Connect with us

Feature

Ratusan Spiritualis Bangkitkan Energi Candi Kedulan

Published

on

https://rri.co.id/yogyakarta/wisata. (sumber foto: https://rri.co.id/yogyakarta/wisata)

Gde Mahesa

Candi Kedulan ibarat candi yang “bangun dari tidur” setelah ditemukan. Seperti halnya Nusantara, dengan fondasi Austronesia yang terkubur zaman, tetapi nilai-nilai identitasnya tak pernah sirna.

Candi Kedulan adalah situs peribadatan Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Candi ini sangat unik karena tertimbun material vulkanik Gunung Merapi sedalam 6-7 meter selama berabad-abad dan ditemukan tidak sengaja oleh penambang pasir pada tahun 1993.

Situs ini berada di Dusun Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Posisinya jauh lebih rendah dari permukaan tanah akibat endapan lahar. Hal itu menjadikannya Kedulan lansekap yang menyerupai Candi Sambisari.

Berdasarkan pembacaan Prasasti Sumundul, Prasasti Pananggaran, dan Prasasti Tlu Ron, candi ini dulunya didukung oleh sebuah bendungan yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian, dan candi ini berlatar belakang Hindu aliran Siwa, dibuktikan dengan temuan arca seperti Mahakala, Nandiswara, Durga, Ganesha, Agastya, serta Lingga-Yoni di dalam bilik utama.

Dalam merayakan ulang tahun sebuah forum budaya di Yogyakarta ” Srawung Paseduluran Anggara Kasih ” bergandengan dengan ” STAK ” (Satuan Team Anti Kriminalitas) berencana membuat hajat besar sekaligus memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia bertepatan pada malam Selasa Kliwon di bulan Agustus 2026.

Bentuk kegiatannya sebuah ritual budaya bernama Umbul Kidung Puja Mantra. Kegiatan ini sudah berjalan 2 kali, dan yang akan datang persembahan ritual yang ke 3. Kegiatan ini merupakan edukasi tuntunan adat dan adab tradisi budaya   yang sekaligus menjadi tontonan budaya bagi masyarakat.

Adapun harapan dari penyelenggara adalah apa yang disajikan dapat memantik rasa cinta terhadap warisan tradisi budaya, dengan menghidupkan kembali upacara ritual sebagai “banyu suci”, penyeimbang kehidupan berbangsa dan masyarakat pada umumnya, sebagai bukti nyata bahwa ” Bangsa yang besar, adalah bangsa yang mengenal adat budayanya “.

Hal ini tentunya juga sebagai langkah “Nguri-uri warisan leluhur Candi Kedulan sebagai ruang madhyama, bukan museum mati”.  Selain juga sebagai media silaturahmi paseduluran antar forum dan kelompok khususnya para pelaku tradisi budaya dimanapun berada.

Adapun tema yang akan diangkat pada saat malam Anggara Kasih nanti adalah :
Serat ilmu ” Jalma Unggul Kawula Kaya ” yang merujuk pada pekerti, dan kepemimpinan Asia Tenggara Kepulauan, dan bertujuan membentuk manusia-manusia unggul, agar memiliki kecakapan hidup serta menentukan kesejahteraan hidup.

Prosesi acara ini “bukan sekedar kidungan”, tetapi ruang hening untuk menyatukan napas para spiritualis serta pecinta adat tradisi budaya dengan rasa dan logika. Langit serta tanah di Candi Kedulan yang terpendam & bangkit kembali menjadi simbol untuk keseimbangan semesta.

Kebanyakan orang mengakhiri doa dengan mengusap muka. Tapi di Candi Kedulan, para terpilih akan mengepalkan tangan. Karena di dalam kepalan yang nantinya ditipu sebagai akhir doa ibarat Kidhung Bayu Manunggal. Doa yang dipadatkan menjadi intan, dan ditiupkan sebagai napas, sebagai prana, sebagai urip.

Sebanyak 350 pasang kepalan tangan akan meniupkan napas estafet leluhur, menyempurnakan kesucian Candi Kedulan.

Srawung Paseduluran ANGGARA KASIH dan STAK tidak meminta dan berharap apa-apa, tidak menolak apa-apa. Hanya berusaha hadir. Seperti batu Candi Kedulan yang diam setelah ribuan tahun terkubur, tapi tetap menjadi poros.

Bullllll… Bullll …. klepussss…..

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement