Pagelaran Budaya Sadar Bencana, Upaya BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat

 Pagelaran Budaya Sadar Bencana, Upaya BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat

Kepala BNPB Letjen Suharyanto/foto: BNPB

JAYAKARTA NEWS— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengadakan pagelaran Budaya Sadar Bencana di halaman Kantor Bupati Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pagelaran Budaya Sadar Bencana kali ini mengangkat tema “Sabalong Samalewa” yang memiliki arti membangun secara seimbang dan serasi antara pembangunan fisik material dengan pembangunan mental spiritual.

Arti filosofis dari tema ini diharapkan selalu menjadi pengingat masyarakat untuk senantiasa menjaga lingkungan, yang merupakan anugrah Tuhan agar dapat terhindar atau mengurangi dampak dari bencana.

Kegiatan tahunan yang digelar Jumat (28/10/2022) ini, dilaksanakan dalam rangka menggali budaya lokal, norma sosial, norma adat yang sudah terbangun puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu dari cara masyarakat mengantisipasi bencana di setiap daerah masing-masing

Pagelaran Budaya Sadar Bencana ini secara simbolis dibuka oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dengan memukul gong didampingi Mahmud Abdullah selaku Bupati Sumbawa dan Iskandar selaku Ketua Umum Pajatu Adat Lats Sumbawa.

Pagelaran ini diisi dengan tiga kesenian atau tarian tradisional khas Sumbawa. Yakni, Tari Nguri yang merupakan tari penyambutan untuk tamu-tamu terhormat. Tari Kreasi Tolak Bala. Dlam tarian ini disisipkan pesan-pesan kesiapsiagaan bencana, menggambarkan hubungan antara menjaga alam dengan kehidupan, tentunya sesuai dengan norma-norma kebudayaan di Sumbawa.

Adapun syair yang dilantunkan sebagai berikut

Syair badede Tolak  Bala

Pasatotang tau loka (Nasehat leluhur)
Na mo sate  datang bala (jangan pernah menghendaki datangnya musibah/bencana)
Empar diri tu ke iman (Bentengi diri dengan keimanan/ketakwaan pada yang maha kuasa)

Bala datang kalis Nene’ (Musibah/bencana datangnya dari Allah)
Ling no pati ka pamelang (karena tidak menghiraukan apa yg dilarang)
Panyoba lako parana (cobaan datang menimpa badan)

Parana sopo sapolak (tubuh dan jiwa setiap manusia adalah satu)
No ku beang tama ila (tak kan pernah kubiarkan rasa malu menghampiri)
Bala nan belo tu seseng (Musibah/bencana  perlu diwaspadai/diantisipasi)

Terakhir sebagai penutup ditampilkan Tari Gantao yang merupakan tari bela diri khas Sumbawa.

Pesan-pesan kesiapsiagaan tentu saja dimasukkan dalam setiap tarian tersebut, agar masyarakat tetap mengingat dan dapat mengimplementasikan norma-norma yang sebenarnya telah terbangun sejak dulu untuk beradaptasi menghadapi potensi bencana dengan lebih baik dan lebih siap.

Kegiatan Budaya Sadar Bencana melalui pagelaran kesenian tradisional ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari arahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang dalam beberapa kesempatan selalu menyampaikan agar dalam setiap tahapan kesiapsiagaan menghadapi bencana, selalu dilakukan penguatan sistem edukasi bencana yang berkelanjutan.

Sebelumnya pada bulan Mei 2022, BNPB telah menggelar Budaya Sadar Bencana di wilayah Indonesia Barat tepatnya di Alun-Alun Jam Gadang, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat.

Sementara itu, Mahmud Abdullah selaku Bupati Sumbawa yang turut hadir mengatakan Tarian Tolak Bala tentang mencintai lingkungan dan dipentaskan oleh remaja Sumbawa diharapkan dapat diresapi oleh masyarakat.

“Sumbawa salah satu Kabupaten rawan bencana, oleh karena itu Tarian Tolak Bala yang akan menggambarkan remaja mencintai lingkungan dan menjaga lingkungan dari bencana, sehingga pesan pesan yang disampaikan diharapkan akan relevan dengan jatidiri dan kehidupan masyarakat Sumbawa,” ucap Mahmud.

Sumbawa Jarang Bencana

Suharyanto saat memberikan sambutan mengatakan, Indonesia merupakan negara supermarket bencana. “Supermarket bencana, jadi seluruh bencana yang ada di dunia, di Indonesia ada,” ujar Suharyanto.

Merujuk data BNPB, Kabupaten Sumbawa dalam beberapa bulan terakhir jarang terjadi bencana, namun tidak boleh lengah. “Alhamdulillah, Sumbawa dalam kurun waktu satu-dua bulan ini tidak terdapat bencana banjir, longsor atau angin puting beliung yang besar. Meskipun belum ada bencana menimpa Sumbawa tapi tetap harus waspada dan hati-hati,” ungkapnya.

Salah satu cara meningkatkan kewaspadaan masyarakat dengan mitigasi bencana dengan menggali kearifan lokal, seperti yang dilakukan di Kabupaten Sumbawa dalam kegiatan ini.

“Penanggulangan bencana tidak bisa hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi semata, tetapi hasil pendidikan dan pengalaman yang diturunkan dari leluhur atau nenek moyang juga cukup ampuh untuk mengurangi risiko bencana,” lanjut Suharyanto.

BNPB mencatat, Kabupaten Sumbawa sering dilanda kekeringan, oleh karena itu BNPB akan membantu secara terbatas kendaraan yang diperlukan untuk mendukung penanganan bencana. “Dalam kesempatan ini, kami membawa satu unit mobil tangki air dan satu unit mobil dapur lapangan yang akan diserahkan kepada Bupati dan masyarakat Sumbawa,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Kepala BNPB Letjen Suharyanto yang juga Ketua Satgas Covid-19 meminta agar masyarakat tetap mewaspadai penularan Covid-19.

“Dua tahun kita hadapi bencana Covid-19. Indonesia termasuk negara terbaik dalam menangani pandemi Covid-19 dan hampir saja di akhir bulan akan diumumkan penghentian PPKM, tapi ternyata muncul virus varian XBB subvarian dari Omicron, mengakibatkan lonjakan kasus baru,” tutur Suharyanto.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar tetap taat protokol kesehatan.

“Dalam kesempatan baik ini, saya mengimbau bapak ibu tetap hati-hati waspada, di tempat terbuka sudah boleh tidak pakai masker, tapi di ruang tertutup pakai masker, sakit batuk pilek pakai masker, kita tidak tahu sampai kapan varian virus XBB ini hilang dari Indonesia,” imbuhnya.

Percepat Penanganan PMK

Terkait penanganan PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), pada hewan ternak, Suharyanto mengatakan, hal itu menjadi salah satu tugas BNPB. “Sumbawa sejak saya datang sebulan lalu, sudah cukup baik. Kesembuhan cepat tetapi penularan masih terus terjadi. Tolong biosecurity betul-betul dijaga,” kata Suharyanto selaku Ketua Satgas PMK.

Penyakit PMK sangat merugikan masyarakat terutama peternak yang akan berdampak menurunkan permintaan akan hewan ternak.

“Akibat adanya PMK, ternak dari Sumbawa tidak bisa keluar. Baru tadi saya izinkan kepada Sekretaris Daerah boleh dibawa keluar apabila hanya untuk dipotong di rumah pemotongan hewan,” jelas Suharyanto.

“PMK sangat merugikan masyarakat khususnya para peternak sapi perah, seandainya sudah sembuh produksi susunya berkurang 30 persen,” ujarnya.

Suharyanto berharap NTB dapat menjadi provinsi ke tiga belas yang mencapai zero reported case.“Sekarang sudah ada dua belas provinsi yang zero reported case, NTB didahului dari Sumbawa semoga menjadi provinsi ke tiga belas, PMK ini diharapkan bisa segera diatasi,” pungkasnya.***/ebn

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.