Connect with us

Kolom

Lebih Dekat dengan H. Haikal S, SH, Sosok yang Mulai Diperhitungkan di Jakarta

Published

on

H. Haikal, S, SH, Aktivis, Pengusaha, Tokoh Muda Betawi

Oleh Drs. HM. Sodri, SH, Koordinator Forum Qori dan Hafidz DKI Jakarta

Di tengah zaman ketika popularitas sering dibangun lewat sensasi sesaat dan hiruk-pikuk media sosial, kehadiran sosok yang tumbuh dari proses panjang pengabdian terasa semakin langka. Dari sedikit figur atau sosok itulah, terdapat tokoh muda Betawi, H. Haikal S, SH, yang perlahan mencuri perhatian publik Jakarta karena keberhasilannya dalam meniti karir Ia berhasil karena berbagai kesabaran, kerja nyata, dan konsistensi yang terus dijaga dari waktu ke waktu.

Lahir dan tumbuh di lingkungan sederhana di Jakarta Timur, Haikal memahami sejak awal bahwa keberhasilan tidak pernah datang dalam semalam. Langkah hidupnya dimulai dari bawah, menjadi asisten notaris sejak 1999, sebuah pekerjaan yang membentuk ketelitian, kedisiplinan, sekaligus ketangguhan menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari sana, ia terus bergerak, menapaki berbagai ruang pengabdian—aktif di organisasi sosial-keagamaan, kegiatan kepemudaan, hingga forum kebangsaan yang mempertemukannya dengan beragam lapisan masyarakat.

Jejak organisasinya terbilang panjang dan luas. Ia pernah terlibat di Yayasan SUHADA, Gerakan Cinta Tanah Air (GITA), Forum Bhayangkara Indonesia, hingga Dewan Harian Nasional 45. Kiprahnya kemudian meluas ke tingkat nasional melalui organisasi seperti Laskar Merah Putih dan Jaringan Pribumi Indonesia.

Pada 2025, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum I DPP GRIB JAYA. Di saat yang sama, ia juga tetap aktif di Forum Aktivis Alumni HMI (FAAHMI) dan menjabat Wakil Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi. Semua perjalanan itu memperlihatkan satu hal: Haikal memilih bertumbuh melalui proses, bukan sekadar tampil di permukaan.

Yang menarik, di tengah kesibukan dan pencapaiannya, Haikal dikenal tetap menjaga hubungan dengan para kolega dan sesama aktivis. Ia tidak termasuk sosok yang melupakan akar perjuangan setelah berada di posisi yang lebih mapan. Banyak orang yang mengenalnya menilai dirinya sebagai pribadi yang mudah hadir ketika dibutuhkan, peduli terhadap sesama, dan memiliki komitmen pengabdian yang tidak berubah meski waktu terus berjalan. Sikap itulah yang membuat namanya dihormati, bukan hanya karena jabatan, tetapi karena ketulusan yang dirasakan langsung oleh orang-orang di sekitarnya.

Latar belakang pendidikan hukum di Universitas Jayabaya menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter kepemimpinannya. Dunia hukum mengajarkannya untuk berpikir sistematis, disiplin, dan hati-hati dalam mengambil keputusan. Namun lebih dari itu, pendidikan tersebut membentuk cara pandangnya tentang tanggung jawab, integritas, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan organisasi dan kepentingan publik. Karena itu, banyak pihak menilai gaya kepemimpinannya cenderung tenang, argumentatif, dan tidak mudah terbawa arus konflik sesaat.

Bagi Haikal, organisasi bukan sekadar simbol kekuasaan atau alat membangun pengaruh pribadi. Organisasi adalah ruang belajar memahami denyut kehidupan masyarakat secara langsung. Dalam salah satu forum kebangsaan, ia pernah mengatakan bahwa usia muda adalah modal untuk terus bergerak, sementara semangat dan tanggung jawab merupakan kunci untuk meraih keberhasilan demi bangsa dan negara. Kalimat sederhana itu menggambarkan cara berpikirnya: bekerja tidak harus selalu gaduh, tetapi harus memberi arti.

Pendekatan kepemimpinan yang dibangunnya pun sering dianggap berbeda. Ia lebih memilih bergerak tenang, tidak terlalu banyak menampilkan diri di ruang publik, tetapi tetap konsisten menjaga peran di tengah dinamika organisasi yang terus berubah. Dalam situasi yang sering dipenuhi manuver dan persaingan terbuka, Haikal justru tampil sebagai sosok yang berhati-hati, adaptif, dan cenderung membaca keadaan secara strategis sebelum melangkah. Karakter seperti itu membuatnya mampu bertahan sekaligus tetap relevan di berbagai lingkungan yang tidak selalu mudah dijalani.

Di luar aktivitas organisasi, Haikal juga membangun perjalanan panjang di dunia usaha. Ia pernah memimpin sejumlah perusahaan, mulai dari PT. Ratu Ratna Mulya, PT. Daka Group, hingga perusahaan di sektor energi dan pertambangan. Pengalaman tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang memahami bahwa persoalan masyarakat tidak cukup dijawab dengan pidato dan seremoni semata. Menurutnya, kesejahteraan warga hanya dapat diperkuat melalui ekonomi yang sehat, peluang usaha yang terbuka, dan program nyata yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat kecil.

Pandangan itu terasa semakin relevan di tengah kritik publik terhadap sebagian organisasi yang tampak besar secara atribut, tetapi minim dampak sosial. Haikal mencoba menjawab kritik tersebut bukan dengan retorika, melainkan lewat kerja nyata. Ia berusaha menunjukkan bahwa aktivisme dan keberhasilan bisnis tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya justru bisa dipadukan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Karena itulah, banyak orang melihat dirinya bukan hanya sebagai aktivis atau pengusaha, tetapi juga sebagai sosok yang terus berupaya menjaga keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Tentu saja perjalanan panjang di dunia organisasi dan usaha tidak selalu berjalan mulus. Semakin luas aktivitas seseorang, semakin besar pula sorotan dan ekspektasi publik yang mengiringinya. Namun di balik berbagai dinamika itu, perjalanan hidup H. Haikal S memperlihatkan satu pelajaran penting: pengaruh yang kuat tidak selalu lahir dari sorotan panggung besar. Kadang, ia tumbuh dari kerja sunyi, ketekunan yang panjang, dan kesediaan bertahan menghadapi perubahan zaman selama puluhan tahun.

Di tengah Jakarta yang bergerak semakin cepat dan pragmatis, figur dengan pengalaman lintas hukum, organisasi, dan bisnis seperti Haikal menjadi menarik untuk terus diperhatikan. Bukan semata karena panjangnya perjalanan karier yang ia miliki, tetapi karena publik kini menaruh harapan bahwa pengabdian kepada masyarakat masih bisa dijalankan dengan tulus—tanpa kehilangan nurani, tanpa melupakan akar perjuangan, dan tanpa harus selalu mencari tepuk tangan.***

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement