Empat Tahun Berperang Rusia Kehilangan 350.000 Tentaranya, Putin: ‘Kemenangan akan Selalu Milik Kita!

JAYAKARTA NEWS— Vladimir Putin mengklaim perang di Ukraina ‘akan segera berakhir’ setelah bersikeras bahwa Rusia berjuang untuk ‘tujuan yang adil’ melawan Barat. Dilansir Daily Mail, komentar tersebut muncul setelah Moskow menyelenggarakan parade militer yang jauh lebih sederhana pada hari Sabtu, menandai kemenangan Soviet dalam Perang Dunia Kedua.

Selama empat tahun perang dengan Ukraina, Rusia telah kehilangan 350.000 tentaranya.

Pemimpin Rusia itu juga menegaskan bahwa ia hanya akan bertemu dengan presiden Ukraina Volodymyr Zelensky setelah kesepakatan perdamaian yang langgeng disepakati.

‘Pertemuan di negara ketiga juga dimungkinkan, tetapi hanya setelah perjanjian perdamaian yang bertujuan untuk perspektif historis jangka panjang diselesaikan,’ kata Putin kepada wartawan.

‘Ini harus menjadi kesepakatan akhir, bukan negosiasi.’

Sementara saat parade baru lalu, Putin di depan wartawan dan para pemimpin asing, mengatakan: ‘Saya pikir masalah ini akan segera berakhir’.

Namun, beberapa jam sebelumnya, Putin telah menggunakan pidato Hari Kemenangannya untuk membenarkan konflik tersebut.

Dalam pidato tersebut, ia mengatakan negaranya sedang berjuang dalam perang yang ‘adil’ dan menyebut Ukraina sebagai ‘kekuatan agresif’ yang ‘dipersenjatai dan didukung oleh seluruh blok NATO’.

Pernyataannya muncul beberapa hari setelah terungkap bahwa lebih dari 350.000 tentara Rusia telah tewas saat bertempur dalam perang empat tahun tersebut.

Kemudian, ketika ditanya dalam konferensi pers tentang bantuan Barat kepada Ukraina, Putin mengatakan: ‘Mereka (Barat) menjanjikan bantuan dan kemudian mulai memicu konfrontasi dengan Rusia yang berlanjut hingga hari ini.’

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy/Foto: Instagram zelenskiy.01.fan

Namun ia melanjutkan dengan menambahkan: ‘Kemenangan selalu dan akan selalu menjadi milik kita. Kunci keberhasilan adalah kekuatan moral, keberanian, dan kegagahan kita, persatuan kita, dan kemampuan kita untuk menanggung apa pun dan mengatasi tantangan apa pun.’

Putin mengatakan ia telah mendengar bahwa Zelensky siap untuk mengadakan pertemuan pribadi, tetapi menambahkan, ‘ini bukan pertama kalinya kami mendengar pernyataan seperti itu’.

Komentar tersebut muncul ketika Rusia merayakan Hari Kemenangan tahunannya di Moskow, dalam parade militer terbesar di negara itu.

Namun, tahun ini, untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, parade tersebut berlangsung tanpa tank, rudal, dan senjata berat lainnya, selain atraksi terbang lintas pesawat tempur tradisional.

Hal ini disebabkan kekhawatiran bahwa Ukraina mungkin telah menargetkan Lapangan Merah Rusia dengan drone.

Para pejabat Rusia menambahkan bahwa perubahan format yang tiba-tiba dan drastis tersebut disebabkan oleh ‘situasi operasional saat ini’, yang mengarah pada ancaman serangan Ukraina.

Jumlah jurnalis yang hadir jauh lebih sedikit, dengan banyak organisasi media internasional tidak diberikan akses.

Dan pihak berwenang juga memerintahkan pembatasan akses internet seluler dan layanan pesan teks di ibu kota Rusia pada hari Sabtu.

Untuk pertama kalinya, parade hari Sabtu juga menampilkan pasukan dari Korea Utara – sebagai penghormatan kepada Pyongyang, yang mengirimkan tentaranya untuk bertempur bersama pasukan Moskow untuk mengusir serangan Ukraina ke wilayah Kursk Rusia.

Raja Malaysia Sultan Ibrahim Iskandar, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, dan pemimpin otoriter Belarusia Alexander Lukashenko menghadiri perayaan di ibu kota Rusia.

Putin memuji para tamu asing yang menghadiri parade tersebut atas ‘keberanian pribadi’ mereka, dan mencatat bahwa mereka telah memutuskan untuk datang ke Moskow sebelum gencatan senjata yang ditengahi oleh Trump meredakan kekhawatiran keamanan.

Putin mengatakan kepada wartawan setelah parade bahwa parade tersebut tidak menampilkan persenjataan berat karena militer membutuhkannya di medan perang di Ukraina.

Namun, gencatan senjata menit terakhir antara Moskow dan Kyiv, yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump, mengurangi bahaya serangan apa pun, dan parade tersebut berlangsung tanpa insiden. (di/Sumber: Daily Mail)

Bocoran Intelijen Eropa: Rusia Bersiap Berperang dengan NATO!

JAYAKARTA NEWS— Rusia sedang bersiap untuk berperang dengan NATO dan mungkin siap menyerang dalam waktu satu tahun setelah mengakhiri konflik Ukraina, badan intelijen Eropa memperingatkan. Keberanian Rusia ini diduga karena hubungannya yang semakin dekat dengan China.

Dikutip dari Daily Mail, sebuah laporan dari MIVD, badan intelijen Belanda, menunjukkan bahwa Rusia masih merupakan ancaman terbesar dan paling langsung bagi benua tersebut, dan sudah bersiap untuk kemungkinan konflik dengan NATO.

Laporan tersebut menambahkan bahwa sangat tidak mungkin Rusia akan memulai perang selama masih berperang di Ukraina. Namun, Kremlin semakin berani karena hubungannya yang semakin erat dengan China, kata MIVD, menambahkan bahwa kemampuan spionase siber Beijing sekarang setara dengan AS.

Presiden China Xi Jinping –Foto: istimewa

China Semakin Tangguh, Rusia Makin Percaya Diri

Wakil Laksamana Peter Reesink, pemimpin MIVD, mengatakan operasi siber China ‘sangat mumpuni, dan diorganisir dengan cara yang sangat kompleks.’

Ia menambahkan: ‘Kita rentan dan kita tidak selalu mampu melihat semua ancaman yang dihasilkan China.’

Badan intelijen tersebut mengatakan bahwa Rusia semakin percaya diri dalam kemampuannya untuk menyerang target militer dan sipil di Barat sebagai akibat dari meningkatnya hubungan dengan China.

Dikatakan bahwa Rusia ingin mendapatkan keuntungan dari ekspor China yang mendukung industri persenjataannya, sementara China ingin belajar dari pengalaman tempur Rusia di Ukraina.

Selain itu, hubungan yang tidak stabil antara negara-negara Barat telah menempatkan Eropa pada risiko yang lebih besar, terutama ‘di mana aturan menjadi kabur dan kekuasaan menjadi semakin menentukan.’

Sebelumnya hari ini, kepala eksekutif Pusat Keamanan Siber Nasional (NCSC) memperingatkan bahwa Inggris harus bersiap menghadapi peningkatan serangan siber yang terkait dengan negara-negara yang bermusuhan.

Richard Horne mengatakan bahwa badan tersebut terus menangani sekitar empat insiden siber yang signifikan secara nasional setiap minggunya dan bahwa serangan yang berdampak paling besar semakin terkait dengan pemerintah daripada hanya geng kriminal. NCSC adalah bagian dari badan intelijen Inggris, GCHQ.

Ancaman kriminal seperti ransomware tetap menjadi risiko paling umum yang dihadapi organisasi, kata Horne dalam konferensi tahunan CYBERUK pemerintah di Glasgow, menurut salinan pidatonya.

Namun, ia mengatakan bahwa sebagian besar insiden paling serius sekarang berasal ‘secara langsung atau tidak langsung’ dari negara-negara, termasuk Tiongkok, Iran, dan Rusia. Ia mengatakan aktivitas tersebut diarahkan ke Inggris dan mitra-mitra Eropanya.

Peringatan untuk Inggris!

Horne juga memperingatkan bahwa Inggris sedang mengalami ‘pergeseran geopolitik paling dahsyat dalam sejarah modern.’

MI5 mengatakan tahun lalu bahwa pihak berwenang telah menggagalkan lebih dari 20 rencana yang terkait dengan Iran sejak tahun 2022, beberapa di antaranya menargetkan individu yang tinggal di Inggris.

‘Jika kita berada dalam, atau di dekat, situasi konflik, Inggris kemungkinan akan menghadapi serangan aktivis peretas dalam skala besar,’ Horne memperingatkan, menambahkan bahwa kampanye semacam itu dapat menyebabkan gangguan yang sebanding dengan serangan ransomware besar, tetapi tanpa opsi untuk membayar untuk memulihkan sistem.

Mathieu Cousin, seorang ahli strategi risiko siber dan intelijen ancaman di perusahaan asuransi AXA XL, mengatakan bulan lalu bahwa kemungkinan akan ada peningkatan aktivitas siber yang terkait dengan perang AS-Israel di Iran.

‘Ketika ketegangan geopolitik meningkat, aktivitas siber akan mengikutinya. Dalam konflik ini, kelompok-kelompok yang bersekutu dan berafiliasi dengan negara Iran menggunakan operasi siber sebagai cara lain untuk merespons,’ katanya.

Horne mengatakan pada hari Rabu bahwa kemajuan dalam kecerdasan buatan diperkirakan akan mempercepat serangan siber dengan memungkinkan identifikasi kerentanan yang lebih cepat, bahkan ketika teknologi tersebut menawarkan peluang untuk memperkuat pertahanan.

Pada konferensi yang sama, Menteri Keamanan Dan Jarvis menyerukan kepada perusahaan-perusahaan AI terkemuka untuk bekerja sama dengan pemerintah untuk membangun kemampuan pertahanan siber berbasis AI untuk melindungi infrastruktur nasional yang penting.

Jarvis juga mengundang bisnis untuk menandatangani Janji Ketahanan Siber sukarela dan mengumumkan investasi tambahan sebesar £90 juta selama tiga tahun untuk memperkuat keamanan siber, termasuk dukungan untuk perusahaan kecil dan menengah.

Pada bulan September, mantan kepala MI5, Baroness Eliza Manningham-Buller, memperingatkan bahwa kita mungkin ‘sudah berperang dengan Rusia.’

Manningham-Buller mengatakan bahwa penyebaran serangan siber, kerja intelijen, ‘serangan fisik’, dan ‘sabotase’ yang ‘luas’ oleh Moskow di Inggris sama dengan konflik.

Baroness tersebut mengatakan kepada podcast Lord Speaker’s Corner – yang diproduksi oleh House of Lords – bahwa pakar Putin, Fiona Hill, ‘mungkin benar ketika mengatakan bahwa kita sudah berperang dengan Rusia’. (di/Sumber: Daily Mail)

Strategi Bernegara Putin dalam Membangun Rusia

JAYAKARTA NEWS – Vladimir Putin telah menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia sejak awal abad ke-21. Dengan caranya yang khas, Putin berhasil membawa Rusia dari kekacauan pasca-Soviet menjadi negara yang stabil dan kuat di panggung internasional. Dalam tulisan ini kita coba membedah bagaimana pendekatan Putin dalam memimpin dan membangun Rusia dapat memberikan pelajaran berharga dalam bernegara.

Vladimir Putin pertama kali menjabat sebagai Presiden Rusia pada tahun 2000, menggantikan Boris Yeltsin. Sebagai mantan agen KGB dan Direktur FSB, Putin memiliki latar belakang yang kuat dalam intelijen dan keamanan. Ini mempengaruhi gaya kepemimpinannya yang berfokus pada stabilitas dan kekuatan negara.

Salah satu langkah pertama yang diambil Putin adalah memulihkan stabilitas politik di Rusia. Pada akhir 1990-an, Rusia menghadapi krisis politik yang parah, dengan konflik internal dan separatisme yang merajalela. Putin mengatasi ini dengan mengambil tindakan tegas terhadap pemberontakan Chechnya, memperkuat kontrol pusat terhadap wilayah-wilayah federal, dan menekan oposisi politik.

Mengatasi Pemberontakan Chechnya:
Putin mengambil pendekatan militer yang keras untuk mengatasi konflik di Chechnya. Ini bukan hanya menekan pemberontakan, tetapi juga mengirim pesan bahwa pemerintah pusat tidak akan mentolerir separatisme.
Setelah operasi militer, Putin juga mengimplementasikan program rekonstruksi dan reintegrasi untuk membangun kembali Chechnya dan mengurangi ketegangan etnis.

Sentralisasi Kekuasaan:
Putin memperkuat kekuasaan pemerintah pusat dengan membatasi kekuasaan gubernur regional. Dia menciptakan tujuh distrik federal yang langsung diawasi oleh presiden, memastikan bahwa kebijakan pusat diterapkan secara konsisten di seluruh Rusia.
Reformasi ini membantu mengurangi korupsi di tingkat regional dan memastikan stabilitas politik yang lebih besar.

Penanganan Oposisi:
Putin menggunakan kombinasi tekanan hukum dan ekonomi untuk menekan oposisi politik. Banyak lawan politik yang dipenjara atau dipaksa meninggalkan negara.
Meski mendapat kritik internasional, langkah ini membantu Putin mempertahankan kontrol dan mencegah perpecahan politik di dalam negeri.

Revitalisasi Ekonomi
Pada awal kepemimpinan Putin, ekonomi Rusia dalam kondisi yang sangat buruk akibat krisis finansial tahun 1998. Putin berhasil mengubah situasi ini dengan serangkaian kebijakan yang fokus pada stabilitas ekonomi dan pertumbuhan.

Reformasi Pajak:
Putin mengimplementasikan reformasi pajak yang menyederhanakan sistem pajak dan menurunkan tarif pajak. Ini mendorong investasi dan mengurangi beban administrasi pada bisnis.
Reformasi ini juga membantu meningkatkan pendapatan pemerintah, yang kemudian digunakan untuk program-program pembangunan.

Nasionalisasi Sumber Daya Alam:
Putin memperkuat kontrol negara atas industri minyak dan gas, yang merupakan sektor vital bagi ekonomi Rusia. Perusahaan-perusahaan besar seperti Yukos dinasionalisasi atau diambil alih oleh perusahaan milik negara seperti Gazprom dan Rosneft.
Langkah ini memastikan bahwa pendapatan dari sumber daya alam digunakan untuk kepentingan negara dan mendukung stabilitas ekonomi.

Diversifikasi Ekonomi:
Meski tergantung pada minyak dan gas, Putin juga mendorong diversifikasi ekonomi dengan mengembangkan sektor-sektor lain seperti teknologi, pertanian, dan manufaktur.
Investasi dalam infrastruktur dan pendidikan juga ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Politik Luar Negeri dan Kekuatan Militer
Putin telah berhasil mengembalikan Rusia sebagai kekuatan utama di panggung internasional melalui kebijakan luar negeri yang tegas dan modernisasi militer.

Kebijakan Luar Negeri yang Tepercaya:
Putin mengambil pendekatan yang tegas terhadap Barat, menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Rusia dan menentang ekspansi NATO.
Aliansi dengan negara-negara seperti China dan Iran diperkuat, sementara Rusia juga berperan aktif dalam konflik global seperti di Suriah.

Modernisasi Militer:
Putin menginvestasikan banyak dana dalam modernisasi militer Rusia, memastikan bahwa angkatan bersenjata Rusia memiliki teknologi dan kemampuan yang canggih.
Program-program latihan militer dan pengembangan senjata baru, seperti sistem pertahanan udara S-400 dan rudal hipersonik, telah meningkatkan kemampuan pertahanan dan daya tawar Rusia di panggung internasional.

Pelajaran dari Kepemimpinan Putin
Kepemimpinan Putin menawarkan beberapa pelajaran penting dalam bernegara, meski beberapa di antaranya kontroversial dan menimbulkan kritik internasional.

Prioritas pada Stabilitas:
Stabilitas politik dan keamanan adalah fondasi untuk pembangunan negara. Langkah-langkah tegas untuk mengatasi ancaman internal dan memperkuat kontrol pusat dapat memastikan bahwa pemerintah dapat berfungsi efektif.

Reformasi Ekonomi yang Bijaksana:
Reformasi pajak yang menyederhanakan dan menurunkan tarif dapat mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Kontrol atas sumber daya alam strategis juga penting untuk memastikan bahwa pendapatan negara dapat digunakan untuk pembangunan.

Kebijakan Luar Negeri yang Mandiri:
Menjaga kemandirian dalam kebijakan luar negeri dan menolak campur tangan asing dapat memperkuat posisi internasional sebuah negara. Aliansi strategis dan modernisasi militer juga penting untuk mempertahankan keamanan dan pengaruh global.

Kritik dan Kontroversi
Kepemimpinan Putin juga menghadapi banyak kritik, baik dari dalam negeri maupun internasional. Beberapa kebijakan dan tindakan yang diambil dianggap melanggar hak asasi manusia dan prinsip demokrasi.

Hak Asasi Manusia dan Demokrasi:
Penanganan oposisi politik dan pembatasan kebebasan pers di Rusia sering mendapat kritik keras dari komunitas internasional. Banyak yang melihat tindakan ini sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan prinsip demokrasi.
Pemilu di Rusia juga sering dianggap tidak bebas dan tidak adil, dengan banyak laporan tentang kecurangan dan manipulasi.

Korupsi:
Meskipun Putin berusaha mengurangi korupsi di tingkat regional, korupsi di kalangan elit politik dan bisnis tetap menjadi masalah serius di Rusia. Banyak yang menuduh bahwa sistem pemerintahan Putin sendiri dipenuhi dengan nepotisme dan penyalahgunaan kekuasaan.

Kesimpulan
Kepemimpinan Vladimir Putin dalam membangun Rusia memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya stabilitas politik, reformasi ekonomi yang bijaksana, dan kebijakan luar negeri yang mandiri. Namun, pendekatan yang diambil juga mengandung risiko dan kontroversi, terutama terkait dengan hak asasi manusia dan demokrasi. Negara lain dapat belajar dari keberhasilan dan kesalahan Putin dalam membangun Rusia, sambil menyesuaikan pendekatan mereka dengan konteks dan nilai-nilai nasional mereka sendiri. (Heri)

Ukraina Tetap Bertahan Melawan “Goliat” Rusia

JAYAKARTA NEWS – Sudah lebih dari 10 hari serangan Rusia terhadap Ukraina berlangsung. Sudah lebih dari 1,5 juta warga Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Modolva, Polandia, dan negara-negara Eropa lainnya.

Sementara perundingan menuju gencatan senjata dan mungkin perdamaian sudah tiga ronde dilakukan tanpa hasil. Dan ronde ke-4 akan dimulai Senin, 7 Maret 2022.

Di sisi lain, krisis kemanusian telah memaksa IMF (International Monetary Fund) akan mengucurkan dana darurat sebesar 1,4 miliar dolar AS untuk Ukraina. Namun perang juga telah mengacaukan perekonomian dunia, yang tampak dari naik tajamnya harga energi dan biji-bijian (termasuk kedelai).

Dalam pernyataan IMF, disebutkan “Saat situasi tidak jelas dan akhir (dari perang) sangat tidak pasti, konsekuensi ekonomi sudah sangat serius. Perang dan sanksi-sanksi (terhadap Rusia) punya dampak sangat buruk bagi perekonomian global.”

Ditambahkan, syok ekonomi akan dirasakan di seluruh dunia. Lembaga keuangan dunia ini juga mendorong setiap negara memberikan bantun keuangan kepada masyarakat miskin. IMF juga memperingatkan kerusakan ekonomi makin berat jika perang makin meluas dan lama.

Presiden Rusia Vladimir Putin kelihatannya ingin mengenyahkan pemerintahan demokratis Ukraina dan menggantinya dengan pemerintahan yang mendukung Rusia. Dia punya konsep mistis Russky Mir (Dunia Rusia).

Namun apakah mungkin, memang ada preseden di Belarusia, yang pemerintahannya sekarang mendukung Rusia. Bahkan ada kemungkinan negara tetangga Ukraina ini ikut serta mengirimkan pasukannya mendukung serangan pasukan Rusia. Dan juga ingat Chechnya, yang juga jadi pendukung Putin. Pasukan Rusia punya kekuatan sangat besar dan bisa dipastikan akan berhasil menguasai Ukraina, yang jauh lebih kecil.

Namun penguasaan militer di satu wilayah belum tentu artinya perlawanan selesai. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pada saat negara kritis, membuktikan dia seorang pemimpin sejati. Mantan comedian keturunan Yahudi ini terus menerus menyemangati rakyatnya untuk melawan pasukan Rusia melalui media sosial.

Mengingatkan kita akan Bung Tomo dengan pidato berapi-api dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Zelensky bisa saja selfie di jalan-jalan di ibukota Kiev dan menyatakan “Ya tut” atau “Saya di sini”. Dia tetap bertahan di sebuah bunker di Kiev dan secara terus-menerus mengabarkan serangan roket Rusia dan korban-korban sipil kepada Parlemen Eropa dengan tekanan emosi yang besar.

Zelensky lahir dan besar di Kryvyi Rih, kota industry besi baja di tenggara Ukraina. Di tempat ini ribuan warga Ukraina, terutama keturunan Yahudi, tewas ditangan pendudukan Nazi di era Perang Dunia II. Prestasi akademisnya biasa-biasa saja, dia mendirikan sebuah kelompok comedian, yang Bernama Kvartal 95. Pada tahun 2015, dia membintangi sebuah film komedi berjudul “Pelayan Rakyat”.

Film parodi ini melukiskan Vasyl holoborodko (diperankan oleh Zelensky) seorang guru SMA yang ngomel terus menerus mengenai perilaku korup para politisi. Film ini sangat terkenal dan rakyat Ukraina sangat terkesan dengan kejujurannya…… beberapa saat kemudian dia jadi presiden.

Sebenarnya sikap tegas Zelensky sudah bisa dirasakan ketika dia bentrok dengan Presiden AS Donald Trump tahun 2019 lalu. Ketika itu, Trump meminta Ukraina menyelidiki kegiatan bisnis Joe Biden (belakangan jadi presiden AS) di Ukraina. Namun dia menolak. Kemudian,Trump mengancam akan menahan bantuan militer ratusan juta dolar kepada Ukraina. Karena itu, tidak mengherankan sikap Trump, minggu lalu, dia mengomentari invasi Rusia sebagai langkah “jenius”.

Zelensky menyatakan tidak akan keluar dari Ukraina, saat tank-tank Rusia mulai memasuki negerinya. Rakyat Ukraina, yang sebelum perang dukungannya melemah, langsung berdiri dibelakang presidennya. “Dia punya indra keenam mengenai apa yang dikehendaki rakyat. Pada saat krisis, dia jadi saluran energi rakyat dan jadi sinar terang,” tukas gor Novikov, mantan penasehat presiden.

Namun kalau melihat jalannya pertempuran memang akan sangat terasa berat sebelah. Kota-kota utama Ukraina, seperti Kharkiv, Mariupol, dan lannya sudah terkepung dan terus dihujani bom dan roket. Pasukan Rusia juga sudah menyerang dan menguasai kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa.

Melihat sepak terjang Putin, dia tidak akan menahan serangan. Dua puluh dua tahun lalu, dia menghancurkan Grozny, ibukota Chechnya, yang menewaskan ribuan warga sipil. Sekarang, pemerintahan Chechnya jadi pendukung Rusia (baca: Putin) dan mengirimkan ribuan tentaranya mendukung serbuan Rusia.

Namun, kali ini reaksi internasional memang diluar perkiraan Putin. Yang pernah mengobarkan pertempuran perbatasan di Georgia tahun 2008 dan menginvasi Krimea dan Donbas tahun 2014 lalu. Sanksi-sanksi ekonomi serius telah membuat perekonomian Rusia bisa dibilang berantakan. Mata uang Ruble jatuh dan bursa saham terpaksa ditutup sejak awal minggu lalu. Bank-bank Swiss membekukan asset-aset Rusia.

Bahkan Jerman secara mendadak meningkatkan belanja militernya dan bergerak cepat untuk membatasi ketergantungan energi (terutama gas) kepada Rusia. Sejumlah lembaga olah raga internasional, termasuk International Olympic Committee, FIFA dan UEFA menghukum Rusia dengan mengeluarkan negara itu dari kancah kompetisi olah raga internasional. Termasuk juga penyelenggaraan balapan F1.

Sudah tidak terhitung perusahaan swasta yang keluar dari Rusia dan mendukung sanksi ekonomi. Rusia terlihat sendirian menghadapi dunia. Situasi sangat berbeda saat Putin menghantam tetangganya dulu.

Satu-satunya orang yang bisa menghentikan kerusakan lebih besar di Ukraina, berupa bencana kemanusiaan, dan Rusia, bencana ekonomi dan akibat ikutannya adalah orang yang memulai perang ini. Yaitu Putin.

Zelensky sendiri sangat sadar akan kenyataan. “Ini bukan film” tukasnya. Bagaimana nasib negerinya dan dirinya? Saat ini, tidak ada yang tahu. (Leo dari berbagai sumber)

Oktober Rusia Luncurkan Vaksin Covid 19, Anak Vladimir Putin telah Injeksi Vaksin

JAYAKARTA NEWS— Vaksin Covid 19 yang ditunggu-tunggu masyarakat dunia akan diluncurkan Oktober 2020 mendatang. Rusia, bisa jadi, menjadi negara pertama yang meluncurkan vaksin tersebut. Mengutip dari telegraph.co.uk, pejabat kesehatan Rusia menyatakan, vaksin tersebut akan ditawarkan kepada para medis paling cepat bulan ini, sebelum diluncurkan pada Oktober mendatang untuk masyarakat umum yang secara sukarela mau menggunakannya.

Langkah Rusia yang segera meluncurkan vaksin Covid 19 ini menimbulkan reaksi beragam. Namun Presiden Vladimir Putin mengatakan keyakinannya bahwa vaksin tersebut aman dan telah diuji pada salah satu putrinya. Tapi Putin tidak menyebutkan pada putri yang mana vaksin itu telah diberikan.

Moskow memuji perkembangan cepat vaksin tersebut sebagai bukti kecakapan medisnya, tetapi para ilmuwan telah menyuarakan keprihatinan tentang kurangnya pengujian dan transparansi.

Berbicara pada pertemuan pemerintah di televisi pemerintah, Putin mengatakan vaksin yang dikembangkan oleh Institut Gamaleya Moskow, aman. “Saya tahu ini bekerja cukup efektif, membentuk kekebalan yang kuat, dan saya ulangi, sudah lolos semua pemeriksaan yang diperlukan,” katanya.

Putin mengatakan putrinya memiliki suhu 38C pada hari injeksi vaksin pertama tapi kemudian turun menjadi 37C pada hari berikutnya. “Dia merasa sehat dan memiliki jumlah antibodi yang tinggi,” tambah Putin tanpa menyebutkan siapa di antara dua putrinya yang ambil bagian dalam uji coba.

Perlombaan Moskow untuk menjadi yang pertama mengembangkan vaksin virus corona menjadi berita utama bulan lalu ketika pemerintah Inggris menuduh peretas Rusia menargetkan penelitiannya sendiri ke daerah tersebut. Kremlin membantah tuduhan tersebut.

Kirill Dmitriev, Kepala Russian Direct Investment Fund, mengatakan, negaranya telah menerima pesanan lebih dari satu miliar dosis vaksin dari 20 negera.

Vaksin tersebut diberi nama “Sputnik V”, seperti nama satelit Soviet. Rusia merupakan negara pertama yang mendaftarkan vaksin Covid-19. Banyak ilmuan yang skeptis terkait keputusan Rusia yang mendaftarkan vaksin itu sebelum menjalani uji klinis tahap III yang biasanya berlangsung berbulan-bulan dan melibatkan ribuan orang. Kirill Dmitriev, mengatakan uji coba tahap tiga vaksin ini akan dimulai Rabu.

“Ini adalah keputusan yang sembrono dan bodoh. Vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat adalah tidak etis. ” kata Profesor Francois Balloux dari Institut Genetika Universitas College London.

“Masalah apa pun dengan kampanye vaksinasi Rusia akan menjadi bencana baik melalui efek negatifnya pada kesehatan, tetapi juga karena itu akan semakin menghambat penerimaan vaksin di masyarakat.”

“Tidak jelas persis apa yang sebenarnya terjadi dengan vaksin Rusia,” kata Dr Michael Head, Senior Research Fellow di Global Health di University of Southampton.

“Sangat penting bahwa setiap peluncuran vaksin memiliki kepercayaan masyarakat umum, dan bahwa ada komunikasi yang baik tentang tingkat efektivitas dan kemungkinan efek samping. Saat ini, tidak ada data tentang vaksin yang dipimpin Rusia untuk diteliti oleh komunitas kesehatan global. “

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan setiap cap persetujuan WHO pada kandidat vaksin Covid-19 akan memerlukan tinjauan data keamanan yang ketat.

Minggu ini, asosiasi perusahaan farmasi multinasional Rusia juga menyerukan tes lebih lanjut pada obat tersebut.

Lebih dari 100 kemungkinanuji coba vaksin sedang dikembangkan di seluruh dunia untuk mencoba menghentikan pandemi Covid-19. Setidaknya empat berada dalam uji coba manusia Fase III terakhir, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia.

Rusia secara resmi telah mendaftarkan hampir 900.000 infeksi dan lebih dari 15.000 kematian akibat virus korona. Proporsi yang lebih rendah daripada negara-negara lain yang terkena dampak parah.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memuji perkembangan Rusia dalam vaksin dan mengatakan dia siap untuk secara pribadi berpartisipasi dalam uji coba apa pun.

“Saya akan memberi tahu Presiden Putin bahwa saya memiliki kepercayaan besar pada studi Anda dalam memerangi Covid dan saya percaya bahwa vaksin yang Anda hasilkan benar-benar baik untuk kemanusiaan,” kata Duterte. ***/ebn dari berbagai sumber

“Diplomasi Anjing Labrador” Putin kepada Merkel

“PERSETERUAN” antara Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin memang klasik. Pernah kejadian, ketika Merkel berkunjung ke Moskow awal 2006, Putin memperlihatkan gaya ‘permainannya’ dengan memberi hadiah boneka anjing —-meskipun dia sudah diperingatkan Merkel tidak suka anjing. Setahun kemudian, ketika sedang berunding di Laut Hitam, dia membiarkan anjing Labrador hitamnya (anjing ini bertubuh besar) memasuki ruangan perundingan.

Toomas Ilyes, mantan presiden Estonia, menggambarkan permainan anjing itu sebagai (intimidasi) klasik KGB. Dia mengatakan Merkel tidak akan mempunyai pandangan ilusi terhadap Rusia dan dia sangat memahami bagaimana Rusia di bawah Putin. “(Ingat) dia besar di negeri Stasi (Jerman Timur). Tentu saja dia mengerti semuanya,” tukasnya.

Kendati begitu, Merkel tetap meneruskan tradisi Jerman untuk secara teratur bertemu dengan para pemimpin Rusia, memposisikan diri sebagai perantara antara Eropa dengan Rusia. Dan tentu saja tetap mempertahankan hubungan dagang, yang sudah belangsung ratusan tahun, antara Jerman dengan Rusia.

Merkel juga melakukan ‘permainannya’ dengan membela demokrasi dan hak azasi manusia.Dia bertemu dengan tokoh-tokoh oposisi Rusia dan menyatakan kemarahannya atas pembunuhan wartawan pro-demokrasi dan kritis terhadap Kremlin (pemerintahan Putin) Anna Politkovskaya pada tahun 2006.

Beberapa hari setelah pembunuhan, Putin kembali mengunjungi Dresden.Dia dan Merkel mengadakan jumpa pers bersama.Saat itu, Putin kehilangan kontrol emosinya dan meledak setelah ditanya soal pembunuhan Politkovskaya. Ledakan emosi Putin dipotong dan tidak disiarkan. Namun para pemirsa sempat melihat Putin memuji Merkel sebagai orang yang bersedia mendengar dan digambarkan sebagai karakteristik yang langka dari perempuan.

Konstantin Eggert, wartawan Rusia yang sering mewawancarai Merkel, mengatakan Kremlin tidak pernah bisa memahami Merkel. Mereka percaya dia sama seperti kanselir sebelumnya yang akan mengikuti apa saja kemauan kalangan bisnis Jerman dan mengikuti tradisi Politik Timur. “Tapi dia (Merkel) tidak menghamba siapa pun, atau apa pun,” tukasnya.

Kohl menerima Gorbachev dengan pelukan sahabat. Schroder (kanselir sebelum Merkel) juga memberi sambutan yang sama, tapi tidak bagi Merkel. “Dia selalu tidak menyukai pendekatan semacam itu,” tutur Stefan Kornelius, penulis biografi Merkel.

Merkel telah membuat kagum Putin dengan kemampuannya memahami persoalan secara detil. Pengetahuan Merkel mengenai Rusia dan kebudayaannya serta kesiapan dia untuk mempertahankan pandangannya —- sama seperti yang selalu dilakukan Putin. Dalam konferensi keamanan di Munich, yang dihadiri Merkel, Putin dengan tegas menyatakan dia menentang Barat dan mengecam dominasi Amerika dalam urusan dunia.

Karl-Theodor zu Gutenberg, mantan menteri pertahanan Merkel, menceritakan ketika banyak pendengar pidato Putin, termasuk para pejabat Amerika, sangat kaget mendengar pernyataan itu. Merkel terlihat sama sekali tidak terkejut. Dia selalu waspada terhadap strategi Putin.

Namun Merkel pernah juga salah perhitungan.Dalam pertemuan NATO di tahun 2008, dia menentang masuknya Georgia dan Ukraina kedalam NATO. Pernyataan bersama hanya menyebutkan kedua negara bisa jadi anggota NATO di masa depan.

Putin memandang NATO ingin merangkul negara-negara bekas Pakta Warsawa.Dan karena tidak ada perlindungan NATO, dia kemudian, menginvasi Georgia dan akhirnya di tahun 2014 menganeksasi Crimea dari Ukraina.Dalam hal ini Putin benar; NATO tidak berindak apa-apa.

Persaingan Jerman dan Rusia (Merkel vs Putin) masih terus berlanjut. Merkel hampir pasti (menurut jajak pendapat) akan terpilih kembali. Namun, menurut pengamat politik, dia tidak lagi sekuat secara politis seperti masa jabatan sebelumnya.Sementara Rusia dituduh ikut campur pemilihan umum Jerman dengan mengangkat isu pengungsi, negara–negara yang ingin keluar dari Uni Eropa, dan radikal Islam. *** (Sumber: New York Times)

Merkel Kuasai Jerman, Putin Kuasai Rusia

BAGAIMANA sosok Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, dan kaitannya dengan Angela Merkel pada khususnya, dan Jerman (Timur) pada umumnya? Putih dalam satu kesempatan mengatakan, keruntuhan Jerman Tmur dan Uni Soviet sebagai bencana geopolitik terbesar pada abad 20.

“Kita sebenarnya bisa menghindari sejumlah masalah jika Soviet tidak tergesa-gesa keluar dai Eropa Timur,” tutur Putin kepada wartawan, yang ditugaskan Kremlin untuk menulis buku mengenai dirinya, pada tahun 2000 lalu.

Putin, seorang agen KGB, melihat dengan kekuatiran dari Dresden.Bos Stasi setempat, yang bekerjasama dengan KGB, ditahan dan akhirnya bunuh diri. Putin, belakangan, menceritakan bagaimana kerumunan orang yang marah berkumpul di depan kantor KGB. Karena kuatir diserang, Putin sempat menelepon meminta bantuan perlindungan dari militer Soviet, yang pangakalannya berlokasi dekat kantor KGB. Namun permintaan Putin ditolak dengan alasan perintah harus langsung dari Moskow. “Moskow diam saja. Ada perasaan bahwa negara itu sudah lenyap,” ungkap Putin. Kerumunan orang itu akhirnya bubar sendiri.

Belakangan Putin menuturkan pelajaran yang dia peroleh dari keruntuhan Jerman Timur; Kekuasaan haruslah digengam dengan kuat di dalam negeri dan di luar, jika Rusia ingin menghindari nasib seperti Uni Soviet. “Uni Soviet punya penyakit yang tidak ada obatnya: kelumpuhan kekuasaan.”

Kedua tokoh Eropa, Angela Merkel dan Vladimir Putin memperoleh posisi tertinggi di negara masing-masing kalau bukan karena “kecelakaan” bisa juga disebut “tidak diharapkan”. Putin, yang tidak dikenal di dunia internasional dan bahkan di dalam negeri, menjadi presiden Rusia setelah Boris N. Yeltsin secara dramatis mengundurkan diri di Tahun Baru 1999.

Di sisi lain, Merkel menjadi ketua Partai Uni Kristen Demokrat — partai kanan tengah — dengan menyingkirkan mentornya, mantan kanselir Helmut Kohl. Merkel, yang dipandang sebelah mata sebagai politisi perempuan, membuktikan kemampuannya ketika memperoleh kursi kanselir Jerman pada pemilu tahun 2005. ***

Terhadap Putin, Merkel tidak “Baper”

ANGELA Merkel adalah politisi kawakan Jerman. Ia bertumbuh dan besar di Jerman Tumur. Dalam satu kesempatan, Merkel mengambarkan ia tumbuh di negara kediktatoran. Dia belajar dan terbiasa mementahkan semua jargon politik Uni Soviet yang deras menerpa melalui berbagai media.

“Kami harus menghadapi hal ini setiap hari,” tuturnya dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel pada tahun 2009. “Adalah suatu mujizat, kami mampu belajar meninggalkan semua itu.”

Tidaklah heran kalau Merkel tidak ‘baper’ (bawa perasaan) dengan Rusia. Di era Jerman terpisah, beberapa anggota Partai Sosial Demokrat ( Merkel bergabung dengan partai ini), yang hidup di Jerman Barat, menyerukan rekonsiliasi dengan Soviet — Politik Timur yang jadi kebijakan ‘dentete’ era tahun 1970-an.

Sementara di Jerman Timur, Stasi (badan intelejen Jerman Timur) dan KGB (badan intelijen Rusia) mengawasi warga di negara blok Soviet, yang paling luas jaringan intelejen negaranya. Kemiskinan dan saling tidak percaya menghinggapi warga, namun, menurut Merkel, tidak seorang pun berpikir bahwa sistem negara polisi itu bisa runtuh.

“Ketika itu hampir tidak seorang pun percaya (keruntuhan) bisa terjadi. Maka terjadilah,” kenangnya.

Bagi Merkel pelajaran keruntuhan Jerman Timur adalah menyelesaikan persoalan, seperti konflik di Ukraina, membutuhkan waktu lama dan kesabaran jadi sangat penting. Bagi Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, yang sangat ingin ‘menghancurkan’ kohesi Uni Eropa, pelajarannya adalah sistem politik, yang kelihatannya tak terkalahkan, bisa mendadak rentan dan hancur. ***