Connect with us

Kolom

Untuk Apa Aku Hadir

Published

on

Ilustrasi berita bohong. (sumber: http://www.covalentlogic.com)
Oleh Sri Iswati

Berjalan-jalan di sore yang cerah bersama keluarga sangat menyenangkan. Anak-anak berlarian di taman. Orang-orang lain pun tampak riang dengan keasyikan masing-masing. Beberapa  hilir mudik  menenteng belanjaan. Di kafe-kafe anak-anak muda, orang tua, menikmati santapan. Ada yang cuma ngopi dan diskusi ringan.

Suasana seperti itu tak akan ada di tengah ketegangan, atau huru-hara yang memantik konflik sosial. Konflik yang sengaja dibangun dengan meletupkan “tagar” suku, agama, ras, antargolongan, ataupun perbedaan partai dan sikap politik. Atau sengaja dibentur-benturkan karena beda mazhab meski satu kepercayaan.

Dengan cara apa? “Senjata” ampuh di era disrupsi informasi ini adalah melalui penyebaran berita bohong, hoaks! (bahasa Inggris: hoax)

Hoaks, bak mainan, banyak pula pecintanya. Kendati pelaku penyebar konten –konten bohong dan fitnah yang mengguncang keamanan dan tatanan sosial telah tertangkap dan dijatuhi sanksi/hukuman, namun hoaks masih masif diproduksi. Trennya tak kunjung surut terutama di media sosial (medsos).

Mengapa terus diproduksi dan bahkan dengan narasi dan tampilan lebih kreatif? Alasan utamanya adalah karena “daya ledaknya” dahsyat. Gaungnya tak terbatas wilayah kota, melainkan menembus batas negara. Melampaui hembusan radiasi nuklir.

Jika tak ditangani serius, hoaks bisa menjadi pemusnah massal peradaban. Kelebihan dan keunikan “senjata” hoaks sungguh memesona. Pelaku tak perlu melepas senjatanya dari pusat kendali, dengan mengukur jeli untuk mencapai titik sasaran. Pun tak perlu berhitung berapa koordinat Bujur Barat/Bujur Timurnya. Berapa kecepatan angin, dan lain sebagainya. Tapi, pelaku bisa melepaskan “tembakannya” di banyak tempat, sambil makan siang, atau menyeruput kopi di kafe langganan. Bahkan sambil tiduran santai di ranjang berukir. Lalu jemari tangan tinggal memencet keypad atau tuts ponsel dengan narasi yang disiapkan ke semua nomor. Kemudian penerimanya, tanpa berpikir panjang langsung menge-share dan terus sambung-menyambung di-share hingga dengungnya meluas melingkupi jagat maya.

Reaksi cepat aparat penegak hukum tentu sudah diperhitungkan. Namun sebelum aparat bergerak, emosi massa sudah tersulut amarah akibat hoaks, sehingga tak bisa diredam seketika. Itulah yang diinginkan pelaku.

Mengoyak Persatuan

Akibat hoaks dapat mengoyak kerukunan dan persatuan. Juga menghilangkan kedamaian. Peristiwa yang berlangsung September 2019 lalu di persada tanah air ini  juga membuat ribuan penduduk Wamena, Papua, harus eksodus ke kota yang lebih aman atau kembali ke kampung asal.

Penyebab awal yang diduga mengandung rasis akhirnya meruak masif berkat gempuran hoaks. Maka amuk massa pun tak terelakkan. Dan upaya meredam amuk  di luar batas kemanusiaan itulah yang segera ditangani aparat.

Mereka yang berhasil mengembangkan dan mendengungkan hoaks tentu tertawa lepas. Entah sedang di kota mana atau di benua mana. Ketenteraman dan kedamaian wilayah yang terkoyak membuat pelaku puas. Entah atas nama apa. Yang jelas bukan karena cinta kasih. Melainkan terbakar hasrat rendahnya.

Ini logika umum saja. Hasrat tinggi adalah yang bernilai kebaikan dan kemuliaan, seperti kemanfaatan bagi sesama dan alam semesta. Sedangkan hasrat rendah adalah terkait perusakan, anarkis, dan sejenisnya.

Mengancam Persatuan

Perkembangan hoaks sangat memprihatinkan. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat terkait pergerakan hoaks ini. Misal, Agustus 2018, terindentifikasi Tim AIS Subdit Pengendalian Konten Ditjen Aplikasi Informatika 25 informasi hoaks. Lalu naik pada September 2018 (27 hoaks), Oktober  (53), November (63 hoaks). Dan 75 info hoaks di bulan Desember. Jelang pemilu terus melejit, menjadi 353 pada Februari 2019.

Belum hilang tentunya dari ingatan kita. Hoaks yang mewarnai kontestasi pemilu 2019 tak main-main digarap. Diberitakan; telah terjadi tindak kekerasan, begitu frame yang dibangun. Pelakunya bukan orang bodoh tapi aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet.

Reaksi heboh pun terjadi. Elite partai di lingkungan di mana Ratna berada langsung gelar konferensi pers. Untung polisi bertindak cepat, sebelum emosi massa benar-benar tersulut amarah. Ternyata efek operasi plastik yang direkayasa.

Meski aparat bertindak tegas, dan menangkap pembuat hoaks, tapi di tengah kontestasi yang memanaskan suhu politik itu kemudian muncul juga hoaks yang tak kalah dahsyat. Yakni tujuh kontainer surat suara sudah tercoblos. Anehnya ini pun direspon oleh anggota parlemen seakan benar-benar terjadi. 

Lagi-lagi untung, semua aparat dan lembaga terkait segera bertindak, dan ternyata bohong belaka. Dalam hitungan jam, pelaku hoaks tersebut diringkus polisi.

Daya gempur hoaks tak hanya merisaukan masyarakat dan mengganggu ketenteraman. Namun dengungan hoaks ini bisa memecah belah persaudaraan, meretakkan hubungan antargolongan, serta membangkitkan permusuhan. Benar-benar mengancam persatuan bangsa.

Peristiwa terbaru tentu saja Papua. Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ferdinandus Setu mengatakan, ada lebih dari 300.000 uniform resource locator (URL) hoaks terkait kerusuhan di Papua disebar di internet.

Berdasarkan penelusuran, kata dia, serbuan ratusan ribu URL hoaks itu bersumber dari dalam dan luar negeri. Kemenkominfo langsung menindaklanjuti dengan pemblokiran akses ke alamat hoaks tersebut.

Tindakan Kominfo selain memblokir kontennya, juga akunnya dan kemudian kalau di dalam negeri proses penegakan hukumnya diserahkan Polri. (Suara.com).

Kendalikan Jemari

Kita diharap cerdas melihat dan membaca perkembangan laju informasi, terutama di media sosial, seperti whats app, facebook, twiter, instagram, dan lainnya. Pembuat dan penyebar hoaks pasti punya tujuan menguntungkan diri dan kelompoknya. 

Karena itu jangan mudah posting, jangan mudah share. Ini celaka akibatnya, terutama jika berita bohong dan nadanya provokasi. Jika Anda tidak bisa mengendalikan pikiran Anda, kendalikan saja jemari Anda untuk tidak memencet keypad atau tuts ponsel Anda.

Tidak hanya di era digital sekarang masalah hoaks  terjadi. Sejarah bangsa-bangsa, puluhan bahkan ratusan tahun lalu tak luput dari kabar bohong ini. Tengok saja peristiwa holocaust. Konon, tak ada dokumen valid yang bisa membuktikan kebenarannya. Pembantaian Yahudi di Eropa oleh Nazi –Jerman secara kejam itu konon mencapai 6 juta. Sementara pada masa itu jumlah orang Yahudi di Eropa diperkirakan sekitar 500 ribu.

Dibuatnya hoaks tentu ada agenda-agenda tertentu, baik jangka pendek maupun masa depan. Korban kemanusiaan tak begitu diperhitungkan, yang penting target jangka panjang. Barangkali itulah yang disasar.

Peristiwa demi peristiwa akibat hoaks, kiranya patroli cyber di jagat maya harus terus menerus dilakukan. Selama 24 jam. Direktorat Siber Bareskrim Polri kita harapkan  dapat menerapkan strategi pencegahan lebih komprehensif dan jitu.

Sebagai bangsa yang berbudaya, yang memiliki peradaban adiluhung, tak elok jika tak berjibaku serius memerangi berkembangnya hoaks.

Hoaks harus diperangi bersama karena dapat memicu konflik sosial yang mengarah kepada disintegrasi bangsa. Banyak pihak mengatakan, kebohongan yang diulang-ulang dan masif akan dianggap sebagai kebenaran. Terlebih yang bermuatan isu SARA akan lebih memantik dan mengaduk emosi…. (iswati, Kejar Kemenangan Agung, Kalah pun Terhormat, www.jayakartanews.com, November 2018)

Sungguh berbahaya. Perpecahan bisa terjadi akibat hoaks. Dan revolusi sosial bisa meruak karena hoaks. Runyam sekali! Dan tentu, pada titik akutnya bisa  mengubah perjalanan sejarah bangsa, sekaligus menggeser peta geografi karena terlanjur koyak.

Jurus Budaya

Lantas dengan jurus apa menangkal dan memerangi hoaks?

Mari kita menatap budaya sendiri. Keagungan budaya di Nusantara sangat mengagumkan. Dan itu menyebar, bahkan boleh dikata berserak di seluruh negeri nilai-nilai yang bisa dipetik dan dikelola.

Hampir setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kearifan atau pandangan yang  selama ini membangun peradabannya. Namun dalam derap kehidupan kekinian, kadang hanya jadi kenangan, hanya jadi tatapan, atau sekadar nyanyian yang masuk kategori “tembang” usang. Bagi kaum tua tampak sayup-sayup “melantunkannya”, sementara yang muda mungkin tahu tapi tak paham maknanya.

Tengoklah. Dalam budaya Sunda kita mengenal silih asah, silih asih, silih asuh. Ini dapat kita letakkan dalam hubungan manusia dengan sesama. Menurut Wikipedia, kata silih dalam masyarakat Sunda digunakan dalam pemikiran tradisional, yakni: silih asah, saling menajamkan pikiran; saling mengingatkan. Silih asih: saling mengasihi. Silih asuh: saling mengasuh; saling membimbing.

Falsafah Sunda ini jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tak hanya meredam emosi yang dibangkitkan oleh gempuran hoaks, tapi lebih dari itu menghidupkan nilai-nilai budaya luhur. Betapa tidak, menajamkan pikiran berarti membangun kecerdasan, lalu dilandasi saling asih atau mengasihi terhadap sesama, dan saling membimbing.

Dalam kurikulum muatan lokal, seyogianya ajaran semacam ini lebih diintensifkan,  agar gaungnya lebih mendengung supaya mampu menekan dengung hoaks yang dijadikan sarana membakar emosi. Dan akhirnya nilai-nilai itu merasuk dalam pemahaman anak didik.

Dalam masyarakat Aceh kita kenal keuneubah endatu yakni ungkapan atau pribahasa Aceh. Konon orang tua dulu acap memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Nada kata-katanya tak hanya enak didengar tapi bernilai kearifan dan bermakna dalam.

Misalnya: Nyan miyuep talingkeu yang manyang ta loep, meunan yang patot udep lam donya. Arti bebasnya adalah; menghargai yang kecil dan menghormati yang lebih tua merupakan cara hidup yang ideal dalam interaksi sosial. Ada pula, Ikue han ek ta hila, artinya dalam hidup diperlukan konsistensi, istiqamah dan toleransi dengan lingkungan sekitar.

Dalam masyarakat  Melayu pun terdapat ungkapan: Bia Sutan kito di kampuang. Rajo di nagari, Kalau ke rantau dagang juo. Walau kita keturunan baik-baik di kampung sendiri atau raja di negeri sendiri, tetapi bila kita berada di tempat lain/negeri orang, haruslah dengan rendah hati menyesuaikan dengan lingkungan baru.Ini selaras pula dengan ungkapan; Dimana bumi di pijak di situ langit dijunjung.

Nah, dalam budaya Jawa kita sering mendengar kata tepo selira atau toleransi. Juga mulat sarira. Wong Jawa tentunya tidak asing dengan istilah ini. Tepa selira adalah toleransi.Menerapkan unen-unen ini bisa mewujudkan pergaulan atau hubungan yang damai karena dilandasi toleransi. Saling menghargai dan menghormati.

Sementara mulat sarira? Unen-unen ini mengajak kita untuk bercermin diri. Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instrospeksi akan diri sendiri. ”Aku ini apa? Aku ini siapa? Aku ini akan kemana? Aku ini mengapa ada? Dan, untuk apa aku hadir ?

Jika kita tergiring ke pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita lantas teringat pula ungkapan maknawi yang cukup menggetarkan: Sangkaning dumadi dan Sangkan paraning dumadi. Dari mana asal dan kemana pula hendak menuju setelah hidup ini.

Dalam piwulang atau ajaran Jawa, pertanyaan-pertanyaan di atas akhirnya bisa menyeret kesadaran untuk selalu introspeksi, sehingga dapat melahirkan sifat tepa selira, dan kasih sayang terhadap sesama. Hal ini tentu saja berlawanan dengan “karakter hoaks” yang menyasar emosi rendah, dan kepalsuan.

Jika ditarik benang merah, pelbagai ungkapan dan peribahasa, atau deretan nasihat kuno di persada Nusantara ini bernilai luhur dan semua itu memanifestasikan kasih sayang dan penghargaan terhadap orang lain.

Jadi, “tantangannya”, mampukah kita mengelola dan menyosialisasikan nilai-nilai kearifan lokal nan luhur itu kepada anak-anak, generasi muda dan juga orang tua yang kadang lupa bahwa kita memiliki peradaban yang adiluhung, yang berseberangan jauh dengan hoaks.

Nilai-nilai dari budaya lama itu, ada baiknya menjadi tatapan kita kembali di masa sekarang dan nanti. Bukan hanya menjadi khasanah perpustakaan dan museum, atau sekadar kajian ilmiah para cendekiawan untuk meraih gelar akademik. Bukankah semua inti ajaran esensinya adalah implementasi dari perwujudan nilai-nilai tersebut untuk kehidupan dan kemaslahatan semesta?!

Bagi siapa pun yang senantiasa bercita-cita mengelola kesadaran fitrahnya, tentu ingin sebanyak mungkin menyebar kebajikan dan me-legacy-kan yang terbaik bagi sesama. Itulah kira-kira jawaban dari judul di atas, Untuk Apa Aku Hadir? Dalam konteks ini, mariikut serta melawan hoaks. Bukan terseret menyebarkannya.

Sebagian hewan saja meninggalkan yang terbaik bagi kehidupan. Masih ingat bukan, peribahasa populer di masa kanak-kanak kita yang diajarkan para guru zaman dulu? “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”.

Manusia mati, harapan kita, tentu meninggalkan jasa-jasa. Kebajikan. Bukan  meninggalkan bencana. ***

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *