Feature
“Bang Kulon Nyabrang Ngetan”, Invasi Seniman Ngapak
Eventnya mungkin biasa saja: Pameran Lukisan.
Info ringkasnya begini: Jumat, 10 Oktober 2025, sebanyak 153 pelukis memamerkan karyanya di Galeri Bulaksumur, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM Yogyakarta. Tajuk pameran “Bang Kulon Nyabrang Ngetan”. Pameran berlangsgung sampai 19 Oktober 2025.
Eventnya menjadi luar biasa karena balutan historis serta spirit “perjuangan” para senimannya. Seniman “ngapak”.
Ngapak adalah aksen atau logat berbicara masyarakat Jawa Tengah bagian barat. Teritorinya meliputi eks Karesidenan Banyumas, sebagian eks Karesidenan Kedu, dan sebagian eks Karesidenan Pekalongan.
Sebagian masyarakat memandang logat “ngapak” identik “kasar” dan “ndeso” alias kampungan. Pandangan sempit yang justru disambut tawa ngakak komunitas ngapak. Dengan santai mereka malah melempar jargon “ora ngapak ora kepenak”….
Syahdan, pada pertengahan 2018 nama “SeNgapak” (Seniman Ngapak) diluncurkan oleh 6 seniman ngapak yang tinggal di Yogyakarta, yaitu Rakhmat Supriyono, Supono Pr, Tarman, Ansori, Ocong Suroso, dan Subandi (alm).
Nawaitu-nya sederhana saja: agar bisa bersatu, guyon, dopokan, dan saling sapa. Tentu saja dengan logat khasnya, ngapak.
SeNgapak bertumbuh. Data terakhir, anggotanya lebih dari 160 seniman. Mereka tersebar di seantero jagat. Ada yang tinggal di Yogyakarta, Solo, Kebumen, Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Tegal, dan Brebes. Sebagian lain, tercatat domisili di Jakarta, Bogor dan kota-kota lain. Beberapa nama anggota SeNgapak bahkan berdomisili di luar negeri.



“Nyabrang Ngetan”
Kembali ke topik pameran. Tajuk “Bang Kulon Nyabrang Ngetan” dimaknai “Dari Barat (tlatah Banyumas) merambah ke Timur (Yogyakarta)”. “Sebelum-sebelumnya, kami rutin pameran di tlatah Banyumas. Antara lain di Purwokerto dan Gombong. Kali ini kami merambah Yogya. Budaya ngapak menginvasi budaya alusan…,” kata Ketua Panitia, Rakhmat Supriyono sambil tertawa.
Invasi?
“Ya. Invasi tanpa senjata. Invasi tanpa darah. Invasi kultural, dalam hal ini seni rupa,” ujar pria kelahiran Kebumen, lulusan STSRI “ASRI” (sekarang ISI) Yogyakarta, itu.
“Serbuan” seniman Ngapak ke Yogya, melibatkan 153 seniman berdialek ngapak. Nama pertama yang harus disebut adalah Nasirun, pelukis papan atas kelahiran Ciilacap yang tinggal di Yogyakarta. Kemudian ada juga Entang Wiharso, pelukis asal Tegal yang berdomisili di Amerika Serikat.
Nama-nama lain yang turut berpameran di antaranya: Ugo Untoro (Purbalingga, tinggal di Yogyakarta), Samuel Indratma (Gombong, tinggal di Yogyakarta), Agus Noor (Jakarta), Faizal Kamandobat (Cilacap), Tarman, Ocong Suroso, Agus Winarto, Ansori Mozaik, dan Ikhman Mudzakir.
Menjadi lebih menarik, karena pameran seniman ngapak ini juga didukung sederet pelukis terkemuka Yogyakarta. Di antaranya Putu Sutawijaya, Pupuk DP, Erica Hestu Wahyuni, Jumaldi Alfi, Anggar Prasetyo, Subandi Giyanto, Prof. Baiquni, dan beberapa nama yang tak asing di dunia senirupa.
Lebih jauh Rakhmat menandaskan, Pameran “Bang Kulon Nyabrang Ngetan” sesungguhnya bukan sekadar perjalanan geografis “wong kulon” menjelajah wilayah timur (Yogyakarta). Tajuk ini juga mengandung makna perlintasan gagasan, dialog budaya, serta pertemuan kreatif lintas ruang dan waktu.
“Ngapak-Banyumasan identik dengan egaliter, lugas, humoris, membumi, dan blak-blakan apa adanya (blakasuta),” ujar Rakhmat di ruang pameran GIK UGM.
Karakter ini sering terbawa dalam ekspresi seni: karya yang jujur dan penuh energi. “Ngapak tidak hanya hidup dalam tutur kata sehari-hari, tetapi juga menyusup dalam warna, garis, dan gestur seni rupa seniman Banyumas,” imbuhnya.



Kelompok SeNgapak
Kontribusi seniman berdialek Ngapak dalam perkembangan seni rupa Indonesia layak dicatat. Beberapa nama penting yang bisa disebut sebagai representasi Ngapak antara lain: RJ. Katamsi Martorahardjo (lahir di Banjarnegara, 1897) Direktur pertama ASRI – tokoh penting dalam sejarah seni rupa Indonesia dan memiliki peran besar dalam mendirikan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).
Berikutnya ada Soenarto Pr. (Purwokerto, 1931) – pendiri Sanggarbambu tahun 1959, sanggar tertua yang masih bertahan hingga sekarang.
Sanento Yuliman (Banyumas, 1941) – dosen seni rupa ITB dan kritikus seni terkemuka. Sunaryo (Banyumas, 1943) – mendirikan Selasar Sunaryo Art Space di Bandung, banyak meraih penghargaan. Dan masih banyak lagi pelukis senior asal Banyumas yang memiliki andil besar di percaturan seni rupa Indonesia.
Generasi berikutnya ada Mas Pringadi, Abdul Aziz, Hadi Wijaya hingga Nasirun, Entang Wiharso, Dadang Christanto, dan banyak lagi. Sederet seniman ini tidak hanya melestarikan tradisi Banyumas, tapi juga mengolahnya menjadi simbol visual baru yang relevan di kancah modern. Mereka menjembatani akar tradisi dengan imajinasi kontemporer, memberi warna baru di luar hegemoni Yogya, Bali, Bandung, dan Jakarta.
Seniman Ngapak membuktikan bahwa pinggiran juga punya kekuatan artistik yang kuat, mematahkan anggapan bahwa seni rupa hanya terpusat di Yogya, Jakarta, dan Bali.
Di era 1970-an hingga 1980-an Jalan Raya Sokaraja (Jl. Jend. Sudirman, Banyumas) dikenal sebagai “Galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara”. Lukisan “Sokarajan” dikenal tidak hanya di Indonesia, tapi bergaung sampai ke mancanegara.
Cukup banyak seniman dari Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, yang aktif berpameran di kota-kota besar seperti Yogya dan Jakarta. Kehadiran mereka turut membawa warna Ngapak ke arus seni rupa kontemporer. Membawa warna lokal yang khas. Menghubungkan tradisi dan kontemporer. Mereka tidak hanya melestarikan tradisi Banyumas, tapi juga mengolahnya menjadi simbol visual baru yang relevan di kancah modern.
Seniman Ngapak telah menghadirkan semangat egaliter dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Mereka menjembatani akar tradisi dengan imajinasi kontemporer, memberi warna baru di luar hegemoni Yogya, Bali, Bandung, dan Jakarta.
Pokoke, ora ngapak, ora kepenak, lurrr….. (roso daras)



