Empat Tahun Berperang Rusia Kehilangan 350.000 Tentaranya, Putin: ‘Kemenangan akan Selalu Milik Kita!

JAYAKARTA NEWS— Vladimir Putin mengklaim perang di Ukraina ‘akan segera berakhir’ setelah bersikeras bahwa Rusia berjuang untuk ‘tujuan yang adil’ melawan Barat. Dilansir Daily Mail, komentar tersebut muncul setelah Moskow menyelenggarakan parade militer yang jauh lebih sederhana pada hari Sabtu, menandai kemenangan Soviet dalam Perang Dunia Kedua.

Selama empat tahun perang dengan Ukraina, Rusia telah kehilangan 350.000 tentaranya.

Pemimpin Rusia itu juga menegaskan bahwa ia hanya akan bertemu dengan presiden Ukraina Volodymyr Zelensky setelah kesepakatan perdamaian yang langgeng disepakati.

‘Pertemuan di negara ketiga juga dimungkinkan, tetapi hanya setelah perjanjian perdamaian yang bertujuan untuk perspektif historis jangka panjang diselesaikan,’ kata Putin kepada wartawan.

‘Ini harus menjadi kesepakatan akhir, bukan negosiasi.’

Sementara saat parade baru lalu, Putin di depan wartawan dan para pemimpin asing, mengatakan: ‘Saya pikir masalah ini akan segera berakhir’.

Namun, beberapa jam sebelumnya, Putin telah menggunakan pidato Hari Kemenangannya untuk membenarkan konflik tersebut.

Dalam pidato tersebut, ia mengatakan negaranya sedang berjuang dalam perang yang ‘adil’ dan menyebut Ukraina sebagai ‘kekuatan agresif’ yang ‘dipersenjatai dan didukung oleh seluruh blok NATO’.

Pernyataannya muncul beberapa hari setelah terungkap bahwa lebih dari 350.000 tentara Rusia telah tewas saat bertempur dalam perang empat tahun tersebut.

Kemudian, ketika ditanya dalam konferensi pers tentang bantuan Barat kepada Ukraina, Putin mengatakan: ‘Mereka (Barat) menjanjikan bantuan dan kemudian mulai memicu konfrontasi dengan Rusia yang berlanjut hingga hari ini.’

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy/Foto: Instagram zelenskiy.01.fan

Namun ia melanjutkan dengan menambahkan: ‘Kemenangan selalu dan akan selalu menjadi milik kita. Kunci keberhasilan adalah kekuatan moral, keberanian, dan kegagahan kita, persatuan kita, dan kemampuan kita untuk menanggung apa pun dan mengatasi tantangan apa pun.’

Putin mengatakan ia telah mendengar bahwa Zelensky siap untuk mengadakan pertemuan pribadi, tetapi menambahkan, ‘ini bukan pertama kalinya kami mendengar pernyataan seperti itu’.

Komentar tersebut muncul ketika Rusia merayakan Hari Kemenangan tahunannya di Moskow, dalam parade militer terbesar di negara itu.

Namun, tahun ini, untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, parade tersebut berlangsung tanpa tank, rudal, dan senjata berat lainnya, selain atraksi terbang lintas pesawat tempur tradisional.

Hal ini disebabkan kekhawatiran bahwa Ukraina mungkin telah menargetkan Lapangan Merah Rusia dengan drone.

Para pejabat Rusia menambahkan bahwa perubahan format yang tiba-tiba dan drastis tersebut disebabkan oleh ‘situasi operasional saat ini’, yang mengarah pada ancaman serangan Ukraina.

Jumlah jurnalis yang hadir jauh lebih sedikit, dengan banyak organisasi media internasional tidak diberikan akses.

Dan pihak berwenang juga memerintahkan pembatasan akses internet seluler dan layanan pesan teks di ibu kota Rusia pada hari Sabtu.

Untuk pertama kalinya, parade hari Sabtu juga menampilkan pasukan dari Korea Utara – sebagai penghormatan kepada Pyongyang, yang mengirimkan tentaranya untuk bertempur bersama pasukan Moskow untuk mengusir serangan Ukraina ke wilayah Kursk Rusia.

Raja Malaysia Sultan Ibrahim Iskandar, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, dan pemimpin otoriter Belarusia Alexander Lukashenko menghadiri perayaan di ibu kota Rusia.

Putin memuji para tamu asing yang menghadiri parade tersebut atas ‘keberanian pribadi’ mereka, dan mencatat bahwa mereka telah memutuskan untuk datang ke Moskow sebelum gencatan senjata yang ditengahi oleh Trump meredakan kekhawatiran keamanan.

Putin mengatakan kepada wartawan setelah parade bahwa parade tersebut tidak menampilkan persenjataan berat karena militer membutuhkannya di medan perang di Ukraina.

Namun, gencatan senjata menit terakhir antara Moskow dan Kyiv, yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump, mengurangi bahaya serangan apa pun, dan parade tersebut berlangsung tanpa insiden. (di/Sumber: Daily Mail)

Jika Amerika dan Sekutunya Tolak Hadiri KTT G20, Indonesia Kemungkinan akan Melakukan Ini

Oleh: Martin Hutabarat

JAYAKARTA NEWS— Indonesia berpeluang dua tahun menjadi Tuan Rumah KTT G20, kalau KTT G20 tidak jadi diadakan tahun ini. Diperkirakan kalau tidak ada kemajuan dalam perundingan Rusia dan Ukraina yang sedang berlangsung sekarang, dimana Rusia tetap tidak mau mundur dan Ukraina, diduga Negara Amerika, Eropa Barat dan sekutunya yang lebih 70% dari Anggota G20 itu, akan meminta Indonesia untuk tidak mengundang Rusia hadir di Bali pada bulan Oktober 2022 ini. 

Permintaan itu tentu sulit dipenuhi oleh Indonesia melihat hubungan kita yang juga cukup dekat dengan Rusia.  Akibatnya diperkirakan, Amerika dan sekutunya akan menolak untuk hadir di Bali bulan Oktober ini. 

Sebab rasa-rasanya sulit bagi mereka menerima duduk semeja dengan Presiden Putin, bicara-bicara dan berfoto-foto di tengah penderitaan jutaan rakyat Ukraina dimana puluhan ribu rakyatnya meninggal dan lebih 5 juta orang mengungsi ke negara lain akibat invasi Rusia yang telah berlangsung sebulan ini.  

Sekarang pun masih sulit diperkirakan kapan invasi Rusia ini  berakhir. Sehingga sanksi-sanksi yang diberikan Amerika, NATO ke Rusia juga bisa berkepanjangan.

Dihadapkan dengan dilema semacam itu, Indonesia tentu akan lebih memilih menunda pelaksanaan Pertemuan G20 bulan Oktober 2022 ini ke waktu yang lebih tepat sesudah Rusia menarik pasukannya dari Ukraina dan ketegangan hubungan yang diakibatkan invasi itu antara Rusia dan Amerika, Eropa Barat Cs, sudah mereda. 

Bagi Amerika, Eropa Barat dan sekutunya NATO,  menghadiri KTT G20  akan sulit mempertanggung jawabkannya secara moral kepada masyarakat dunia, bahwa di tengah ketegangan, kecaman, tekanan serta sanksi-sanksi ekonomi, teknologi, politik, dll, yang diberikan Amerika, Eropa Barat dan sekutunya ke Rusia, mereka bertemu dengan Presiden Putin membicarakan persoalan global secara bersama-sama dalam suatu forum di KTT G20. 

Mereka akan menganggap itu sebagai tanda kemenangan Rusia di tengah kampanye besar-besaran yang dilakukan Amerika dan sekutunya untuk mengucilkan Rusia.***  

Penulis adalah  Pemerhati politik Luar Negeri, mantan Anggota Komisi 1 DPR dan Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI

Ukraina Tetap Bertahan Melawan “Goliat” Rusia

JAYAKARTA NEWS – Sudah lebih dari 10 hari serangan Rusia terhadap Ukraina berlangsung. Sudah lebih dari 1,5 juta warga Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Modolva, Polandia, dan negara-negara Eropa lainnya.

Sementara perundingan menuju gencatan senjata dan mungkin perdamaian sudah tiga ronde dilakukan tanpa hasil. Dan ronde ke-4 akan dimulai Senin, 7 Maret 2022.

Di sisi lain, krisis kemanusian telah memaksa IMF (International Monetary Fund) akan mengucurkan dana darurat sebesar 1,4 miliar dolar AS untuk Ukraina. Namun perang juga telah mengacaukan perekonomian dunia, yang tampak dari naik tajamnya harga energi dan biji-bijian (termasuk kedelai).

Dalam pernyataan IMF, disebutkan “Saat situasi tidak jelas dan akhir (dari perang) sangat tidak pasti, konsekuensi ekonomi sudah sangat serius. Perang dan sanksi-sanksi (terhadap Rusia) punya dampak sangat buruk bagi perekonomian global.”

Ditambahkan, syok ekonomi akan dirasakan di seluruh dunia. Lembaga keuangan dunia ini juga mendorong setiap negara memberikan bantun keuangan kepada masyarakat miskin. IMF juga memperingatkan kerusakan ekonomi makin berat jika perang makin meluas dan lama.

Presiden Rusia Vladimir Putin kelihatannya ingin mengenyahkan pemerintahan demokratis Ukraina dan menggantinya dengan pemerintahan yang mendukung Rusia. Dia punya konsep mistis Russky Mir (Dunia Rusia).

Namun apakah mungkin, memang ada preseden di Belarusia, yang pemerintahannya sekarang mendukung Rusia. Bahkan ada kemungkinan negara tetangga Ukraina ini ikut serta mengirimkan pasukannya mendukung serangan pasukan Rusia. Dan juga ingat Chechnya, yang juga jadi pendukung Putin. Pasukan Rusia punya kekuatan sangat besar dan bisa dipastikan akan berhasil menguasai Ukraina, yang jauh lebih kecil.

Namun penguasaan militer di satu wilayah belum tentu artinya perlawanan selesai. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pada saat negara kritis, membuktikan dia seorang pemimpin sejati. Mantan comedian keturunan Yahudi ini terus menerus menyemangati rakyatnya untuk melawan pasukan Rusia melalui media sosial.

Mengingatkan kita akan Bung Tomo dengan pidato berapi-api dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Zelensky bisa saja selfie di jalan-jalan di ibukota Kiev dan menyatakan “Ya tut” atau “Saya di sini”. Dia tetap bertahan di sebuah bunker di Kiev dan secara terus-menerus mengabarkan serangan roket Rusia dan korban-korban sipil kepada Parlemen Eropa dengan tekanan emosi yang besar.

Zelensky lahir dan besar di Kryvyi Rih, kota industry besi baja di tenggara Ukraina. Di tempat ini ribuan warga Ukraina, terutama keturunan Yahudi, tewas ditangan pendudukan Nazi di era Perang Dunia II. Prestasi akademisnya biasa-biasa saja, dia mendirikan sebuah kelompok comedian, yang Bernama Kvartal 95. Pada tahun 2015, dia membintangi sebuah film komedi berjudul “Pelayan Rakyat”.

Film parodi ini melukiskan Vasyl holoborodko (diperankan oleh Zelensky) seorang guru SMA yang ngomel terus menerus mengenai perilaku korup para politisi. Film ini sangat terkenal dan rakyat Ukraina sangat terkesan dengan kejujurannya…… beberapa saat kemudian dia jadi presiden.

Sebenarnya sikap tegas Zelensky sudah bisa dirasakan ketika dia bentrok dengan Presiden AS Donald Trump tahun 2019 lalu. Ketika itu, Trump meminta Ukraina menyelidiki kegiatan bisnis Joe Biden (belakangan jadi presiden AS) di Ukraina. Namun dia menolak. Kemudian,Trump mengancam akan menahan bantuan militer ratusan juta dolar kepada Ukraina. Karena itu, tidak mengherankan sikap Trump, minggu lalu, dia mengomentari invasi Rusia sebagai langkah “jenius”.

Zelensky menyatakan tidak akan keluar dari Ukraina, saat tank-tank Rusia mulai memasuki negerinya. Rakyat Ukraina, yang sebelum perang dukungannya melemah, langsung berdiri dibelakang presidennya. “Dia punya indra keenam mengenai apa yang dikehendaki rakyat. Pada saat krisis, dia jadi saluran energi rakyat dan jadi sinar terang,” tukas gor Novikov, mantan penasehat presiden.

Namun kalau melihat jalannya pertempuran memang akan sangat terasa berat sebelah. Kota-kota utama Ukraina, seperti Kharkiv, Mariupol, dan lannya sudah terkepung dan terus dihujani bom dan roket. Pasukan Rusia juga sudah menyerang dan menguasai kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa.

Melihat sepak terjang Putin, dia tidak akan menahan serangan. Dua puluh dua tahun lalu, dia menghancurkan Grozny, ibukota Chechnya, yang menewaskan ribuan warga sipil. Sekarang, pemerintahan Chechnya jadi pendukung Rusia (baca: Putin) dan mengirimkan ribuan tentaranya mendukung serbuan Rusia.

Namun, kali ini reaksi internasional memang diluar perkiraan Putin. Yang pernah mengobarkan pertempuran perbatasan di Georgia tahun 2008 dan menginvasi Krimea dan Donbas tahun 2014 lalu. Sanksi-sanksi ekonomi serius telah membuat perekonomian Rusia bisa dibilang berantakan. Mata uang Ruble jatuh dan bursa saham terpaksa ditutup sejak awal minggu lalu. Bank-bank Swiss membekukan asset-aset Rusia.

Bahkan Jerman secara mendadak meningkatkan belanja militernya dan bergerak cepat untuk membatasi ketergantungan energi (terutama gas) kepada Rusia. Sejumlah lembaga olah raga internasional, termasuk International Olympic Committee, FIFA dan UEFA menghukum Rusia dengan mengeluarkan negara itu dari kancah kompetisi olah raga internasional. Termasuk juga penyelenggaraan balapan F1.

Sudah tidak terhitung perusahaan swasta yang keluar dari Rusia dan mendukung sanksi ekonomi. Rusia terlihat sendirian menghadapi dunia. Situasi sangat berbeda saat Putin menghantam tetangganya dulu.

Satu-satunya orang yang bisa menghentikan kerusakan lebih besar di Ukraina, berupa bencana kemanusiaan, dan Rusia, bencana ekonomi dan akibat ikutannya adalah orang yang memulai perang ini. Yaitu Putin.

Zelensky sendiri sangat sadar akan kenyataan. “Ini bukan film” tukasnya. Bagaimana nasib negerinya dan dirinya? Saat ini, tidak ada yang tahu. (Leo dari berbagai sumber)

Stop Invasi Rusia ke Ukraina, Sikap Tepat Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR-RI mendukung posisi Indonesia dalam Sidang Umum PBB, yang bersama 140 negara lain menyetujui Resolusi PBB meminta Rusia menyetop invasi ke Ukraina. Martin menyampaikan hal itu di Jakarta, hari ini (4/3/2022).

Keikutsertaan Indonesia mendukung resolusi tersebut adalah cara yang tepat dalam mengekspresikan politik Luar Negeri Indonesia yang bebas aktif dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. 

Martin Hutabarat, mantan Anggota DPR Komisi 1 ini tidak sependapat dengan Guru Besar Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, yang menyayangkan sikap Indonesia yang mendukung resolusi PBB tersebut karena mengekor ke Amerika dan tidak sesuai dengan arahan Presiden Jokowi dalam pernyataannya baru-baru ini, tidak menyalahkan siapa-siapa dan bahkan tidak menyebut invasi Rusia sama sekali. 

Menurut Martin Hutabarat, yang juga lulusan Universitas Indonesia, dalam hubungan internasional, Indonesia harus tegas dalam setiap kesempatan menyuarakan sikap politik luar negeri yang anti penjajahan dan mendukung perdamaian serta ketertiban dunia. Itu adalah perintah UUD 1945 dan ekspresi pergumulan kita sebagai bangsa sejak kemerdekaan tahun 1945. 

“Kita tidak boleh malu-malu atau setengah hati dalam menegaskan sikap politik Luar Negeri kita ini. Kita harus tegas menolak invasi Rusia ke Ukraina yang telah menyengsarakan puluhan juta rakyat,” tegas Martin Hutabarat.

Tanpa ketegasan sikap, negara-negara lain tidak akan menghargai politik luar negeri Indonesia. Sebab, sikap tidak tegas bisa dimaknai plin plan atau tidak punya pendirian. Yang penting, kata Martin, kita tidak berlebihan atau terlihat seolah-olah arogan dalam menyampaikan politik luar negeri. Sikap tidak setuju invasi Rusia terhadap Ukraina telah dinyatakan Indonesia secara proporsional. (rr)

Perang Rusia Vs Ukraina, Tim Indonesia Batal ke Polandia

JAYAKARTA NEWS— Tim bulutangkis Indonesia akhirnya harus menarik diri dari ajang bulutangkis Polish Open International Challenge 2022. Ajang ini akan digelar pada 24-27 Maret di kota Arłamów, Polandia.

Pembatalan ini direkomendasikan langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia, Anita Luhulima, lewat pesan singkat kepada PP PBSI hari Jumat (25/2).

Dalam pesannya, Anita menyampaikan untuk membatalkan keikutsertaan tim bulutangkis Indonesia menyusul invasi militer Rusia ke Ukraina yang berbatasan langsung dengan Polandia.

Berbekal rekomendasi dari Dubes RI untuk Polandia, setelah menggelar rapat internal, akhirnya PP PBSI memutuskan untuk membatalkan pengiriman pemain. Pembatalan tersebut semata-mata demi keamanan dan keselamatan pemain.

“Untuk keamanan dan keselamatan atlet-atlet kita, maka kami menerima rekomendasi Dubes RI untuk Polandia dengan menarik keikutsertaan dari Polish Open,” ucap Broto Happy, Kabid Humas dan Media PP PBSI.

“Ibu Duta Besar RI untuk Polandia menyampaikan bahwa kondisi Ukraina saat ini sedang memanas akibat serangan militer Rusia dan berimbas kepada negara-negara yang berbatasan langsung seperti Polandia ini. Situasi tidak menentu dan bisa berubah setiap saat,” lanjut Broto.

Sedianya PP PBSI akan mengirimkan atlet-atlet pelapis dan junior di ajang ini.

“Tadinya ajang ini akan dijadikan sebagai unjuk gigi para pebulutangkis pelapis dan junior. Tapi kami paham bahwa keselamatan dan keamanan adalah hal terpenting. Kami juga akan mencari alternatif turnamen lainnya setelah ini,” pungkas Broto.***/din