Begini Cara Menenun Ulos

 Begini Cara Menenun Ulos
Penenun ulos batak, Junita Simanungkalit perwakilan dari Museum TB. Silalahi, saat menenun ulos hande-hande di acara Festival Museum di Museum Negeri Provsu. (Foto.:Monang Sitohang)

Jayakarta News – Jalan-jalan ke museum tentunya seru. Mengapa? Karena museum itu tempat menyimpan benda-benda peninggalan sejarah, yang bisa menambah pengetahuan, hingga bisa dikatakan museum itu gudangnya ilmu. Apa lagi hari ini Rabu, 23 – 25 Oktober Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara atau dikenal dengan Gedung Arca yang berada di Jalan H.M. Jhoni No. 15, Kecamatan Medan Kota ini sedang menyelenggarakan acara Festival Museum. Tentunya makin menarik karena banyak stand dari berbagai museum.

Event itu sendiri dibuka kemarin oleh Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi. Suasana pagi itu pun tampak ramai pengunjung, anak sekolah dan umum. Tentunya kedatangan mereka tak lain ingin menyaksikan beberapa stand yang turut mengisi acara festival tersebut.

Tundalan salah satu alat manual untuk membuat ulos, yang terbuat dari kayu nangka untuk menahan pinggang dan sandaran pinggul saat bertenun.
(Foto. Ist)

Pantauan Jayakarta News saat itu mulai dari pintu gerbang masuk dan keluar dari sisi kiri, kanan di pelataran museum sudah banyak berdiri tenda warna putih dengan ukuran 3×3 disusun rapi dengan barang-barang atau benda yang akan dipamerkan. Di antaranya, Museum Perjuangan TNI, TB. Silalahi, Perkebunan Indonesia, Gallery Rahmadsyah, Pahlawan Nasional Letjen. Jamin Ginting, dan lainnya.

Di antara beberapa stand terlihat wanita muda sedang duduk dengan posisi kaki lurus tangan memegang dan menggoyang-goyangkan peralatan dari kayu yang ada benang berwana hitam dan biru. Ternyata wanita itu Junita Simanungkalit sedang mempertunjukkan cara menenun ulos batak, kain tradisional asal Sumut, beserta kedua temannya yaitu Manager Ika Nainggolan dan Stevani Silalahi, perwakilan dari Museum TB Silalahi yang berada di Jl. Pagar Batu No. 88, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara.

Turak merupakan salah satu alat dari pembuatan ulos yang bahannya dibuat dari bambu dipakai untuk menghantar benang sirat kain tenunan. (Foto Ist)

Atraksi mereka menarik perhatian pengunjung. Satu per satu anak-anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu berswafoto. Bahkan salah seorang wisatawan mancanegara dari Siberia bersama istri yang asli orang Indonesia dan anaknya, sempat singgah melihat dan memperhatikan.

Selain itu juga di stand museum TB. Silalahi menyediakan beberapa aksesoris, seperti ulos, stola, tas motif ulos, gelang tangan tenun sirat, gantungan kunci dan lainnya hasil kerajinan tangan daerah Tarutung. Di samping ada beberapa buku karya TB. Silalahi.

Di sela-sela waktu senggang siang itu Junita Simanungkalit selaku penenun menjelaskan cara proses pembuatan ulos dan peralatannya. “Seperti saat ini yang saya buat ulos hande-hande asal Kabupaten Tarutung. Pembuatan ulos bahan dasarnya dari benang putar, karena benang yang dibeli itu masih lembut maka syaratnya harus dikeraskan terlebih dahulu biar bisa ditenun. Sebab kalau masih dalam keadaan lembut, gampang putus. Untuk mengeraskan, benang tadi dicelup ke tepung kanji lalu dijemur,”  ujarnya.

Nah, setelah keras, lalu dikelos (digulung) istilah dalam martenun. Lalu ada alat yang disebut mangane hanya alatnya tidak ada di sini. Terus dianian, alat ini bahan dari kayu jion dan pakko, digunakan untuk merakit benang sebelum ditenun. Benang dibagi seperti ulos hande-hande yang sedang ditenun ini, dengan posisi pinggir kiri benang warna hitam jumlahnya 20 baris, lalu warna biru rilisnya empat atau enam baris, kemudian 120 baris, lalu dua labean (ikat), begitu  juga sama sampai sisi kanan dengan jumlahnya harus rata dari kiri ke kanan.

“Setelah itu manotar atau merapikan benang karena bentuk benang kan masih keadaan tergulung-tergulung, terus mamotif,” ujar wanita alumni dari Universitas Sisingamangaraja Tapanuli, Jurusan Ekonomi Manajemen.

Para karyawan Museum TB. Silalahi Centre. (Foto. Ist)

Kemudian Junita menunjukkan beberapa alat pembuat ulos antara lain, kelosan sebagai penggulung benang, tundalan untuk menahan pinggang bahan dari kayu nangka dipakai untuk sandaran pinggul saat bertenun. Ada lagi hapit untuk menjepit benang, baliga terbuat dari pelepah daun enau (hodong) untuk menyatukan atau merapatkan benang tenun.

Ornamen lain, pargiunan menahan benangnya dan membagi, lili/lidi terbuat dari ruyung untuk mengatur corak warna kain tenunan untuk motif kalau untuk menenun ulos hande-hande dan lilinya ada empat. “Hatulungan terbuat dari kayu untuk membagi benangnya. Dalam menenun posisi kaki penahan harus pas begitu juga posisi duduk. Ukuran juga harus pas karena kalau tidak, hasilnya tidak lurus,” ungkapnya

Perlengkapan tenun lain disebut sokkar terbuat dari kulit hodong (ruyung). Kedua ujungnya dibuat runcing, digunakan untuk menegangkan benang guna mengatur pola tenunan. Lalu ada yang dinamakan hasoli dibuat dari lidi, digunakan untuk gulungan benang sirat di dalam turak. Ada pula hapulotan terbuat dari kayu, fungsinya untuk mengatur benang tenun supaya tidak simpang siur, balobas/penggaris. Lalu turak, dibuat dari bambu dipakai untuk menghantar benang sirat kain tenunan. Terakhir, tandean dan kuda. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *