Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the zox-news domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Ajaran Daun Pisang - Jayakarta News
Notice: Function WP_Styles::add was called incorrectly. The style with the handle "ql-main" was enqueued with dependencies that are not registered: ql-bootstrap. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.9.1.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Connect with us

Kolom

Ajaran Daun Pisang

Published

on

Gde Mahesa

Daun pisang bukan sekadar pembungkus. Di Nusantara, dia adalah salah satu simbol tertua peradaban Austronesia, jauh sebelum kertas dan piring ada.

Asal-Usul Kosmologis
Pisang adalah tanaman asli Asia Tenggara. Nenek moyang Austronesia 4.000 tahun lalu tidak membawa padi saja saat berlayar, mereka membawa bonggol pisang. Karena itu, di hampir semua mitologi Austronesia, pisang adalah Pohon Kehidupan pertama

Logikanya: Pisang tumbuh tanpa biji, dari tunas anak di samping induknya. Mati satu tumbuh seribu. Bagi manusia purba, ini adalah keabadian yang bisa dilihat mata. Ia tidak pernah benar-benar mati.

Maka lahirlah mitos di Papua, Maluku, sampai Polinesia tentang manusia pertama yang lahir dari pohon pisang, atau tentang Dewi yang jasadnya menjadi pisang untuk memberi makan manusia.

Di Jawa, jejak tertua adalah mitos Dewi Sri. Dalam Serat Sri Sadono, Dewi Sri membunuh diri karena menolak cinta ayahnya, dan dari tubuhnya tumbuh semua bahan pangan: dari kepalanya tumbuh kelapa, dari tangannya padi, dan dari pusarnya pisang. Daunnya yang lebar adalah selendang pelindungnya.

Pada era Hindu-Buddha dianggap sebagai daun kesucian.
Dalam Veda, daun pisang disebut Kadali Patra, daun kesayangan Dewa Wisnu dan Laksmi. Sampai sekarang di India Selatan, makan di atas daun pisang adalah wajib untuk upacara pernikahan karena dianggap paling suci dan steril.

Di Jawa dan Bali, konsep itu menyatu dengan konsep Tripitaka Loka.
Filosofinya menjadi 3 lapis :

  1. Wijaksana (Alas): Daun pisang selalu menghadap ke bawah, merunduk. Tapi ia menutupi dan melindungi apa yang ada di bawahnya. Simbol pemimpin dan orang tua yang mengayomi.
  2. Fleksibel tapi Tidak Mudah Sobek: Daun pisang kalau dilipat tidak patah, kalau sobek sobekannya lurus mengikuti urat. Ini menjadi filosofi Jawa: aja kaku, nanging aja gampang bedhah ( jangan kaku, tapi jangan mudah pecah prinsip ). Ikuti alur hidup (urat daun).
  3. Sifat Tidak Menyerap: Daun pisang dilapisi lilin alami, air tidak menempel. Dalam filosofi Bali disebut Tan Leketan artinya hidup di dunia tapi tidak terikat dunia. Suci karena tidak menyimpan sisa. Makanya dipakai sebagai alas banten dan canang. Setelah dipakai, ia kembali ke tanah dalam 2 minggu, tidak meninggalkan sampah.

Pada masa Kerajaan hingga kini, teknologi leluhur kita pintar sekali memilih daun pisang. Ini logika sains yang baru kita pahami sekarang:

  1. Logika Anti-Bakteri dan Steril: Daun pisang mengandung polifenol alami. Membungkus makanan dengan daun pisang mencegah basi lebih lama daripada plastik. Mengukus di dalamnya membuat aroma hexanal menguap, memberi wangi manis yang menenangkan
  2. Logika Piring Termurah dan Teradil: Di tradisi Bancakan, Megibung di Bali, atau Botram Sunda, makan di atas daun pisang panjang yang digelar disebut kembulan. Tidak ada piring siapa lebih bagus. Semua makan dari hamparan yang sama. Filosofi egaliter: kita sama di hadapan rezeki.

Tiga Logika Bahasa Rupa. Perhatikan jenis penggunaannya, beda daun beda makna:

  • Daun pisang utuh untuk alas tumpeng: Simbol bumi, alas kehidupan.
  • Daun pisang yang dipincuk (kerucut): Simbol rahim ibu, digunakan untuk jajanan pasar. Harapan agar rezeki kembali berputar.
  • Daun pisang yang disobek kecil untuk takir: Simbol wadah sementara. Hidup di dunia cuma mampir, seperti makanan di takir, sebentar lalu habis.
  • Daun pisang kering (klaras): Dipakai untuk rokok klobot dan pembungkus tembakau. Simbol bahwa yang sudah tua dan kering pun masih berguna. Tidak ada yang sia-sia.  

Filosofi Puncaknya adalah “pisang itu guru kehidupan”. Orang Jawa punya pepatah lengkap untuk pohon pisang :
Urip iku kaya wit gedhang. Agawea migunani, senajan ditegor ra tau lali.
(Hidup itu seperti pohon pisang. Berbuatlah berguna, meski ditebang tak pernah dendam).

Makna akar : Tidak terlihat, tapi menopang. Artinya: iman dan prinsip.
Batang : Berlapis-lapis, berair. Artinya: manusia harus punya banyak lapisan hati, lembut dan menyimpan kesejukan.
Daun: Selalu gugur satu, tumbuh satu. Artinya: sangkan paraning dumadi. Ada yang pergi, ada yang datang. Jangan terlalu berduka.
Jantung Pisang: Bunganya di bawah, tapi menghadap ke atas. Artinya: meski hidup di tempat rendah, hati harus tetap menghadap langit.
Buah: Berbuah hanya sekali seumur hidup, lalu mati, tapi sebelumnya ia sudah melahirkan tunas-tunas baru. Artinya: puncak hidup bukan mengumpulkan, tapi mewariskan.

Itulah kenapa sampai hari ini di seluruh Jawa-Bali, tidak ada hajatan tanpa daun pisang. Dari selamatan kelahiran yang bayinya dialasi daun pisang raja, sampai orang meninggal yang kerandanya kadang dialasi klaras.
Daun pisang adalah pengingat paling jujur: kita lahir dari alam, hidup di atas alam, dan akan kembali menjadi alam, tanpa sampah.

Bullllll…. bullllll…. klepussss….

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement