Petani Cabai Blitar Resah Hama Patek

 Petani Cabai Blitar Resah Hama Patek

Cabai rusak karena penyakit patek. (foto: istimewa)

Jayakarta News – Kasus serangan hama patek di beberapa lahan wilayah Kabupaten Blitar memukul kehidupan petani cabai di sana. Hal inilah yang membuat para petani menjadi resah akhir-akhir ini.

Akibat serangan patek, hasil panen menjadi tidak maksimal bahkan banyak tanaman cabai yang tidak bisa dijual karena rusak. Menurut Petugas Pengamat OPT Kabupaten Blitar, banyak tanaman cabai terserang penyakit antraknosa (patek).

Lahan yang banyak terserang adalah milik anggota Kelompok Tani Mangun Karyo, Desa Binangun, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar.

Untuk membantu petani, UPTD BPTPH Provinsi Jawa Timur bersama Laboratorium PHP Tulungagung melakukan gerakan pengendalian penyakit patek menggunakan agens pengendali hayati Trichoderma diselingi Plant Growth Promoting Rhyzobacteria (PGPR).

Upaya ini diaplikasikan setiap dua hari sekali. “Bantuan bahan pengendalian tersebut diharapkan dapat mengurangi serangan patek sekaligus mengurangi penggunaan pestisida kimia,” ujar Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam keterangannya, Rabu (12/8).

Sesuai release Kominfo Jatim yang diterima koresponden Jayakarta News di Surabaya, Prihasto menjelaskan, bentuk bantuan ini hanya sebagai stimulan saja agar petani dapat beralih dari budidaya konvensional berbahan kimia ke budidaya ramah lingkungan. “Tentunya dengan mengaplikasikan agens hayati dan pestisida nabati,” ujarnya.

Anton-sapaannya- menjelaskan, sebagaimana instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pemberian bantuan dalam bentuk Gerakan Pengendalian OPT langsung pada kelompok tani akan lebih tepat sasaran dan tepat manfaat. “Tujuannya untuk mendorong produktivitas petani sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” katanya.

Terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf meminta UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (PHP) dan Laboratorium Agens Hayati (LAH) agar lebih intensif lagi melakukan gerakan pengendalian OPT ramah lingkungan.

Caranya dengan menggunakan bahan pengendalian OPT ramah lingkungan dan terus menyebarluaskannya ke petani. “Diharapkan penerapan budi daya cabai ramah lingkungan di Kabupaten Blitar dapat meningkat sehingga petani sedikit demi sedikit dapat mengurangi ketergantungan pada penggunaan pestisidia kimia sintetik,” kata Yanti.

Penyakit antraknosa atau dikenal dengan patek sampai kini masih menjadi momok bagi petani cabai, karena bisa menyebabkan gagal panen. Parahnya, cabai yang sudah siap panen membusuk dan menurun produksinya.

Penyakit patek merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai dan banyak menyebabkan kerugian bagi petani. Kehilangan hasil produksi cabai akibat serangan penyakit ini diperkirakan mencapai 20–90 persen, terutama di musim penghujan.

Penyakit patek pada cabai disebabkan cendawan Colletotrichum capsici. Yang lebih mengerikan, penyakit ini dapat menyerang semua fase buah cabai, baik saat fase cabai masih muda maupun fase sudah masak. (poedji)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *