Kolom
Rumah yang Melahirkan Tiga Arus Besar Indonesia
Tjokroaminoto, Soekarno, Kartosuwiryo, Musso, dan Pergulatan Panjang Bangsa Indonesia
Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol ’86’
PENDAHULUAN
Dalam sejarah Indonesia terdapat banyak tokoh besar.
Ada Soekarno sang Proklamator.
Ada Mohammad Hatta sang negarawan.
Ada Jenderal Sudirman sang panglima gerilya.
Ada Agus Salim sang diplomat ulung.
Namun ada satu tokoh yang sering disebut, tetapi mungkin belum sepenuhnya dipahami besarnya pengaruhnya terhadap perjalanan bangsa Indonesia.
Tokoh itu adalah H.O.S. Tjokroaminoto.
Banyak orang mengenalnya sebagai pemimpin Sarekat Islam.
Sebagian mengenalnya sebagai guru Soekarno.
Namun jika kita melihat lebih dalam, mungkin peran Tjokroaminoto jauh lebih besar daripada itu.
Karena dari lingkungan yang dibangunnya lahir tokoh-tokoh yang kemudian mewakili tiga arus besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Arus kebangsaan.
Arus Islam politik.
Dan arus keadilan sosial revolusioner.
Ketiga arus inilah yang mewarnai perjalanan Indonesia sejak awal abad ke-20 hingga hari ini.
RUMAH KECIL DENGAN PENGARUH BESAR
Ketika membahas sejarah Indonesia, perhatian kita sering tertuju pada peristiwa-peristiwa besar.
Kebangkitan Nasional.
Sumpah Pemuda.
Proklamasi Kemerdekaan.
Revolusi Fisik.
Orde Lama.
Orde Baru.
Reformasi.
Namun jauh sebelum semua itu terjadi, sejarah seolah telah menyiapkan sebuah ruang pertemuan bagi berbagai gagasan besar yang kelak membentuk Indonesia.
Ruang itu bukan istana.
Bukan markas militer.
Bukan pula gedung pemerintahan.
Melainkan sebuah rumah sederhana di Peneleh, Surabaya.
Di sanalah Soekarno muda pernah belajar.
Di sanalah berbagai diskusi, perdebatan, dan pencarian arah bangsa berlangsung.
Dan dari sanalah lahir tokoh-tokoh yang kemudian membawa Indonesia ke arah yang berbeda-beda.
TIGA ARUS BESAR INDONESIA
Jika disederhanakan, perjalanan bangsa Indonesia sepanjang abad ke-20 dapat dibaca sebagai pergulatan tiga arus besar.
Arus pertama adalah nasionalisme.
Arus yang meyakini bahwa persatuan bangsa harus menjadi fondasi utama Indonesia.
Arus ini kemudian menemukan salah satu tokoh terbesarnya dalam diri Soekarno.
Arus kedua adalah Islam politik.
Arus yang meyakini bahwa nilai-nilai Islam harus menjadi fondasi utama kehidupan bernegara.
Arus ini antara lain tercermin dalam perjuangan Kartosuwiryo dan gerakan Darul Islam.
Arus ketiga adalah keadilan sosial revolusioner.
Arus yang memandang bahwa kemerdekaan politik tidak akan berarti tanpa perubahan sosial dan ekonomi yang mendasar.
Arus ini salah satunya diwakili oleh Musso.
Ketiga arus tersebut berbeda.
Kadang bekerja sama.
Kadang berseberangan.
Kadang bertabrakan secara terbuka.
Namun ketiganya sama-sama lahir dari kegelisahan yang sama:
Bagaimana membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan, ketidakadilan, dan keterbelakangan?
SATU GURU, TIGA MASA DEPAN INDONESIA
Di sinilah sejarah Indonesia menjadi menarik.
Biasanya seorang guru melahirkan murid yang mengikuti jalan pikirannya.
Namun Tjokroaminoto justru melahirkan murid-murid yang kemudian mengambil arah berbeda.
Soekarno menempuh jalan nasionalisme.
Kartosuwiryo menempuh jalan negara Islam.
Musso menempuh jalan revolusi sosial.
Seolah-olah dari satu rumah lahir tiga kemungkinan masa depan Indonesia.
Pertanyaan besar pun muncul:
Apa sebenarnya yang diajarkan Tjokroaminoto?
Kalau yang diajarkan adalah nasionalisme, mengapa lahir Kartosuwiryo?
Kalau yang diajarkan adalah Islam politik, mengapa lahir Soekarno?
Kalau yang diajarkan adalah sosialisme, mengapa lahir Musso?
Fakta sejarah menunjukkan bahwa murid-murid Tjokroaminoto tidak menjadi salinan dirinya.
Mereka justru berkembang menjadi tokoh-tokoh yang memiliki jalan pikirannya masing-masing.
Di sinilah letak keunikan Tjokroaminoto.
Ia tidak menghasilkan keseragaman.
Ia menghasilkan keberanian berpikir.
KEYAKINAN, IDEOLOGI, DAN PELAJARAN SEJARAH
Ada satu hal yang perlu dipahami secara jernih.
Tjokroaminoto tidak melahirkan teroris.
Tjokroaminoto tidak mendidik murid-muridnya untuk menjadi pemberontak.
Tjokroaminoto juga tidak mencetak calon presiden.
Yang ia lakukan adalah membangunkan manusia-manusia yang memiliki keyakinan kuat terhadap jalan yang mereka pilih.
Ketika keyakinan itu bertemu dengan pergolakan sejarah, perang kemerdekaan, benturan ideologi global, dan perebutan arah bangsa yang baru lahir, sebagian berkembang menjadi gerakan nasionalisme, sebagian menjadi gerakan negara Islam, dan sebagian menjadi gerakan revolusi sosial.
Sejarah Indonesia kemudian mencatat berbagai peristiwa besar.
Pemberontakan Madiun 1948.
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.
Pergulatan ideologi pada masa Demokrasi Liberal.
Tragedi politik tahun 1965.
Semua itu menunjukkan bahwa ide, keyakinan, dan cita-cita dapat menjadi energi pembangunan bangsa, tetapi juga dapat menjadi sumber konflik apabila tidak diimbangi oleh kebijaksanaan dan kompas moral.
Mungkin di sinilah salah satu pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari sejarah Indonesia.
APA YANG SEBENARNYA DIAJARKAN TJOKROAMINOTO?
Semakin jauh kita merenungkan perjalanan Soekarno, Kartosuwiryo, dan Musso, semakin muncul satu kemungkinan menarik.
Mungkin yang diajarkan Tjokroaminoto bukanlah ideologi.
Mungkin yang dibangunkannya adalah kesadaran.
Kesadaran tentang kemerdekaan.
Kesadaran tentang harga diri.
Kesadaran tentang martabat manusia.
Kesadaran tentang tanggung jawab terhadap bangsa.
Kesadaran untuk berpikir merdeka.
Kesadaran untuk berani mengambil risiko demi sesuatu yang diyakini benar.
Mungkin karena itulah murid-muridnya berbeda arah, tetapi sama-sama menjadi tokoh sejarah.
TJOKROAMINOTO, ISQ, DAN MQ
Dalam konteks inilah saya melihat relevansi konsep ISQ.
Selama ini kita mengenal IQ sebagai kecerdasan intelektual.
EQ sebagai kecerdasan emosional.
SQ sebagai kecerdasan spiritual.
Namun perjalanan sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki manusia-manusia yang pintar.
Bangsa juga membutuhkan manusia yang memiliki kompas moral.
Manusia yang mampu membedakan benar dan salah.
Manusia yang berani mempertahankan prinsip ketika menghadapi tekanan.
Manusia yang mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan dirinya sendiri.
Inilah yang saya sebut sebagai MQ atau Moral Quotient.
Mungkin di sinilah salah satu rahasia Tjokroaminoto.
Ia tidak menciptakan murid yang seragam.
Ia membentuk manusia yang memiliki keberanian moral untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini.
Dan keberanian moral seperti itu tidak lahir dalam semalam.
Ia dibentuk oleh pendidikan, keteladanan, karakter, dan kesadaran.
PANCASILA SEBAGAI JALAN TENGAH INDONESIA
Ketika Indonesia merdeka, pergulatan tiga arus besar tersebut tidak berhenti.
Bangsa ini harus menentukan arah.
Apakah Indonesia akan menjadi negara agama?
Apakah Indonesia akan menjadi negara ideologi kelas?
Apakah Indonesia akan menjadi negara nasionalis semata?
Perdebatan itu berlangsung panjang.
Namun akhirnya Indonesia memilih jalan yang unik.
Pancasila.
Dalam perspektif sejarah, Pancasila dapat dipahami sebagai sintesis besar bangsa Indonesia.
Ketuhanan mendapat tempat.
Persatuan mendapat tempat.
Keadilan sosial mendapat tempat.
Pancasila tidak menghapus perbedaan.
Pancasila mengelola perbedaan.
Karena itulah Indonesia tetap berdiri sebagai satu bangsa hingga hari ini.
Mungkin di sinilah letak kejeniusan para pendiri bangsa.
Mereka tidak memaksakan satu arus untuk menang mutlak.
Mereka mencari jalan agar Indonesia tetap menjadi satu rumah bersama.
PERGULATAN ITU TERNYATA BELUM SELESAI
Jika dibaca dari sudut pandang sejarah, pergulatan yang dahulu terjadi antara nasionalisme, Islam politik, dan keadilan sosial sesungguhnya belum pernah benar-benar berakhir.
Bentuknya saja yang berubah.
Hari ini perdebatan tidak lagi berlangsung di rumah Tjokroaminoto atau sidang BPUPKI.
Perdebatan itu hadir dalam bentuk baru.
Antara identitas dan kebangsaan.
Antara kebebasan dan persatuan.
Antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial.
Antara kemajuan teknologi dan moralitas.
Karena itu pertanyaan yang dahulu dihadapi generasi Tjokroaminoto ternyata masih hidup hingga Indonesia tahun 2026.
MENGAPA PERTANYAAN ITU TERUS KEMBALI?
Ada satu hal yang menarik dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa.
Sejarah tidak selalu mengulang peristiwanya.
Tetapi sejarah sering mengulang pertanyaannya.
Dulu generasi Tjokroaminoto bertanya:
Bagaimana bangsa ini harus merdeka?
Hari ini kita bertanya:
Bagaimana bangsa ini tetap merdeka di tengah arus globalisasi, teknologi, kecerdasan buatan, dan persaingan dunia yang semakin kompleks?
Dulu perdebatan terjadi antara nasionalisme, Islam politik, dan revolusi sosial.
Hari ini perdebatan hadir dalam bentuk baru.
Antara identitas dan kebangsaan.
Antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.
Antara kebebasan individu dan kepentingan bersama.
Antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Bentuknya berubah.
Bahasanya berubah.
Tokohnya berubah.
Tetapi pertanyaan dasarnya sering kali tetap sama.
Karena itu memahami sejarah bukan sekadar menghafal nama tokoh dan tahun peristiwa.
Memahami sejarah berarti memahami pertanyaan-pertanyaan besar yang terus muncul dari generasi ke generasi.
PENUTUP
Mungkin warisan terbesar Tjokroaminoto bukanlah Sarekat Islam.
Bukan pula murid-murid besarnya.
Warisan terbesarnya adalah keyakinan bahwa kemerdekaan bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang memimpinnya.
Ideologi dapat berubah.
Partai politik dapat berganti.
Pemerintahan dapat datang dan pergi.
Teknologi dapat berkembang melampaui imajinasi manusia.
Namun karakter tetap menjadi fondasi.
Karena bangsa yang kehilangan karakter akan mudah kehilangan arah.
Bangsa yang kehilangan kompas moral akan mudah kehilangan tujuan.
Dan bangsa yang kehilangan kesadaran sejarah akan mudah mengulangi kesalahan yang sama.
Mungkin karena itulah Tjokroaminoto tidak berusaha mencetak murid yang seragam.
Ia tidak membangun pabrik ideologi.
Ia membangunkan manusia.
Manusia yang berani berpikir.
Manusia yang berani bermimpi.
Manusia yang berani memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak rumah sederhana di Peneleh itu menjadi tempat berkumpulnya para pemuda yang gelisah memikirkan masa depan bangsanya.
Namun mungkin jejak terpenting yang ditinggalkan rumah itu bukanlah organisasi.
Bukan pula ideologi.
Melainkan kesadaran.
Kesadaran bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah yang dipersatukan oleh batas geografis.
Indonesia adalah perjalanan panjang untuk mencari keseimbangan antara Ketuhanan, Persatuan, dan Keadilan Sosial.
Perjalanan itu belum selesai.
Dan mungkin tidak akan pernah selesai.
Karena setiap generasi akan menghadapi pertanyaannya sendiri.
Tetapi selama bangsa ini masih memiliki manusia-manusia yang menjaga karakter, moral, dan kesadaran kebangsaannya, harapan itu akan tetap hidup.
Mungkin dari rumah sederhana di Peneleh itu, Indonesia tidak hanya sedang mempersiapkan kemerdekaannya.
Indonesia sedang belajar menemukan jiwanya.
Jakarta, 2 Juni 2026
Brigjen Purn. MJP Hutagaol ’86’
