• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech

Catatan Tercecer dari Tahun Baru Islam 1448 H: Hijrah di Pusaran Rezim Otoritarianisme Kompetitif

June 16, 2026
DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

October 25, 2026
“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

October 25, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

October 23, 2026
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, October 26, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Catatan Tercecer dari Tahun Baru Islam 1448 H: Hijrah di Pusaran Rezim Otoritarianisme Kompetitif

by Redaksi
June 16, 2026
in Kabar
0
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh Achmad Fachrudin, Dosen Universitas PTIQ Jakarta

Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, memori umat Islam hampir selalu kembali pada sebuah peristiwa besar yang mengubah arah sejarah peradaban: hijrah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari satu kota ke kota lain. Ia merupakan respons terhadap situasi sosial-politik yang menindas, ketika komunitas Muslim menghadapi tekanan dan penganiayaan dari penguasa Mekah.

Di Madinah, Nabi Muhammad dengan umatnya menemukan ruang yang lebih kondusif untuk menjalankan ajaran agama, membangun tatanan sosial yang lebih adil, dan mengembangkan kehidupan bersama yang lebih teratur. Karena arti pentingnya itulah, peristiwa hijrah kemudian dijadikan titik awal penanggalan Kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Transformasi makna hijrah

Namun seiring perjalanan waktu, makna hijrah berkembang melampaui konteks historisnya. Hijrah kini sering dimaknai sebagai proses transformasi dari suatu keadaan yang dianggap kurang ideal menuju keadaan yang lebih baik. Dalam pengertian ini, hijrah tidak hanya menyangkut perubahan individu, tetapi juga perubahan sosial. Hijrah bukan sikap pasif yang menunggu keadaan berubah dengan sendirinya.

Sebaliknya, hijrah menuntut ikhtiar aktif, kreatif dan inovatif  dari para pelakunya—baik sebagai individu (muhajir) maupun sebagai kelompok (muhajirin)—untuk menghadirkan perubahan sesuai tantangan zaman dan struktur kekuasaan yang dihadapi. Dalam perspektif ini, hijrah bukan sekadar perpindahan fisik atau perubahan identitas personal, melainkan proses transformasi sosial yang menuntut kesadaran kritis, keberanian moral, dan kemampuan membaca realitas secara tepat.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: bagaimana hijrah harus dijalankan ketika berhadapan dengan rezim politik yang berbeda? Strategi transformasi sosial tentu tidak bisa disamakan antara masyarakat yang hidup di bawah rezim otoriter dengan mereka yang berada dalam sistem demokratis. Karakter kekuasaan yang berbeda akan melahirkan peluang, hambatan, sekaligus pilihan-pilihan strategi yang berbeda pula. Oleh karena itu, memahami watak rezim politik menjadi bagian penting dalam merumuskan model hijrah yang relevan dan efektif.

Rezim otoriter dan demokratis

Para ahli mendefinisikan  rezim otoriter merupakan sistem politik yang ditandai oleh konsentrasi kekuasaan pada individu atau kelompok tertentu dengan ruang kompetisi politik yang sangat terbatas. Juan J. Linz mendefinisikan rezim otoriter sebagai sistem dengan pluralisme politik terbatas, tidak adanya mobilisasi politik yang intensif, serta kekuasaan yang dijalankan oleh seorang pemimpin atau kelompok kecil dalam batas yang tidak jelas tetapi dapat diprediksi.

Dalam pandangan Hannah Arendt, bentuk ekstrem dari kekuasaan yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi dominasi total terhadap kehidupan masyarakat. Friedrich A. Hayek juga mengingatkan, pemusatan kekuasaan negara tanpa pembatasan hukum berpotensi mengantarkan masyarakat menuju “jalan menuju perbudakan” (the road to serfdom).  

Sebaliknya, rezim demokratis bertumpu pada prinsip kedaulatan rakyat, perlindungan hak-hak warga negara, serta pembatasan terhadap kekuasaan pemerintah melalui hukum dan institusi. Dalam tradisi teori politik modern, demokrasi tidak hanya dipahami sebagai mekanisme Pemilu, tetapi juga sebagai sistem yang menjamin akuntabilitas pemerintah, kompetisi politik yang bebas dan adil, serta partisipasi warga negara dalam proses pengambilan keputusan publik.

Selain itu, keberlangsungan demokrasi mensyaratkan adanya supremasi hukum (rule of law), pemisahan kekuasaan, kebebasan sipil, dan perlindungan terhadap hak-hak minoritas guna mencegah terjadinya konsentrasi kekuasaan yang berpotensi mengarah pada otoritarianisme.

Meminjam pandangan Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, serta Amartya Sen, demokrasi tidak dapat bertahan hanya dengan penyelenggaraan Pemilu secara berkala, tetapi memerlukan budaya politik yang menjunjung partisipasi, toleransi, dan kontrol terhadap pemerintah. Termasuk rezim yang menetapkan gaya kepemimpinan otoritarianisme kompetitif.

Rezim  otoritarianisme kompetitif

Di tengah-tengah antara rezim otoriter dan demokratis,  lahir  istilah  rezim otoritarianisme kompetitif.  Rezim otoritarianisme kompetitif menurut Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, Nancy Bermeo dan Yascha Mounk  ditandai dengan seringnya mempertahankan simbol-simbol demokrasi seperti pemilu, parlemen, dan konstitusi, tetapi dalam praktiknya ruang kompetisi politik tidak berjalan setara.

Pada rezim ini, penguasa dapat memanfaatkan sumber daya negara, mengendalikan informasi, dan menciptakan aturan yang menguntungkan kelompok yang sedang berkuasa.  Rezim otoritarianisme kompetitif di abad ke-21 ini tumbuh dari dalam sistem demokrasi itu sendiri. Dalam situasi ini, demokrasi tidak runtuh secara mendadak, melainkan mengalami erosi perlahan melalui pelemahan institusi, penyempitan ruang kebebasan sipil, dan meningkatnya dominasi kelompok penguasa atas proses politik.

Selain itu, rezim otoritarianisme kompetitif  sering kali tidak lagi hadir melalui kudeta militer atau penghapusan konstitusi secara terbuka. Kemunduran demokrasi justru dapat berlangsung secara perlahan melalui pelemahan lembaga pengawasan, pembatasan oposisi, serta penggunaan hukum untuk kepentingan politik penguasa. Itulah sebabnya, pakar sekaliber  Andreas Schedler, Larry Diamond dan Fareed Zakaria memberikan peringatan keras mengenai bahaya demokrasi yang kehilangan ruh kebebasan dan akuntabilitas.

Hijrah Kolaboratif

Hijrah pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama dengan dakwah, yakni mendorong transformasi sosial menuju tegaknya nilai-nilai kebenaran, keadilan, kemaslahatan, dan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Namun, strategi yang ditempuh tidak dapat dilepaskan dari karakter rezim yang dihadapi. Dalam konteks politik tertentu, hijrah bukan sekadar aktivitas keagamaan, melainkan juga upaya membangun kesadaran sosial dan perubahan yang berkelanjutan.

Dalam rezim otoriter, hijrah menuntut pendekatan yang lebih hati-hati, persuasif, dan berbasis moral. Ali Syariati memandang agama sebagai kekuatan yang berpihak kepada kaum tertindas, sementara Fazlur Rahman menekankan pentingnya keadilan sosial dan pembelaan terhadap kemanusiaan. Muhammad Abduh juga mengajarkan bahwa perubahan masyarakat harus ditempuh melalui reformasi pemikiran, pendidikan, dan pencerahan akal sebagai fondasi transformasi yang kokoh.

Sebaliknya, dalam sistem demokratis, ruang hijrah relatif lebih terbuka sehingga dapat dilakukan melalui keterlibatan aktif dalam ruang publik. Hijrah atau dakwah tidak hanya berbentuk ceramah dan pendidikan, tetapi juga penguatan organisasi masyarakat, advokasi hukum, pendidikan politik, serta pengawasan terhadap kekuasaan. Dalam perspektif Bellah, Habermas, Rawls, Gramsci, Freire, dan An-Na’im, agama dapat menjadi kekuatan moral yang memperkuat demokrasi melalui partisipasi warga dan kesadaran masyarakat sipil.

Di tengah rezim otoritarianisme kompetitif, hijrah tidak selalu berarti mengganti rezim, melainkan mengoreksi cara kekuasaan dijalankan agar kembali pada prinsip demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan warga negara. Karena rezim semacam ini sering ditopang oleh oligarki dan dukungan institusional, diperlukan kolaborasi antara juru dakwah, masyarakat sipil, cendekiawan, dan kelompok strategis lainnya. Pada akhirnya, hijrah merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga demokrasi agar tetap berpihak kepada rakyat, bukan menjadi alat pelanggeng kekuasaan segelintir elite.***

Tags: jayakartanews
Share197Tweet123
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

October 25, 2026
“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

October 25, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version