Protokol Kesehatan Pariwisata, Bupati Azwar: Melanggar, Sertifikat Dicabut

 Protokol Kesehatan Pariwisata, Bupati Azwar: Melanggar, Sertifikat Dicabut

Bupati Azwar Anas mempromosikan Kopi Banyuwangi. Prinsipnya, semua bisa menjadi destinasi wisata. (foto: Dinas Pariwisata Banyuwangi)

JAYAKARTA NEWS— Keseriusan Banyuwangi dalam menegakkan aturan kesehatan sebagai syarat mutlak dibukanya kembali sektor pariwisata juga dibuktikan dengan pemberlakuan sertifikasi protokol kesehatan, sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi para pengunjung yang datang.

Sertifikasi protokol tersebut akan ditempel di beberapa obyek wisata, hotel, homestay, kafe, restoran, warung rakyat, lokasi wisata lainnya dan ditampilkan di aplikasi khusus agar mudah dicari oleh wisatawan.

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, apabila ada yang tidak menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah maka sertifikasi tersebut akan dicabut dan otomatis tidak boleh melanjutkan kegiatan usaha pariwisata.

“Jika melanggar, sertifikatnya dicabut,” jelas Bupati Azwar Anas sebagaimana dikutip dari info Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional.

Selain itu, muasal pemilihan Banyuwangi sebagai ‘pilot project’ untuk menyongsong kegiatan pariwisata mengingat daerah tersebut telah berangsur-angsur masuk dalam wilayah zona kuning dan berpotensi beralih ke hijau. Artinya terdapat kasus Covid-19, risiko rendah dan dapat dikendalikan.

Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo telah melihat sendiri bagaimana Banyuwangi menerapkan protokol kesehatan dengan baik ditambah adanya sertifikasi normal baru, sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi pengunjung.

“Saya melihat langsung bagaimana tempat wisata di Banyuwangi, telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik, bahkan lokasi ini sudah terpasang sertifikasi normal baru sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi pengunjung yang datang. Sertifikasi seperti ini harus diikuti oleh daerah lain,” tutur Doni.

Tak hanya itu, Doni Monardo juga mencoba langsung fasilitas wisata bersertifikasi sehat dan aman Covid-19 ketika santap siang bersama Bupati Azwar Anas di Sanggar Genjah Arum.

Keduanya menikmati suguhan kuliner khas Banyuwangi sambil bercengkerama berhadap-berhadapan dibatasi sekat mika transparan yang telah disesuaikan guna mencegah adanya paparan droplets yang keluar dari mulut dan hidung.

Kopai Osing, Sekali Seduh Kita Bersaudara

Sanggar Genjah Arum sendiri memang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Banyuwangi yang terletak di Desa Adat Kemiren, rumah bagi para pegiat seni budaya serta penikmat kopi.

Dari sanggar milik Setiawan Subekti, atau yang akrab dipanggil Iwan, para wisatawan dapat belajar tentang budaya Suku Osing sembari menikmati suguhan kuliner khas Kopai Osing.

Pak Iwan yang juga seorang ‘Q Grader’ atau pencicip kopi profesional kelas dunia berhasil mengangkat dan melestarikan budaya Suku Osing beserta kopinya.

Kopai atau kopi dalam dialek Suku Osing adalah rutinitas sehari-hari. Banyak kalangan artis hingga pejabat tinggi pemerintah yang sudah membuktikan sendiri kualitas kopi terbaik Banyuwangi yang ditanam pada ketinggian 1000 mdpl itu.

Jenderal Doni Monardo sendiri sudah beberapa kali singgah. Terakhir kali adalah pada tanggal 12 Agustus 2019 lalu, sebelum melepas bendera pataka Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami 2019 di Pantai Boom, Banyuwangi.

Dari tangan tester kopi kelas dunia Pak Iwan, kopi Banyuwangi turut melambung tinggi hingga ke luar negeri. Rupanya, sifat sederhana kopi yang hitam dan pahit menjadikan Kopi Banyuwangi memiliki identitasnya sendiri. Bagi Pak Iwan, Sekali Seduh Kita Bersaudara!, itu mottonya.

Bicara soal pariwisata bukan lagi hanya mengenai keindahan, kenikmatan ataupun harga yang bersahabat. Pariwisata pada masa pandemi juga harus mengutamakan kepercayaan wisatawan, dengan memperhatikan aspek rasa aman, nyaman dan sehat.***/di

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *