Bayu Seno: Orang Bilang Saya ‘Gila’ Tinggalkan Bisnis Demi Jadi Pelukis

 Bayu Seno: Orang Bilang Saya ‘Gila’ Tinggalkan Bisnis Demi Jadi Pelukis

Bayu Seno

Bayu Seno

Hidup adalah pilihan. Begitu kalimat yang kerap kita dengar. Apapun yang kita pilih pastilah sudah melalui pertimbangan matang. Itu juga yang dilakukan Bayu Seno, seorang pengusaha advertising yang nekad meninggalkan bisnisnya demi menjadi pelukis. Lingkungan dekatnya, keluarga maupun teman hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar keputusan Bayu. Mereka hanya bisa bilang “Gila kamu!” tanpa mampu mencegah apalagi mengubah keputusan yang sudah bulat itu.

Tak heran mereka menyebutnya ‘gila’. Pasalnya, bisnis advertising yang ditinggalkannya tengah berkembang bagus. Tapi Bayu, meski dicemooh orang, mengaku, sangat yakin dengan keputusannya. Dia yakin lukisan mampu menghidupinya. Nyatanya dikemudian hari keyakinannya itu terbukti. Kini Bayu Seno menjadi pengusaha digital painting yang sukses.

”Hahah..iya, tidak ada yang memahami keputusan saya waktu itu. Saya punya bisnis advertising dan  event organizer, semua saya tinggalkan dan memilih menjadi pelukis. Orang-orang dekat saya bilang saya ‘gila’. Saya sulit meyakinkan mereka tentang pilihan saya ini. Mereka menganggap melukis tidak bisa menghidupi, tidak bisa dijadikan mata pencarian utama.”

“Pandangan berbeda, jadi sulit meyakinkan. Masing-masing memiliki argumen pembenaran sendiri-sendiri. Ya sudah, saya lebih baik tertawa saja,” papar Bayu bercerita tentang reaksi awal lingkungan dekatnya termasuk teman-temannya ketika dia memutuskan menjadi pelukis.

Menurut Bayu, keinginannya berkarya lewat melukis lebih besar, karena itu dia meninggalkan  semua bisnisnya.  Dengan begitu dia s memiliki banyak waktu untuk menekuni dunia melukis. Tak banyak, kata Bayu,   yang bisa memahami keputusannya itu. Termasuk ayahnya yang  tidak setuju melihat anak ke delapan dari 10 bersaudara itu menjadi pelukis.

Karya-karya Bayu Seno dipamerkan di stan Kabupaten Kediri pada Inacraft 2018

“Tentu saja ayah saya tidak setuju. Apalagi  waktu itu saya juga sudah memiliki pekerjaan. Dari 10 bersaudara, hanya saya sendiri yang jadi seniman,” tutur Bayu sambil tertawa. “Hanya ibu saya yang justru mendukung saya penuh,” tambah lelaki asal Kediri, Jawa Timur, ini.

Dengan kondisi demikian, katanya, justru menjadi tantangan tersendiri baginya untuk membuktikan bahwa pilihannya tidak salah. Profesi pelukis yang masih dipandang sebelah mata, justru menjadi motivasi baginya untuk berkarya sebaik mungkin. “Saya merintisnya dari bawah. Termasuk membuka kios di kaki lima. Saya jalani, kerja keras dan terus semangat,” ujarnya.

Dan nyatanya, lanjut Bayu, dirinya bisa membuktikan bahwa melukis bisa menghidupi dirinya. “Step by step akhirnya saya bisa membuktikan bahwa keyakinan saya tidak salah,” tambahnya.

Seperti kata orang bijak, kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Perlahan tapi pasti bisnis lukisan kecil-kecilan yang dirintisnya berkembang  bahkan kemudian secara tak sengaja dia menemukan sebuah ide tentang berkreasi seni dengan menggunakan komputer.

“Saya memulainya sekitar tahun 2008, itupun  tak sengaja saya menemukan lewat program photoshop, smoothing painting. Tahun 2012 saya mulai komersial. Waktu itu orang melecehkan saya. Mereka bilang, mana ada yang mau beli, mau jual kemana? Itu kan printing, begitu kata mereka. Tapi keraguan mereka saya jawab dengan kerja keras, dan berhasil,” ungkapnya.

Dibanding hasil melukis, kata Bayu, dari sisi bisnis justru digital painting lebih banyak menghasilkan uang.  Produknya laris manis karena harganya jauh lebih murah dibanding lukisan. Meski murah, untuk orang awam, digital painting tampak seperti lukisan. “Saya tidak menyebut produk ini sebagai lukisan. Bagi saya haram menyebutnya sebagai lukisan. Ini bukan lukisan meski sepintas terlihat seperti lukisan. Saya sebut ini sebagai ‘look painting’,” kata Bayu.

Sekitar delapan tahun lalu masih jarang orang berbisnis di bidang  ini. Persaingan pun sangat sedikit sekali. Karenanya bisnis Bayu berkembang cepat. Dari sisi pengerjaan, kata Bayu, relatif lebih mudah dibanding melukis.

“Untuk orang yang berpengalaman, hanya dalam dua jam bisa menghasilkan satu karya. Bandingkan dengan melukis yang membutuhkan waktu berhari-hari dan harus menjalani proses yang panjang,” jelas Bayu yang produknya sudah tersebar ke seluruh Indonesia termasuk Bali. Saat ini, kata Bayu, dari bisnis digital painting dia bisa  meraup Rp200 juta per bulan.

Jadi, tandas Bayu, bisnis yang dulunya dilecehkan orang, bukan hanya bisa menguntungkan dari segi financial tapi juga memberi tambahan lapangan pekerjaan bagi yang lain. “Banyak yang tertarik mengerjakan ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Orderan banyak dan mereka membantu mengerjakan,” ujar Bayu yang giat mengadakan workshop  khususnya di sekolah-sekolah.***tkh

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *