Connect with us

Kabar

Kota yang Lebih Dikenal di Kejauhan

Published

on

Rekam Jejak Pandangan Asing atas Malang dari Masa Kolonial sampai Era Media Sosial

Oleh : Heri Mulyono

Sebelum orang Malang sendiri menyadari keindahan kotanya, mata-mata asing sudah lebih dulu terpesona — mencatat setiap lekuk pegunungan, kesejukan udara, dan keanggunan peradaban yang tumbuh di lembah antara Arjuno, Semeru, dan Kawi.

Malang bukan kota yang mengejar perhatian. Ia tidak berdiri di tepi laut seperti Batavia, tidak menyimpan istana sultan seperti Yogyakarta, tidak pula memancarkan pesona eksotis Bali yang telah lebih dulu menggoda imajinasi dunia. Tapi justru kesunyian itulah yang membuatnya membekas lama dalam ingatan siapa pun yang pernah singgah — terutama mereka yang datang dari belahan bumi lain, dengan mata yang belum terbiasa pada hijau gunung, wangi tanah basah, dan udara yang seperti dihisap langsung dari ketinggian.

Selama lebih dari tiga abad, orang-orang asing itu datang silih berganti. Ada yang membawa senjata dan kuasa, ada yang membawa kuas dan buku catatan, ada pula yang hanya membawa ransel dan rasa ingin tahu. Masing-masing meninggalkan jejak pandangannya — sebagian berbentuk laporan resmi, sebagian menjadi buku, sebagian kini tersebar di halaman blog dan ulasan perjalanan daring. Dan jika semua catatan itu dikumpulkan menjadi satu, akan terbentuklah sebuah potret kota yang jarang disadari oleh penghuninya sendiri.

Daendels dan Catatan Awal tentang Tanah Dingin di Pedalaman

Adalah Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808–1811), yang dalam surat-suratnya menyebut wilayah pedalaman Jawa Timur — termasuk dataran tinggi di sekitar Malang — sebagai “tanah yang berpotensi besar namun belum tersentuh akal administrasi.” Baginya, yang sedang membangun jalan pos dari Anyer ke Panarukan, Malang adalah titik yang jauh, terpencil, dan masih liar. Namun ia pun mencatat satu hal yang akan terus berulang dalam tulisan orang asing selama berabad-abad sesudahnya: udara di dataran tinggi ini luar biasa segar, bahkan menyehatkan.

Catatan lebih terperinci datang dari Nicolaas Engelhard, mantan Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, yang pada awal abad ke-19 mendokumentasikan kondisi alam dan sosial di berbagai wilayah Jawa. Dalam pengamatannya, wilayah Malang digambarkan sebagai kawasan yang kaya — sawah yang subur, hutan yang rapat, dan penduduk yang hidup dalam tatanan adat yang tertib. Engelhard, seperti banyak pejabat Belanda sebelumnya, terpesona pada kontras antara keindahan alam dan ketertinggalan infrastruktur. “Di sinilah Jawa sebenarnya masih bisa ditemukan,” tulis semacam nada kagum yang kerap muncul dalam catatan-catatan era itu.

Ketika pemerintah kolonial semakin mengukuhkan kendalinya atas Malang pada pertengahan abad ke-19, mulailah berdatangan para pengukur tanah, pegawai kadaster, dan pastor-pastor Jesuit yang membuka sekolah dan rumah sakit. Di antara mereka, muncullah nama-nama yang kelak menulis tentang Malang dengan kecintaan yang tulus — bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai pemerhati yang kagum.

Hermann von Faber: Penulis yang Mencintai Malang Lebih dari Kotanya Sendiri

Tidak ada nama yang lebih lekat dengan sejarah tertulis Malang dari masa kolonial selain Hermann von Faber. Pria kelahiran Jerman yang menetap di Malang pada awal abad ke-20 ini menulis Oud Malang (1931), sebuah buku yang hingga kini masih menjadi referensi utama sejarah kota. Von Faber bukan sekadar mencatat — ia menulis dengan rasa cinta yang nyaris tak tersembunyi.

Dalam Oud Malang, Von Faber menggambarkan Malang sebagai kota yang tumbuh dengan rancangan. Taman-taman kota yang tertata, jalan-jalan yang lebar dan berbayang, serta bangunan-bangunan bergaya Eropa yang berdiri di samping rumah-rumah Jawa — semuanya ia tulis dengan kekaguman seorang pengamat yang menemukan keindahan tak terduga di ujung jalan tanah merah. “Malang adalah kota taman sejati,” tulisnya, sebuah frasa yang kemudian menjadi semacam identitas yang terus dipertahankan hingga hari ini — meski kenyataannya kini semakin jauh dari gambaran aslinya.

Namun Von Faber juga menyimpan kekhawatiran. Ia melihat bagaimana ekspansi perkebunan — kopi, teh, karet — menggerus lanskap asli pegunungan di sekeliling kota. Ia mencatat, dengan nada prihatin yang tipis tapi nyata, bahwa kemajuan ekonomi kolonial sedang mengubah wajah alam yang ia cintai. Sebuah kegelisahan yang, lebih dari sembilan puluh tahun kemudian, masih sangat relevan.

W.O.J. Nieuwenkamp dan Warisan Majapahit yang Terpendam

Wandelaar Og Jager Nieuwenkamp, pelukis dan penjelajah Belanda, mengunjungi Jawa Timur pada awal abad ke-20 dalam rangka mendokumentasikan seni dan arsitektur kuno. Di sekitar Malang, ia tertegun pada banyaknya peninggalan candi dan arca yang tersebar di lereng-lereng gunung — banyak di antaranya sudah tertutup semak atau tertimbun tanah ladang. Dalam sketsa dan catatan perjalanannya, Nieuwenkamp menyebut Malang sebagai “wilayah yang menyimpan lebih banyak masa lalu daripada yang ia perlihatkan.”

Pandangan Nieuwenkamp penting karena ia menangkap sesuatu yang sering luput dari pengamatan umum: bahwa Malang bukan sekadar kota indah secara alam, melainkan juga kawasan yang memiliki lapisan sejarah peradaban yang sangat dalam — dari Kerajaan Kanjuruhan, Singhasari, hingga Majapahit. Kedalaman itu, kata Nieuwenkamp, seharusnya menjadi kebanggaan yang dijaga, bukan sekadar latar belakang yang diabaikan.

Era Hindia Belanda: Malang sebagai “Kota Peristirahatan” Eropa

Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, Malang telah berkembang menjadi salah satu kota paling nyaman di Hindia Belanda. Kaum elite Eropa — administrator perkebunan, dokter, pengacara, guru sekolah HBS — membangun rumah-rumah besar beranda lebar di kawasan Kayutangan, Ijen, dan Oro-oro Dowo. Malang saat itu dikenal di kalangan orang Belanda sebagai kota peristirahatan, tempat yang tepat untuk menghabiskan sore hari di bawah naungan pohon cemara sambil membaca surat kabar dari Amsterdam.

Catatan-catatan perjalanan dari era ini, yang banyak tersimpan di arsip KITLV Leiden dan Nationaal Archief Den Haag, menggambarkan Malang dengan konsistensi yang mencolok: selalu ada kata sejuk, selalu ada kata indah, selalu ada kata teratur. Seorang koresponden surat kabar De Locomotief dari Semarang yang berkunjung ke Malang pada 1928 menulis dengan keheranan bahwa “Malang adalah kota yang membuat Eropa tidak terlalu dirindukan.” Sebuah pujian tertinggi dari seorang penjelajah yang jauh dari tanah airnya.

Tapi tidak semua catatan asing dari era ini bernada kagum tanpa syarat. Beberapa penulis Belanda yang lebih kritis mencatat ketidaksetaraan yang mencolok antara kampung-kampung pribumi dan kawasan perumahan Eropa. Seorang jurnalis sosialis Belanda bernama Henri Sneevliet, yang sempat aktif di Semarang sebelum dideportasi, pernah menyinggung bahwa keindahan Malang yang dikagumi orang Eropa adalah keindahan yang dibangun di atas punggung buruh pribumi yang tak pernah menikmatinya.

Setelah Merdeka: Malang dalam Mata Wisatawan dan Peneliti Asing

Setelah Indonesia merdeka, arus orang asing ke Malang tidak berhenti — ia hanya berganti watak. Para administrator kolonial digantikan oleh peneliti akademik, mahasiswa program pertukaran, relawan lembaga swadaya masyarakat, dan pelancong mandiri yang datang dengan ransel dan anggaran terbatas. Pandangan mereka tentang Malang tidak lagi dipengaruhi oleh kepentingan kekuasaan, tapi justru lebih bebas dan lebih jujur.

Pada era 1970-an hingga 1980-an, Malang mulai masuk dalam peta perjalanan antropolog dan arkeolog asing, terutama mereka yang tertarik pada situs-situs Singhasari dan Kanjuruhan. Jan Wisseman Christie, seorang pakar epigrafi Asia Tenggara dari Inggris, pernah menyebut wilayah Malang sebagai “laboratorium lapangan yang luar biasa untuk memahami dinamika kekuasaan Hindu-Buddha di Jawa Timur.” Bagi Christie dan koleganya, Malang bukan hanya kota cantik — ia adalah arsip hidup yang belum sepenuhnya terbaca.

Di kalangan pelancong biasa, Malang mulai sering disebut dalam panduan perjalanan berbahasa Inggris sejak akhir 1980-an. Lonely Planet menyebutnya sebagai kota yang “menyenangkan untuk disinggahi selama satu atau dua malam” — pujian yang khas bagi kota yang dianggap nyaman tapi belum cukup sensasional untuk dijadikan tujuan utama. Framing itulah yang menurut banyak pemerhati pariwisata justru menjadi kelemahan Malang dalam persaingan destinasi: terlalu sering dianggap sebagai batu loncatan menuju Bromo atau Bali, bukan tujuan itu sendiri.

Suara Era Digital: Kagum dan Kecewa di Halaman yang Sama

Di era media sosial dan blog perjalanan, pandangan orang asing tentang Malang menjadi lebih beragam, lebih cepat tersebar, dan lebih jujur dari sebelumnya. Seorang blogger perjalanan asal Australia bernama Matt, yang menulis tentang perjalanannya keliling Jawa pada 2018, memuji Malang sebagai “kota yang terasa nyata” — tidak artifisial seperti destinasi yang sudah terlalu dipoles untuk wisata. Ia mengagumi hiruk-pikuk Pasar Besar, tegapnya bangunan-bangunan art deco di pusat kota, dan ramahnya mahasiswa-mahasiswa yang ia temui di warung kopi Gang Buntu.

Tapi Matt juga mencatat kekecewaannya dengan jujur. Lalu lintas yang padat dan semrawut, trotoar yang terputus atau diokupasi pedagang, dan sungai-sungai kota yang berbau tajam — semua itu ia tuliskan bukan sebagai serangan, melainkan sebagai rasa sayang yang tidak selesai. “Malang adalah kota yang pantas mendapatkan lebih dari yang diterimanya sekarang,” tulisnya, sebuah kalimat yang mungkin akan membuat banyak warga Malang mengangguk pahit.

Sentimen serupa muncul dari seorang vlogger asal Prancis, Claire Bertrand, yang membuat video perjalanan tentang Jawa Timur pada 2021. Dalam video berdurasi dua puluh menit itu, ia mendedikasikan sebagian besar segmen tentang Malang untuk berkeliling kawasan Ijen — jalan boulevard paling ikonik di kota ini yang diapit pohon-pohon palm raksasa. “Ini salah satu jalan paling cantik yang pernah saya lihat di Asia,” katanya di depan kamera, dengan ekspresi yang bukan dibuat-buat. Tapi ia juga menyayangkan bahwa bagian lain kota tampak tidak dirawat dengan standar yang sama: “Sepertinya hanya satu jalan yang mendapat perhatian, sementara sisanya dilupakan.”

Yang Dikagumi, yang Disayangkan

Jika semua catatan itu dirangkum — dari laporan Daendels yang kaku hingga ulasan TripAdvisor yang kasual — ada benang merah yang tidak putus: Malang selalu mengundang kekaguman pada hal yang sama. Iklimnya yang sejuk di antara kota-kota tropis. Arsitektur kolonialnya yang masih bisa ditemukan di banyak sudut. Kuliner jalanannya yang berlapis-lapis rasa. Dan keramahan penduduknya yang tidak terasa dibuat-buat.

Yang disayangkan pun berulang dari masa ke masa. Pengelolaan warisan bangunan tua yang setengah hati. Ruang publik yang menyempit. Sungai yang harusnya menjadi nadi kota tapi justru menjadi batas yang memalukan antara kawasan tertata dan kawasan yang tidak. Dan satu hal yang paling konsisten disebut oleh pengunjung asing modern: Malang tampaknya belum menemukan narasi tentang dirinya sendiri yang cukup kuat untuk ditawarkan kepada dunia.

Seorang akademisi dari Universitas Leiden, yang menghabiskan dua bulan di Malang untuk penelitian arsitektur kolonial pada 2019, pernah berkata dalam sebuah diskusi kecil di sebuah kafe di Jalan Ijen: “Malang adalah kota yang akan sangat disesali Eropa jika kehilangan warisan ini. Sayangnya, justru Malang sendiri yang belum cukup marah untuk melindunginya.”

Kota yang Belum Selesai Ditemukan

Apa yang paling mengejutkan dari keseluruhan jejak pandangan orang asing tentang Malang, dari era kolonial hingga hari ini, bukanlah pujiannya — melainkan konsistensinya. Tiga abad berlalu, rezim berganti, teknologi berubah, cara orang bepergian dan menulis berevolusi. Tapi apa yang membuat orang asing kagum pada Malang nyaris tidak berubah, dan apa yang mereka sesali juga nyaris tidak berubah.

Itu bisa dibaca sebagai kegagalan. Atau bisa juga dibaca sebagai petunjuk: bahwa potensi yang dilihat Von Faber pada 1931, yang dirasakan Nieuwenkamp ketika melukis candi-candi tersembunyi, yang dicatat para blogger masa kini di antara deretan foto estetik — potensi itu masih ada, belum habis, belum terlambat.

Malang adalah kota yang sudah lama ditemukan oleh orang asing. Pertanyaannya hanya satu: kapan ia akan sepenuhnya ditemukan oleh dirinya sendiri? (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *