Rektor UIN Sunan Kalijaga: Pendidikan Inklusif Penangkal Radikalisme

 Rektor UIN Sunan Kalijaga: Pendidikan Inklusif Penangkal Radikalisme

JAYAKARTA NEWS – Menangkal paham radikalisme harus dilakukan sejak pendidikan dasar. Kurikulum pendidikan nasional seyogyanya disempurnakan dengan menambahkan materi pendidikan lintas iman khususnya di ingkup pendidikan dasar sehingga terbangun sikap inklusif sejak dini. Siswa perlu diajari mengenal agama-agama lain termasuk aliran kepercayaan agar terbiasa menghadapi keberagaman bukan sebaliknya diarahkan pada pola pikir dan perilaku ekslusivisme yang mengunci daya kritis dan sikap moderat.

Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Prof. Dr.Phil. Al-Makin, S.Ag., M.A mengungkapkannya dalam diskusi virtual (meeting zoom) bersama sembilan rektor perguruan tinggi negeri dan swasta DIY yakni UGM, UII, UPN, UWMY, UAD, ISI, USD dan UAJY pada Rabu (21/4) lalu. Diskusi digelar dalam rangka sosialisasi gerakan Indonesia Raya Bergema yang diinisiasi Forum Rakyat Yogyakarta untuk Indonesia (For You Indonesia).

Indonesia Raya Bergema adalah gerakan kampanye berkelanjutan untuk menjaga dan merawat nasionalisme dengan mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara kontinyu di ruang-ruang publik seperti lembaga pendidikan, instansi pemerintah, perkantoran swasta, pusat perbelanjaan dan tempat lainnya.

Gerakan Indonesia Raya Bergema rencana dicanangkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 20 Mei 2021 mendatang di Yogyakarta.

Prof. Al-Makin, selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga mengatakan bahwa saat ini kebangsaan merosot, intoleransi meningkat, radikalisme meningkat. Oleh karena perlu menjadi perhatian bersama, yang tidak sekadar simbolik, jika sekadar simbol akan sangat sulit diterima generasi milenial, namun aksi konkrit bersama-sama seluruh pemangku kepentingan, apalagi perguruan tinggi.

“Berdasarkan penelitiannya di seluruh Indonesia, pengetahuan para siswa maupun mahasiswa Indonesia tentang tradisi agama, budaya yang tidak dipunyai oleh dirinya itu sangat minim. Para pemuda Muslim itu tidak mengenal apa itu Hindu, apa itu Kristen, Katolik, Kong Hu Cu, aliran kepercayaan, dan sebaliknya.   Seyogyanya masing-masing iman itu saling mengenal satu dengan yang lainnya dan mereka mendapatkan pengetahuannya valid, tidak kira-kira. Jadi orang Islam mengenal yang lain bukan berasal dari terminologinya sendiri, seperti ahli kitab, “kafir”, dan sebaliknya orang Hindu, Budha, Kristen itu mengenal Islam juga dari orang Islam langsung,” ungkap Al-Makin.

Lebih lanjut Al-Makin menjelaskan, di dalam kurikulum kita tidak ada, sayang sekali itu, oleh karena itu penting dipikirkan perombakan kurikulum nasional tentang antariman sangat diperlukan.

Kedua, imbuhnya, perlunya pendidikan kritis, sehingga pengajaran Pancasila tidak lagi sebagai doktrin, akan tetapi Pancasila sebagai cara berpikir, Pancasila tidak sekadar hapalan. Namun bagaimana menjadi Pancasilais: berBhinneka Tunggal Ika, ber persatuan Indonesia, berkeadilan, mensejahterakan, ini harus dikuasai cara berpikirnya.  Dan harus dimulai sedini mungkin, dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi, tegas Al-Makin.

Ketua For You Indonesia, Subkhi Ridho mengungkapkan  pihaknya telah mempersiapkan berbagai program kegiatan untuk memperkuat ideologisasi Pancasila. Menurutnya ada dua hal utama. Pertama edukasi tentang Pancasila khususnya di kalangan muda dengan metode inovatif bukan indoktrinatif, disesuaikan dengan semangat zaman. Pendidikan butir-butir Pancasila sangat diperlukan sebagai pedoman sikap dan perilaku berbangsa-bernegara.

Kedua mendorong praktik-praktik atau implementasi Pancasila secara riil di masyarakat dengan dukungan penuh dari pemerintah, dan dunia usaha tentang penguatan ekonomi Pancasila misalnya. Ini harus digaungkan bersama-sama, ungkap aktivis muda Muhammadiyah ini.

Dalam jangka pendek For You Indonesia hendak menggelorakan Indonesia Raya Bergema di ruang-ruang publik, dengan harapan gerakan dari Yogyakarta ini menyebar ke seluruh pelosok negeri. Pemerintah pusat dan lembaga-lembaga negara terkait seyogyanya turut menyambut gerakan menjaga nasionalisme ini, sederhana namun mengandung nilai-nilai yang sangat penting bagi generasi hari ini dan kedepan. 

For You Indonesia merupakan perhimpunan aktivis kebangsaan lintas kalangan. Pegiatnya beragam profesi: pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pekerja seni, aktivis ormas, wirausaha, jurnalis. For You Indonesia siap bersinergi dengan segenap komponen bangsa untuk memperkokoh nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI. (*/gde)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *