Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the zox-news domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Doa Tulah Kidung Puja Mantra - Jayakarta News
Notice: Function WP_Styles::add was called incorrectly. The style with the handle "ql-main" was enqueued with dependencies that are not registered: ql-bootstrap. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.9.1.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Connect with us

Feature

Doa Tulah Kidung Puja Mantra

Published

on

Selasa Kliwon, malam Rabu Legi, 26 Juni 2025, menjadi salah satu momen sakral bagi Srawung Paseduluran ANGGARA KASIH yang didampingi kelompok STAK, salah satu wadah dari 130-an ormas se-Jateng dan DIY. Mereka kembali menggelar hajat Tirakat Kebangsaan “Umbul Kidung Puja Mantra ke-2 ” sekaligus memperingati kemerdekaan dan HUT Srawung Paseduluran ANGGARA KASIH yang pertama.

Acara langka ini, telah mempertemukan, menyatukan kepedulian pada budaya bangsa, dimana para kasepuhan, penghayat spiritual, pelaku supranatural dan para penjaga tradisi Nusantara berbagai daerah bertemu di tempat sakral Candi Kedulan, Kalasan, Yogyakarta.

Dalam acara yang khidmat, belaian angin malam semakin menambah energi kekuatan semesta. Jagat raya seperti merestui kegiatan ini, yang juga dihadiri sesepuh Anggara Kasih Yani Saptohudoyo serta Eyang Ratih selaku wakil dari DPP FKPPAI, serta beberapa pejabat Kabupaten Sleman.

Duduk, Yani Saptohudoyo dan Eyang Ratih. Berdiri tengah: Gde Mahesa.

Menurut penanggung jawab acara, Gde Mahesa, acara ini merupakan bentuk ungkapan keresahan para pelaku budaya atas banyaknya isu ketidakadilan penguasa. Jika ormas atau kelompok pergerakan serta mahasiswa memilih demontrasi, maka kelompok ini memilih berdoa, meratap pada ibu bumi, bapa angkasa serta mentulah kepada para pemimpin yang tidak berpihak kepada rakyat, agar semesta menyadarkan dan menghukumnya.

Sebuah gerakan dengan makna baru tentang bagaimana spiritualitas bangsa ini sesungguhnya. Di bawah langit malam yang hening, setiap kidung dan mantra yang dilantunkan bukan sekadar suara, tetapi getaran energi yang menembus sukma, menyatukan jiwa-jiwa dalam satu ikatan kebangsaan yang luhur.

Umbul Kidung Puja Mantra adalah bentuk bakti pelaku budaya terhadap negeri dalam tema “Garuda Amurwa I Bhumi Nusantara.”

Burung Garuda melambangkan kekuatan dan semangat kebesaran, kejayaan, persatuan dalam keberagaman dan cita-cita luhur sebagai bangsa yang bercahaya. Garuda merupakan pangreksa, makluk supranatural yang bertugas menjaga kesemestaan , Penjaga kedaulatan negeri dari segala ancaman.

Salam Jaya Nusantara Raya

Pancasila ku puja

Tuhan Yang Maha Esa ku puji

Dirgahayu negeriku

Rahayu bangsaku

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement