Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menggebrak Era ‘New Normal’

 Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menggebrak Era ‘New Normal’

Image credit: @adhiezhou28/ tripzilla.id

JAYAKARTA NEWS— Siapa tidak kenal keindahan alam Banyuwangi dan budayanya yang kental. Sebut saja Pantai Boom, Pulau Merah, Pantai So Long, pesona kawah biru Gunung Ijen, Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, Pecel Rawon hingga Tari Gandrung, Suku Osing, Kopi Banyuwangi dan banyak lagi.

Sayangnya selama pandemi Covid 19, tempat-tempat wisata itu ditutup guna menyetop penyebaran Covid 19 agar tidak semakin meluas. Walhasil pundi-pundi  ekonomi warga dari sektor pariwisata  ini terpaksa berhenti. Pendapatan masyarakat lokal dan para pelaku usaha di bidang pariwisata juga mengalami penurunan drastis.

Nah sekarang memasuki ‘New Normal’ Banyuwangi yang juga dijuluki ‘Sunrise of Java’ tengah bersiap-siap membuka kembali tempat-tempat wisata unggulan mereka.

Jumat pekan lalu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Jenderal TNI Doni Monardo yang juga  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jenderal TNI Doni Monardo berkunjung ke Kabupaten Banyuwangi. Bersama rombongan Doni memasuki Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Doni Monardo, Kepala BNPB dan Ketua Gugus TUgas Percepatan Penanganan Covid 19–foto Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional

Tari Pitik-Pitikan dan Barong Kemiren turut menyambut kehadiran sang jenderal yang juga memikul tugas sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, panglima perang melawan virus korona.

Sesampainya di pelataran sanggar, Doni Monardo yang juga ditemani Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kemudian menyaksikan bagaimana ibu-ibu tua Suku Osing menumbuk padi menggunakan lesung (othek) dan alu, sehingga menciptakan suara ketukan yang dinamis ditambah dengan suara percikan biji kopi yang disangrai secara tradisional menggunakan wajan tanah liat di atas ‘pawon’.

Tari Pitik-Pitikan, Barong Kemiren dan seni tabuhan ‘othek’ sengaja disuguhkan kepada dua tamu penting tadi sekaligus sebagai upaya memperkenalkan adat kebudayaan yang dimiliki Desa Kemiren, sebagai salah satu daya tarik pariwisata di Bumi Blambangan yang terus dilestarikan.

Menurut pemangku adat Suku Osing, Setyo Herfendy, pemilihan Tari Pitik-Pitikan dan Barong Kemiren sebagai ‘ritual penyambutan’ tentunya bukan tanpa alasan.

Menurutnya, Tari Pitik-Pitikan adalah simbol kesejahteraan. Sedangkan Barong adalah perwujudan dari singa atau harimau, yang mana dalam hal ini dapat mengusir roh jahat.

“Ayam pintar mencari rejekinya sendiri dengan mencakar-cakar kan kakinya ke tanah. Sedangkan Barong merupakan perwujudan dari singa atau harimau. Untuk mengusir roh jahat,” jelasnya.

Tampaknya, dua makna dari perpaduan antara sepasang Pitik dan Barong itu memang sudah sangat tepat apabila dikaitkan dengan arti kehadiran Ketua Gugus Tugas Nasional di wilayah paling ujung timur Pulau Jawa itu.

Hadirnya Ketua Gugus Tugas Nasional beserta Bupati Banyuwangi, sekaligus menjadi simbol bahwa sudah saatnya sektor pariwisata Banyuwangi mulai digenjot kembali, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat sebagai kebiasaan baru dan yang aman Covid-19.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga telah melihat langsung bagaimana Banyuwangi mempersiapkan diri untuk kembali membuka etalase wisata dunia yang aman Covid 19 pada Kamis (25/6). Hal itu sekaligus menjadi pertanda bahwa era tatanan baru harus diiringi dengan semangat produktif sekaligus aman Covid-19.

Sebagaimana diketahui bahwa ketika bicara mengenai Covid-19 maka hal itu tidak hanya mengenai aspek kesehatan saja akan tetapi juga berkenaan dengan permasalahan ekonomi.

Banyuwangi dalam hal ini menjadi wilayah yang sudah siap untuk menggerakkan roda ekonomi melalui sektor pariwisata.

Dalam hal ini, Banyuwangi dinilai sudah mengimplementasikan aturan pemerintah sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/382 tahun 2020 tentang protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid 19.

Sehingga apabila kembali menilik makna dari tari Pitik-Pitikan dan kehadiran Barong Kemiren tadi, maka hal itu menjadi simbol bahwa kesejahteraan rakyat harus mulai kembali dibangun dan tentunya diiringi dengan protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru yang aman dari ancaman ‘pageblug’ Covid-19.

Dalam hal ini perekonomian dari sektor wisata yang sehat dan aman Covid-19 menjadi agenda dan tatanan yang mutlak, sebagaimana yang juga telah diterapkan di Sanggar Genjah Arum, Kemiren, miniatur literasi budaya Suku Osing, suku asli Banyuwangi yang dilestarikan.***/di

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *