Jadi Favorit Destinasi Wisata, Banyuwangi Siap Dikunjungi

 Jadi Favorit Destinasi Wisata, Banyuwangi Siap Dikunjungi

MoU Pemkab Banyuwangi dan Traveloka.Foto Pemkab Banyuwangi

JAYAKARTA NEWS—Pemulihan sektor wisata di bumi Banyuwangi sudah terlihat tanda-tanda bergeliat. Banyak pihak memberi dukungan agar pariwisata di Banyuwangi segera bergerak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bergerak cepat. Salah satunya menggandeng penyedia layanan layanan dan gaya hidup Traveloka.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Traveloka telah menggelar survei tentang destinasi favorit wisatawan domestik yang ingin dikunjungi setelah sektor pariwisata kembali dibuka. Hasilnya, Banyuwangi berada di posisi ketiga di bawah Bali dan Yogyakarta. ”Berdasarkan survei Traveloka ke para penggunanya, Banyuwangi masuk tiga besar favorit destinasi. Maka, langkah-langkah pemulihan sektor wisata harus segera dilakukan. Salah satunya kami dibantu oleh Traveloka yang akan memperkuat pemasaran wisata Banyuwangi,” ujar Anas, Sabtu 1 Agusutus 2020 seperti dikutip di laman resmi pemerintahan Banyuwangi.

Tak sekadar menyodorkan hasil survei, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Bupati Azwar Anas dengan Co Founder dan Direktur Traveloka Albert Zhang di Pendopo Sabha Swagata. “Sektor pariwisata adalah pengungkit sektor lainnya di Banyuwangi. Sektor pariwisata mendorong peningkatan sektor olahan pangan berbagai produk kreasi UMKM, jasa transportasi, dan sebagainya. Turunannya banyak dan memengaruhi kesejahteraan banyak orang,” ujarnya.

Dengan pemulihan ekonomi sektor wisata, gerak perekonomian lokal akan kembali bergeliat. Pekerja pariwisata yang dirumahkan kembali bekerja, UMKM kembali berproduksi. “Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan,” jelas Anas.

Sementara itu, Co -Founder dan Direktur Traveloka Albert Zhang mengatakan, pihaknya berkomitmen membantu Banyuwangi untuk terus berkembang. “Kami berharap kerja sama ini dapat membantu para mitra di Banyuwangi dalam mempercepat pemulihan operasional bisnisnya di era normal baru ini melalui pemanfaatan teknologi sebagai medium utamanya,” Kata Albert.

Salah satu yang difokuskan pada tahap awal, lanjut Albert, adalah pengembangan homestay yang kini banyak tumbuh di Banyuwangi. Tak hanya memudahkan wisatawan untuk mendapatkan akses yang terdigitalisasi, pemanfaatan teknologi platform Traveloka juga memudahkan para pelaku homestay untuk memasarkan produk dan layanannya kepada konsumen.

“Kami akan mengintegrasi homestay-homestay di Banyuwangi dengan teknologi Traveloka. Kami punya data-data kecenderungan konsumen wisata yang bisa diintegrasikan dengan homestay di Banyuwangi. Sehingga homestay akan mendapatkan jangkauan target konsumen yang luas dan tepat,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Muhammad Yanuarto Bramuda, mengatakan, bersama Traveloka, homestay di Banyuwangi akan membuat paket tidak hanya penginapan, namun juga dengan atraksi wisata sesuai potensi yang ada di kawasan tersebut. “Misalnya homestay di perkebunan kopi, tidak hanya menawarkan penginapan saja, namun juga menyajikan paket atraksi memetik, menyangrai, mengolah kopi. Atau homestay di kawasan batik. Wisatawan bisa mendapat atraksi wisata dengan diajak mencanting batik,” kata Bramuda.

Dengan demikian akan memberi nilai tambah bagi homestay itu sendiri. Misalnya harga kamar Rp100.000, ditambah atraksi wisata menjadi Rp200.000 hingga Rp300.000. “Itu akan menjadi pengalaman bagi wisatawan,” ujarnya.

Sebelumnya, Banyuwangi juga telah disambangi Menteri Pariwisata Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio bersama rombongan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Kepala BKPM Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

Pada kesempatan itu Wishnutama mengapresiasi apa yang telah dilakukan Banyuwangi dalam mengembangkan pariwisata. Dia menilai, Banyuwangi memiliki skenario jelas dalam pengembangan pariwisata. Pariwisata harus punya strategi seperti yang dilakukan Banyuwangi. Bagaimana memberdayakan dan menggerakkan rakyat untuk menggeliatkan sektor wisata, bagaimana pariwisata ini bisa berdampak ke warganya. “Setiap daerah harus punya strategi pengembangan pariwisata seperti Banyuwangi, jadi bukan hanya punya destinasi lalu promosi dan selesai,” jelasnya.

Apresiasi Menpar Wishnutama kepada Banyuwangi diwujudkan dengan mengucurkan program yang akan meningkatkan sektor wisata daerah dengan revitalisasi amenitas di sejumlah titik destinasi Banyuwangi. “Beberapa dukungan yang akan kami lakukan di Banyuwangi yaitu revitalisasi amenitas di sejumlah tempat. Antara lain Agro Wisata Tamansuruh, Pantai Grand Watudodol, Pantai Pulau Merah, Alas Purwo, dan Bangsring Underwater,” kata Menpar.

Tentu saja perencanaan pemulihan sektor pariwisata tersebut disambut antusiasi para pelaku wisata di Banyuwangi. Dengan protokol kesehatan ketat, destinasi dan desa wisata kini mulai banyak dikunjungi wisatawan. Okupansi hotel dan homestay mengalami peningkatan. Pelaku UMKM dan olahan pangan pun mulai banyak menerima pesanan.

Seperti diungkapkan Mahsun, pengelola Desa Tamansari, Kecamatan Licin, yang merupakan kawasan desa wisata di kaki Gunung Ijen. Dia bercerita, dalam empat bulan terakhir, pengunjung ke Desa Tamansari turun drastis. Sebelum pandemi Covid-19, pengunjung ke desa itu bisa sampai 12.000 orang per bulan. “Alhamdulillah, sebulan ini pengunjung mulai banyak. Hitungan kami, ada sekitar 5.000 orang telah mengunjungi berbagai destinasi di Desa Tamansari sebulan terakhir. Ini membuat kami optimistis, ekonomi masyarakat dan desa kami segera pulih serta kembali membuka lapangan kerja,” kata Mahsun.

Begitu halnya dengan okupansi hotel yang kembali meningkat. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan, okupansi hotel di akhir pekan mencapai hingga 70 persen pada tiga pekan terakhir. Sebelumnya, sejak Maret sampai Juni, okupansi hotel nyaris 0 persen.

Pinisri yang membuka usaha kuliner “Sri Mulyo” di Kecamatan Songgon juga sudah merasakan geliat sektor wisata di Banyuwangi. “Warung sudah mulai buka kembali, order kue dan keripik jalan terus. Kami mendukung pemulihan sektor wisata, tentu dengan aturan kesehatan yang berlaku,” pungkasnya. ***alf

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *