan Ampel, Daya Center, Penguatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam yang dilakukan oleh Menag RI tersebut merupakan rangkaian dari Peringatan 50 Tahun Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA.(poedji)

Buku ‘100 Orang Kuat Perfilman Indonesia’ Diluncurkan, Ada Nama Usmar Ismail, Ali Sadikin, Harmoko sampai Jero Wacik

JAYAKARTA NEWS—– Banyak buku tentang 100 orang kaya Indonesia, 100 orang berpengaruh Indonesia, 100 pengusaha tersukses, 100 wanita terkenal Indonesia dll. Tapi 100 orang kuat perfilman Indonesia? Rasanya baru kali ini, buku berjudul ‘100 Orang Kuat Perfilman Indonesia’ (100 Most Powerfull Person in Indonesian Film Industry) karya Akhlis Suryapati ini baru ditulis dan diterbitkan.

Diterbitkan oleh Sinematek Indonesia, buku setebal 454 halaman dibandrol dengan harga Rp250.000. Ihwal diksi orang kuat perfilman Indonesia, Akhlis mengartikan mereka yang terlacak memiliki kekuasaan dan pengaruh penting dalam riwayat perfilman Indonesia. Meski tentu saja riwayat perfilman Indonesia bukan hanya dihuni dan ditentukan oleh kuasa 100 orang kuat perfilman Indonesia.

“Saya menyusun ikhtisar 100 orang kuat perfilman Indonesia berdasarkan berbagai literatur, fakta dan informasi yang sebelumnya sudah jadi pekerjaan umum,” alasan Akhlis Suryapati, wartawan senior dan kini Ketua Sinematek Indonesia, dalam bincang-bincang dengan penulis di lantai 4 Sinematek Indonesia, PPHUI, Kuningan, Jakarta Pusat.

Dikatakannya, ditulisnya orang kuat perfilman Indonesia dengan latar belakang riwayat perfilman Indonesia. “Jadi, dalam buku ini sedikit beda dalam hal pembagian secara periodik dan istilah-istilah yang saya gunakan untuk menyebutkan periode-periode riwayat film nasional Indonesia,” jelas Akhlis yang pernah menyutradarai 2 film yaitu ‘Lari dari Blora’ dan ‘Enak Zamanku Tho’. Ada 9 periode riwayat film versi Akhlis yaitu periode penetrasi film Indonesia (1900-1920), periode pembuahan film RI (1920-1925), periode kehamilan film RI (1926-1949), periode kelahiran film RI (1950-1955), periode pancaroba film RI (1956-1966), periode euforia film RI (1967-1987), periode mati suri film RI (1988-1999), periode kebangkitan film RI (2000-2020) dan periode pandemi (2000-….).

Beberapa nama insan film (produser, sutradara, penulis skenario, aktor hingga pejabat yang mengurus kebijakan perfilman) ditulis kiprah dan rekam jejaknya dalam buku ini. Ada nama-nama seperti Usmar Ismail (orang pertama), Teguh Karya, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, The Teng Tjun, HB Naveen (orang ke 100), Mira Lesmana, Ali Sadikin, Ali Murtopo, Harmoko, Jero Wacik hingga nama-nama orang kuat perfilman RI yang berkekuatan ikonik seperti Roekiah, Fifi Young, WD Mokhtar, Tan Tjeng Bok, AN Alcaff dan Suzanna.

Di sisi lain, Akhlis juga memasukkan nama-nama orang kuat perfilman RI yang berhaluan ‘kiri’, ikut Lekra (onderbouwnya PKI) meski akhirnya tersingkir dari percaturan perfilman RI, seperti Bachtiar Siagian, Basuki Effendy dan Kotot Sukardi. Namun, Akhlis jujur tidak memasukkan nama-nama artis film yang dikategorikan ‘The Big Five’ (5 artis berhonor tertinggi) yaitu Jenny Rachman, Yattie Octavia, Tanty Yosepha (seharusnya yang benar : Doris Callebaut), Roy Marten dan Robby Sugara. “The Big Five kurang memiliki catatan teruji yang menunjukkan adanya ‘perbuatan’ dan ‘tindakan’ yang memiliki pengaruh dalam pusaran perfilman Indonesia pada masanya dan kemudian berpengaruh dalam jangka panjang,” imbuh Akhlis.

Bahkan, di halaman terakhir (Kata Penutup) ditambahkan 1 halaman tentang 25 nama orang-orang kuat perfilman yang tertinggal, diantaranya Ali Tien, Ilham Bintang, Soedewo, Sudiro, Umar Kayam, JB Kristanto dll. Memang, bukan hal mudah menyusun dan menulis buku tentang 100 orang kuat perfilman Indonesia. Berkali-kali Akhlis menulis dan dihapus, lalu pasang lagi. Berkas-berkas arsip, dan dokumen-dokumen dianalisis dan dibaca berulang-ulang.

“Jujur, pandangan saya tetap subyektif. Setiap zaman punya subyektifitas dan kontektualitasnya. Kalau orang lain mungkin punya nama-nama lain 100 orang kuat perfilman Indonesia,” papar Akhlis merendah. Meskipun demikian, keberanian dan ketelitian Akhlis mrnulis buku ini patut diberi punten dan dihargai. “Saya mulai pekerjaan ini dengan mengucapkan Bismillah dan menyelesaikan pekerjaan dengan Alhamdullilah,” demikian pungkas Akhlis Suryapati. (pik)

Fadli Zon: Sejarah Indonesia Perlu Ditulis Ulang

Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI–foto dpr.go.id

JAYAKARTA NEWS— Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun. Sudah saatnya kita memikirkan kembali untuk menulis ulang sejarah Indonesia (rewriting history) yang selama ini dipengaruhi Belanda.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon saat menghadiri Bedah Buku, Indonesia Tidak Pernah Dijajah, karya Batara R Hutagalung di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta. Demikian  dikutip dari dpr.go.id 

Lewat buku ini, kata Fadli, Batara dengan berani ingin meluruskan sejarah dan fakta-fakta yang selama ini dipercayai oleh Bangsa Indonesia dan juga dunia bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. 

“Buku ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah’ sangat tepat diluncurkan setelah perayaan HUT RI ke-74. Sehingga dapat mengigatkan masyarakat pada sejarah, apakah benar Indonesia terjajah. Karena yang dijajah waktu itu adalah kesultanan-kesultanan, belum menjadi Indonesia. Kalaupun kita dijajah jangan-jangan sekarang kita dijajah,” jelasnya. 

Fadli mengaku, mengenal Batara sejak 20 tahun lalu. Batara punya fokus pada sejarah Indonesia dan terus memperjuangkan utang kehormatan Belanda sebagai Ketua Umum Komite Utang Kehormatan Belanda (KUB), karena Belanda memiliki banyak utang atas pelanggaran-pelanggaran  HAM yang dilakukan di masa lampau. Bahkan, sampai saat ini, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure, yakni 17 Agustus 1945. Belanda hanya mengakui secara de facto.

“Dan meski sudah puluhan tahun berlalu, hal ini menjadi PR untuk terus diperjuangkan,” imbuhnya. Fadli percaya bahwa buku ini lahir secara organik dari penelitian Batara, karena seorang sejarawan sejati tidak hanya membaca buku intelektual mainstream, tetapi juga harus mengasah pisaunya sendiri untuk benar-benar menguak sejarah.

“Pak Batara juga seorang sejarawan yang aktif. Bukan tipe yang berdiri di menara gading. Dia mengungkapkan bagaimana perjalanan bangsa menentukan positioning kita lewat sejarah,” ucap Fadli. Peluncuran itu pun dihadiri oleh sejarahwan senio Taufik Abdulah, Makarin Wibison, dan Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar Marthen Napang.***/dpr/ebn

The Brave Lady Megawati Soekarnoputri

Megawati menerima buku “The Brave Lady” dari editor buku Rokhmin Dahuri dan Kristin Samah. Buku ini merupakan penuturan para Menteri Kabinet Gotong Royong tentang kepemimpinan Megawati dalam membawa Indonesia lepas dari krisis multi demensional.

 

MEGAWATI Soekarnoputri, presiden kelima Indonesia, tanggal 23 Januari 2019, genap 72 tahun. Kado khusus kali ini buat Mbak Mega adalah terbitnya buku  “The Brave Lady, Magawati dalam Catatan Kabinet Gotong Royong“.

Megawati mengaku, mengenai penerbitan buku ini, bukan inisiatif dirinya. “Tapi Kristin selalu bilang, ayo Bu, Ibu ini kan unik. Jadi harus nulis. Saya bantu. Pokoknya ibu cerita saja saya dengerin dan catat. Masalahnya, kalau cerita, itu lebih banyak dukanya ketimbang senangnya,” ujar  “Nanti saya malah banyak mengeluarkan air mata,” tambahnya.

Tapi Rokhmin Dahuri, salah satu anggota kabinet di pemerintahan Megawati, bersama Kristin kemudian berpikir, alangkah baiknya para menteri di kabinet Mbak Mega bercerita tentang apa yang dirasakan dan dialami dalam kepemimpinan putri Bung Karno ini.

Begitulah, akhirnya buku tersebut dapat terbit saat Mbak Mega Ultah.  “Memang belum semua menteri bisa berpartisipasi. Insya Allah dalam edisi revisi dapat ditambahkan,” kata Rokhmin saat menyerahkan buku hasil garapannya bersama Kristin.

Dalam pandangan para menterinya, Megawati merupakan sosok pemimpin yang berani. Tetapi, dalam human relation juga sangat humanis. Kabinet Gotong Royong itu seperti sebuah keluarga.

“Kita jangan pisah ya Bu,” kata Mbak Mega menirukan permohonan beberapa Ibu-ibu istri menteri di kabinetnya setelah kabinet usai tugas. Mereka tetap ingin sering berkumpul dengan Mbak Mega. Maka, Mbak Mega pun membuat Paguyuban Nusantara, yang di antaranya merupakan acara arisan dua bulanan para anggota Kabinet Gotong Royong.

Tidak terhindarkan memang, kalau ketemuan di antaranya ada yang ‘ngerumpi’ soal politik dan kondisi terakhir. Tetapi Mbak Mega selalu bilang, membicarakannya tidak mengapa, tetapi tidak perlu keluar. “Karena ini bukan pemerintahan kita lagi,” ujarnya. ***

Fahmi Hendrawan Luncurkan Buku “Sedekah Inspirasi”

Fahmi Hendrawan dikenal sebagai seorang pengusaha fesyen dan CEO Fatih Indonesia, sebuah merek baju muslim pria modern. Perjalanannya mencapai tahap seperti sekarang tidaklah mudah. Diawali dengan keputusannya mengundurkan diri dari jabatan sebagai manajer bank swasta, ditipu hingga ratusan juta pernah dialami oleh Fahmi.
Kehidupan Fahmi semasa mengenyam pendidikan juga tidak gampang. Ia pernah hampir putus sekolah karena tidak memiliki biaya. Namun karena tekad dan niat yang kuat, Fahmi bisa menyelesaikan bahkan kini ia sudah mendapat gelar S2.
Melalui “Sedekah Inspirasi”, Fahmi bercerita tentang proses jatuh bangun hidupnya dari berbagai aspek. Ia juga menuliskan tentang pengalaman spiritual yang kemudian membawanya pada bisnis busana muslim untuk pria.
“Buku ini bukan untuk sombong tapi untuk menginspirasi. Saya ingin buku ini menjadi amal jariyah buat mereka yang membacanya. Untuk itulah kenapa namanya sedekah, karena sedekah tidak hanya berupa uang. Apa pun yang kita punya bagikan, karena kita enggak tahu cerita mana yang bisa kita bagikan,” kata Fahmi dalam peluncuran buku “Sedekah Inspirasi” di Jakarta, Sabtu.
Buku ini juga tidak hanya bercerita tentang passion Fahmi. Ia juga memberikan tips untuk memulai dan menjalankan wirausaha.
Buku yang diterbitkan oleh Roda Publikasi Kreasi ini dijual dengan harga Rp99 ribu dan hasil penjualannya akan diwakafkan untuk pembangunan masjid Al Fatih yang merupakan pesantren tahfiz dan pendidikan Da’i Institut Cinta Quran Centre yang dipimpin oleh ustaz Fatih Karim. (pik)

Natasha Dematra Luncurkan Buku Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone

Visions of Peace Awards, yang menfasilitasi generasi muda untuk menyuarakan perdamaian toleransi melalui cara kreatif, bekerja sama dengan Menara62.com, mengadakan Workshop dan Peluncuran  Buku ‘Bikin Film Itu Gampang’ Edisi Smartphone terbitan Bhuana Ilmu Populer (BIP) dari Grup Gramedia, karya Natasha Dematra. Acara ini diadakan di PP Muhammadiyah, di daerah Menteng, Jakarta. Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone sendiri merupakan buku yang mengajarkan dasar-dasar pembuatan film menggunakan smartphone.

“Dengan terbitnya buku ini, saya harap dapat menjadi inspirasi buat seluruh generasi terutama yang haus akan ilmu membuat film. Buku ini saya harap dapat menjadi ‘jembatan’ generasi muda untuk menyuarakan keresahan batin mereka akan perdamaian dan toleransi yang kian surut kita lihat di zaman sekarang ini. Buku ini menandai bahwa kemajuan teknologi dapat digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk sesama.” ucap gadis berusia 20 tahun tersebut.

Natasha Dematra sendiri, ketika berumur 11 tahun, merupakan peraih rekor dunia MURI dan Royal World Records sebagai Sutradara Perempuan Termuda di Dunia Untuk Film Panjang. Ia juga telah menerima lebih dari 150 penghargaan internasional dan nasional dalam berbagai bidang seperti; Sutradara Pendatang Baru Terbaik dari American Movie Awards, Aktris Terbaik dari Accolade Global Competition, Humanitarian Award dan lain-lain.

Natasha Dematra

Menara62.com mengadakan workshop dan peluncuran buku ini dalam rangka Milad Muhammadiyah yang jatuh pada tanggal 18 November yang ke-109 H / 106 M, juga menjelang Milad Menara62.com yang ke 2 pada tanggal 23 Desember.

Buku ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (BIP) dari Grup Gramedia. Editor in Chief BIP Deesis Edith Mesiani mengungkapkan, “Penulis buku ini, Natasha, adalah salah satu contoh sineas muda yg berprestasi di kancah nasional maupun internasional. Semoga dengan diterbitkan buku ini akan muncul lebih banyak sineas-sineas, sutradara-sutradara, produser-produser muda yang menghasilkan karya-karya film yang berkualitas karena kini saatnya yg muda untuk tampil dan berkreasi. Dengan demikian perfilman indonesia akan bangkit dan menghasilkan film2 indonesia berkualitas yg tak kalah dengan film luar.”

Visions of Peace Awards adalah ajang pemberian penghargaan yang merupakan sebuah  hasil kerja sama antara Amerika dan Indonesia. Festival ini berfokus kepada generasi muda khususnya umur 6-18 tahun. Festival ini memiliki misi untuk menggunakan cara-cara kreatif seperti film dan cara kreatif lainnya untuk mempromosikan misi perdamaian dan toleransi khususnya di kalangan generasi muda. Salah satu Pendiri Visions of Peace, Budayawan Damien Dematra menegaskan, “bagi institusi dan sekolah-sekolah yang ingin diadakan lomba kreatif untuk perdamaian dan pelatihan pembuatan film seperti ini dapat menghubungi partner kami, Menara 62.Com”.

Lebih dari seratus peserta dari berbagai sekolah dan universitas di Jakarta mengikuti pelatihan dan peluncuran buku tersebut. Kegiatan ini ditutup dengan aksi solidaritas pengumpulan dana untuk Sulawesi Tengah sebagai tanda kepeduliaan bagi sesama anak bangsa yang sedang dilanda bencana. Bahkan sebagian keuntungan dari penjualan buku ini akan disumbang Natasha untuk korban bencana Palu. Visions of Peace akan langsung membawa sumbangan tersebut ke Palu dalam waktu dekat.

Natasha Dematra: Visions of Peace Awards, sebuah lembaga yang memfasilitasi generasi muda untuk menyuarakan perdamaian toleransi melalui cara kreatif, bekerjasama dengan Menara62.com menggelar Workshop dan Peluncuran Buku ‘Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone’, terbitan Bhuana Ilmu Populer (BIP) dari Grup Gramedia, karya Natasha Dematra, Minggu (7/10). Kegiatan yang digelar di aula Ahmad Dahlan, Gedung PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat tersebut diikuti siswa SMP, siswa SMA, mahasiswa, guru, aktivis kemanusiaan dan pekerja seni serta media.

Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone merupakan buku yang mengajarkan dasar-dasar pembuatan film menggunakan smartphone. Disusun dengan mekanisme dan bahasa yang sederhana, buku ini menjadi panduan mudah bagi para pemula untuk membuat film sendiri, hanya berbekal smartphone di genggaman.

Sutradara Natasha Dematra saat berbicara pada worshop pembuatan film di Kantor PP Muhammadiyah Menteng Jakpus.

“Banyak orang membayangkan untuk membuat sebuah film itu rumit, repot, dan berbiaya mahal. Properti dan alat-alat yang diperlukan pun mahal,” kata Natasha mengawali paparannya.

Padahal membuat film itu mudah. Dengan kecanggihan teknologi, Natasha mengatakan membuat film menjadi semudah foto selfie, atau membuat video-video amatiran. Kuncinya hanya pada teknik pengambilan gambar, pemilihan tema atau cerita, ketepatan mengambil lokasi dengan cerita yang ingin disampaikan serta proses editing yang akan membuat cerita menjadi lebih hidup.

“Jangan berpikir tentang kamera film yang harganya mahal, properti dan artis yang sulit. Lakukan dengan sumber daya yang ada di sekitar kita, dengan smartphone,” jelasnya.

Ia mencontohkan, dalam hal lighting atau tata pencahayaan. Membuat film membutuhkan lampu dengan kekuatan sinar yang tinggi dan terang benderang untuk hasil film yang maksimal. Tetapi ketika masih berpatokan pada pencahayaan lampu yang mahal, maka film tidak akan pernah lahir dari tangan-tangan kita.

“Lakukan dengan sumber pencahayaan yang ada. Bisa gunakan lampu sepeda motor, mobil dan senter. Juga sumber cahaya lainnya,” tukas Natasha.

Dalam buku setebal 134 halaman tersebut Natasha memberikan panduan tentang proses pembuatan film mulai dari persiapan, penentuan obyek, pengambilan gambar hingga editing dan siap tayang. Dengan panduan yang sederhana tersebut, siapapun bisa membuat film. Obyek apapun bisa dibuat difilm dengan hasil yang memuaskan.

“Gunakan pikiran kita, jangan terfokus pada film fiksi. Kita bisa membuat film dokumenter bahkan berita. Ada banyak obyek di sekitar kita,” katanya.

Dengan terbitnya buku Membuat Film Itu Gampang Edisi Smartphone, Natasha berharap dapat menjadi sumber inpsirasi bagi generasi muda terutama yang haus akan ilmu pembuatan film.

“Buku ini saya harap menjadi jembatan generasi muda untuk menyuarakan keresahan batin mereka akan perdamaian dan toleransi yang makin surut di zaman sekarang ini. Buku ini sekaligus menandai bahwa kemajuan teknologi dapat digunakan untuk hal yang bermanfaat bagi sesama,” tegas Natasha.

Natasha Dematra sendiri, ketika berusia 11 tahun merupakan peraih rekor dunia MURI dan Royal World Records sebagai sutradara perempuan termuda di dunia untuk film panjang. Ia juga telah menerima lebih dari 150 penghargaan internasional dan nasional dalam berbagai bidang seperti sutradara pendatang baru terbaik dari American Movie Awards, Aktris Terbaik dari Accolade Global Competition Humanitarian Award dan lain-lain.

Natasha Dematra usai meluncurkan buku Bikin Film Itu Gampang Edisi Smartphone

Sementara itu Pimpinan Redaksi Menara62.com, Imam Prihardiyoko mengatakan workshop tentang pembuatan film menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan Menara62.com untuk mengedukasi generasi muda bagaimana memanfaatkan smartphone dengan baik.

“Ada banyak peluang di sekitar kita dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini. Salah satunya adalah peluang membuat film,” jelasnya.

Dahulu, orang berpikir membuat film itu hanya bisa dilakukan oleh sutradara, produser dan artis-artis papan atas dengan properti yang mahal. Tetapi saat ini siapapun bisa terjun menjadi sutradara, produser sekaligus artis film.

“Pegang smartphone di tangan, berjalanlah, lihat sekitar dan mulailah membuat film,” katanya.

Visions of Peace Awards adalah ajang pemberian penghargaan yang merupakan sebuah hasil kerjasama antara Amerika dan Indonesia. Festival ini berfokus pada generasi muda khususnya umur 6-18 tahun.

Damien Dematra, salah satu pendiri Visions of Peace menuturkan festival ini memiliki misi untuk menggunakan cara-cara kreatif seperti film dan cara kreatif lainnya untuk mempromosikan perdamaian dan toleransi khususnya dikalangan generasi muda.

“Bagi institusi atau sekolah yang ingin mengadakan lomba kreatif untuk perdamaian dan pelatihan pembuatan film dapat menghubungi partner kami Menara62.com,” tutup Damien. (pik)