Wajah Covid-19 di Mata Survei

 Wajah Covid-19 di Mata Survei

Kegiatan penyebaran kuesioner. Responden dipilih secara proporsional antara yang berpengasilan rendah, sedang, dan tinggi. (foto: Tim Riset Polda Jatim)

Jayakarta News – Dalam waktu dekat, Polda Jawa Timur akan merilis hasil survei Covid-19. Empat wilayah yang disurvei adalah “zona merah” Covid-19 di Surabaya Raya. Pelaksana survei adalah para petugas kepolisian dari Polrestabes Surabaya, Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Polres Sidoarjo, dan Polres Gresik.

Survei yang diinisiasi Kapolda Jatim Irjen Pol Dr M. Fadil Imran, MSi itu dipimpin oleh Dir Reskrimsus, KBP Gidion Arif Setyawan, SIK, SH, MHum. Bertindak selaku koordinator riset adalah Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, MA, PhD, APU. Ia dibantu periset dan akademisi LIPI, UI, Unair, UPN “Veteran” Jakarta, dan Ubhara Jaya.

Dijumpai di Depok, Jawa Barat, hari ini (2/8/2020), Prof Hermawan Sulistyo yang akrab disapa Mas Kikiek itu membenarkan adanya survei Covid-19 yang ia koordinir. “Draft sudah selesai, minggu depan sudah siap paparan. Tapi waktunya kami serahkan kepada Bapak Kapolda Jatim,” ujar Kikiek.

Saat ditanya kesimpulan dan rekomendasi riset, Profesor Riset yang juga karateka Dan IV Inkai ini hanya tersenyum. “Sabarlah… Minggu depan kami rilis. Tinggal menunggu lampu hijau Kapolda,” ujarnya.

“Saya tidak akan membocorkan hasil riset. Tidak etis. Pertama-tama saya hanya mengapresiasi langkah Polda Jatim. Menyadari yang dihadapi adalah persoalan besar, bahkan bisa dibilang ini wabah yang siklusnya satu abad, maka setiap kebijakan harus dipertimbangkan secara matang,” ujar Prof Kikiek.

Riset adalah basis ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. “Jadi, manakala ada jenderal polisi yang melakukan riset untuk landasan kebijakannya, saya kira patut diapresiasi. Saya menjadi maklum ketika mengetahui beliau (Kapolda Jatim Irjen Pol Fadil Imran-red), adalah seorang Doktor lulusan UI. Pantaslah,” ujar Kikiek pula.

Sebelum rilis, Kikiek mengaku sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Irjen Pol Fadil Imran. Lelaki kelahiran Makassar lulusan Akpol 1991 itu, juga sudah diberinya beberapa masukan terkait hasil riset. “Ada beberapa hal yang kami sampaikan sebelum hasil riset itu dirilis, karena sifatnya urgent,” katanya.

Ia menyebut contoh, tradisi “Toron” yang berlaku di masyarakat Madura, Jawa Timur. Madura kaya akan budaya dan tradisi. Salah satunya yaitu saat Idul Adha terdapat tradisi ‘Toron’ atau pulang kampung. Tidak seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika di luar Madura, tradisi mudik hanya pada momentum Idul Fitri, maka di Madura saat Idul Adha juga ada tradisi mudik, yang disebut ‘Toron’.

Karenanya, saat Idul Adha, warga di empat Kabupaten di Madura, mulai Semenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan pasti mudik. “Karenanya, saat saya ke Surabaya dan sempat bertemu beliau, hal itu saya sampaikan. Dan Anda lihat, jelang Idul Adha lalu, aparat Polres Pelabuhan Tanjung Perak melakukan effort khusus mencegah penyebaran Covid-19. Saya lihat di TV, kegiatan itu bahkan dikontrol langsung oleh Bapak Wakapolda Jatim,” kata Kikiek pula.

Responden antusias mengisi kuesioner. (foto: Tim Riset Polda Jatim)

Kembali ke soal riset. Pada dasarnya, akademisi harus dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan. Ini, kata Kikiek, eranya Pentahelix. Era gotong royong. Semua kebijakan dan program harus digotong bersama-sama antara pemerintah (termasuk pemerintah daerah), masyarakat (termasuk komunitas), akademisi, pengusaha, dan media.

“Jadi, langkah riset ini adalah bagian dari kerja berbasis Pentahelix. Di sini kami juga bekerjasama dengan pemerintah daerah, komunitas, dan media. Pelaksanaan outputnya nanti, bisa menggandeng pengusaha. Dengan cara bahu-membahu seperti itu, semoga pandemi Covid-19 ini bisa tertangani dengan baik. Indikatornya adalah efektif mencegah kematian rakyat Indonesia akibat terpapar Covid-19,” kata profesor yang juga ahli kuliner itu. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *