Prambanan Jazz Festival 2020 (Tanpa Penonton)

 Prambanan Jazz Festival 2020 (Tanpa Penonton)

Foto 1 : Nadin Amizah, pertama tampil di PJF (foto Kompas.com).

JAYAKARTA NEWS——- Meski pandemi Covid-19 masih merajalela, pergelaran ke-6 Prambanan Jazz Festival (PJF) tahun ini tetap digelar. Tapi konsepnya beda, para jazzer melantunkan suaranya dan menggebrak instrumen musiknya secara hibrida, dengan latar belakang candi Prambanan nan sakral. Sedangkan khalayak menonton virtual alias ‘daring’ di rumah masing-masing. Memang, nonton virtual kurang ‘menggigit’ dibanding menyaksikan langsung di depan mata. Apa boleh buat, the show must go on.

Di hari kedua, Minggu (1/11), langit sekitar candi Prambanan tidak bersahabat, dari malam turun hujan lebat. Beruntung beberapa musisi sudah merampungkan tugasnya, unjuk diri di panggung yang dimulai dari sore hari. TheEveryDay Band dari Jogjakarta tampil sebagai band pembuka. Sang vokalisnya, Reagina Maria mendendangkan 6 nomor, antara lain ‘You’, ‘Pesta’ dan ‘Ke Prambanan Jazz Lagi’ yang jadi lagu tema PJF 2020. Disusul Nadin Amizah, pendatang baru nan rupawan yang baru pertama unjuk kebolehan di PJF 2020. Nadin Amizah yang pernah berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan di Java Jazz Festival 2020 kali ini memperoleh aplus meriah.

Jelang magrib, langit menjadi gelap dan pencahayaan mulai digeber. Nun di latar belakang, tegak berdiri megah candi Prambanan. Coba cari di perhelatan festival jazz dunia, yang dihelat di area candi hanya ada di PJF. Orkes Sinten Remen dari Jogjakarta tampil sebagai jazzer berikut. Yang menarik, kelompok ini mengawinkan genre keroncong dengan unsur jazz. Orkes yang dibentuk seniman Djaduk Ferianto (almarhum) ini menyajikan Tribute to Djaduk Ferianto yang wafat 13 November 2019 yang lalu. “Jangan nangis ya..jangan bersedih…,” ajak Endah Laras, vokalis. Kemudian, Endah Laras melantunkan suara merdunya dalam lagu ‘Ayo Ngguyu’, ‘Syair Kerinduan’, ‘Geef mij maar nasi goreng’ (yang berlirik bahasa Belanda) dan ‘Es Lilin’ dari Jawa Barat.

Tatkala solois Pamungkas tampil menggantikan Sinten Remen, mendadak sontak byuuurrrr…turun hujan lebat. Air menggenangi area candi. Panggung menjadi licin. Langit seketika gelap. Pamungkas tak bisa meneruskan penampilannya. Tak lama kemudian hujan reda, giliran Ardhito Pramono yang belakangan sedang ‘in’ di kalangan milenial. Ardhito Pramono yang sukses bermain di film ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ (NKCTHI) dan baru saja menyelesaikan sekuelnya ‘The Story of Kale’ menyapa dengan nomor ‘Say Hello’ dan disusul lagu ‘Trash Talkin’. Belum usai, Ardhito terpeleset di lantai panggung nan licin. Sampai kacamata Ardhito terlempar. Tampilan Ardhito harus dihentikan karena hujan turun lagi. Biar apes, Ardhito masih bisa tertawa. “Semoga gue jatuh tadi bawa kita lebih beruntung…,” canda Ardhito cekikikan.

Di hari pertama, Sabtu (31/10), dokter Tompi unjuk diri membawakan lagu bernuansa Maluku berjudul ‘Rame Rame’ yang dinyanyikan Glenn Fredly (almarhum) saat masih di band Funk Section. “Lagu ini untuk mengenang sahabat Glenn Fredly,” kata Tompi. Bersama Shandy Sondoro, Tompi dan Glenn Fredly membangun Trio Lestari. Nyaris Tompi meminta khalayak bertepuk tangan. Untung dia masih ingat, ini konser tanpa penonton, tanpa tepuk riuh penonton. “Kayak pernikahan ke tiga, pengunjung cukup nonton di rumah,” gelak Tompi.

Sebagai penutup PJF di hari I, Mohammad Tulus dan kawan-kawannya menggebrak 6 lagu yaitu ‘Gajah’, ‘Monokrom’, ‘Labirin’ dan 3 nomor yang lain. Last but not least : biar tanpa penonton dan konsepnya virtual, tapi PJF tetap mengasyikkan. Aman dan nyaman. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *