Satu Biduk, Satu Nakhoda

 Satu Biduk, Satu Nakhoda
Buyar Winarso dan istri, Ninik Yuliani serta tiga putra-putrinya. (ist)

JAYAKARTA NEWS – Sukses dalam berbisnis, sukses pula dalam membina rumah tangga. Itulah kalimat sederhana yang bisa dipakai untuk mendeskripsikan Buyar Winarso secara umum.

Tahun 1992, ketika kariernya sedang menanjak dan mulai memiliki bisnis sendiri, Buyar Winarso pun menyunting putri pasangan Nur Alim dan Murahmi, yang bernama Ninik Yuliani. Mereka menikah di Denpasar, Bali, pada bulan Februari 1992.

“Keluarga istri memang tinggal di Denpasar, karena ayahnya bekerja di Telkom Denpasar,” ujar Buyar Winarso berkisah tentang awal merintis bahtera rumah tangganya. Dari pernikahannya, lahir tiga putra-putri yang terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki.

Sebelum menikah, ia telah mendiskusikan konsep keluarga yang menjadi prinsipnya. Di antaranya soal tugas dan kewajiban. Sebagai suami, ia bekerja maksimal demi mencari nafkah, demi mencukupi kebutuhan keluarga. Sementara seorang istri, bertugas menjadi ibu rumah tangga yang baik. Prinsip itu yang ia sebut “satu biduk, satu nakhoda”. “Tidak mungkin kan, satu kapal dua nakhoda. Filosofi sebenarnya adalah soal pembagian peran dan fungsi, sehingga jalannya rumah tangga lebih stabil,” ujarnya

Contoh, ketika istri hendak keluar rumah, atau beraktivitas di luar rumah, sebelumnya ia akan mengonsultasikan kepada suami. “Alhamdulillah, istri bisa memahami dan semua berjalan baik. Itu kan ajaran Islam. Demikian juga sebaliknya. Saya pun kerap berdiskusi dan berkonsultasi dengan istri tentang hal-hal tertentu. Artinya, tetap ada komunikasi dua arah,” tandasnya.

Meskipun urusan rumah tangga dan anak-anak kebanyakan di-handle oleh istri, bukan berarti dia tidak ikut memberi perhatian. Sebagai seorang ayah, dia tetap memperhatikan perkembangan putra-putrinya. Soal pendidikan misalnya, ia tetap ikut campur untuk hal-hal tertentu.

Kaitannya dengan anak, ia teringat perkembangan anak pertama yang sempat mengkhawatirkan ketika masih kecil. Buyar Winarso sempat mengaku bingung dengan masa kecil anak pertamanya, Damillah Tanti Danuari. Yang membuatnya tak habis pikir, Damillah yang lahir 29 Februari 1993, tidak melewati proses pertumbuhan seperti anak lain pada umumnya.

“Tanpa belajar tengkurap, tanpa proses merangkak, tahu-tahu dia sudah bisa berjalan. Usia 10 bulan dia berdiri dan langsung jalan. Gubrak-gabruk (terjatuh-jatuh) tapi dia terus saja berjalan, tidak ada takut sama sekali,” ujarnya masih penuh kebingungan demi mengenang masa kecil putri sulungnya.

Barangkali, karena itu pula, keseimbangannya agak berkurang. Dia menjadi mudah jatuh. Hal itu terjadi sampai dia kelas 4 SD. “Yang saya paling ingat saat dia kelas 4 SD, pulang-pulang berlumuran darah karena terjatuh dari sepeda. Saat itu saya benar-benar ketakutan. Cemas tidak karuan,” kata Winarso.

Sang ibu, Ninik, tak kalah bingung dan khawatir demi melihat pertumbuhan Damillah. Akhirnya, suami-istri, Buyar Winarso dan Ninik sepakat berkonsultasi ke dokter, untuk mengetahui secara persis mengapa dan apa yang terjadi dengan putri sulung mereka. Setelah melalui beberapa kali pemeriksaan, dokter mengatakan tidak ada masalah.

Keterangan dokter tentu saja sedikit melegakan. Dokter memang benar. Pada usia selanjutnya, Damillah tidak lagi memiliki masalah dengan keseimbangan.

Hal lain yang juga menjadi perhatiannya, dalam kaitan perkembangan anak adalah soal bakat bisnis anak-anaknya yang mulai terlihat. Dia menilai, selain Damillah, dua anak yang lain (Wininda Witiyaningrum dan Teges Widiarto), tampak memiliki interest terhadap dunia bisnis

Ninda, anak kedua misalnya, dengan kreasi sendiri, membuat pernak-pernik anak-anak, kemudian menawarkannya kepada teman di sekolah atau teman bermain. Adiknya, Widi, setali tiga uang. Keduanya sudah menampakkan jiwa wirausahanya sejak kecil. “Saya biarkan saja mereka berkreasi dan menjual hasil kreasinya,” ujar Winarso sambil tersenyum.

Satu hal yang pasti, Buyar Winarso sejak sebelum menikah, sudah berusaha terbuka kepada sang istri, termasuk soal kondisi keluarganya. Keterbukaan, menurutnya sangat penting dalam keluarga. Keterbukaan adalah bibit yang harus disemai untuk menumbuhkan rasa saling pengertian.

Sebaliknya, kesuksesan yang diraih, sama sekali tidak membuatnya lupa akan asal-usul, termasuk keluarga besarnya di kampung. Untuk itu, dia tidak segan-segan membantu kehidupan ekonomi mereka agar menjadi lebih baik. Seperti misalnya, membukakan peluang usaha, dan lain-lain. “Kalau bukan saya, siapa lagi yang membantu saudara-saudara saya. Itu saya ingat betul, dan saya sadari betul,” tegasnya.

Ia tidak pernah melupakan nasihat nenek tercinta, yang kemudian dijadikannya bekal hidup di kemudian hari. Pesan neneknya, “Tolong kamu nanti mlakune ngati-ati, ndase aja ndangak.”

Buyar Winarso menjabarkan, “Artinya, ya petuah agar saya senantiasa meniti hidup dengan penuh kehati-hatian. Tidak ceroboh dan gegabah. Di samping itu, kalau berjalan kepala tidak boleh mendongak ke atas. Maknanya jelas, kita juga harus memandang ke bawah, tetapi yang lebih penting adalah memandang ke depan. Inti pesan itu ya kurang lebih, jangan sombong,” ucapnya, mengenang nasihat nenek.

Buyar Winarso dan Ninik Yuliani, istrinya.

Dalam memberi bantuan kepada keluarga-besar, Buyar Winarso lebih suka memberi “kail” daripada memberi “ikan”. Karena dengan memberi “kail”, ia percaya bahwa itu akan lebih bermanfaat secara jangka panjang ketimbang sekadar memberi uang yang bisa habis dalam sekejap. Memang, diakuinya, tidak semua usaha yang dirintis saudaranya berjalan mulus. Ada yang jalan hingga sekarang, ada yang kandas karena salah kelola. Itu biasa.

Adapun, kesibukan Buyar Winarso yang lain adalah dalam hal kehidupan sosial-kemasyarakatan. Meski tidak terlibat dalam organisasi tertentu secara struktural, namun bukan berarti dirinya asing dalam aktivitas sosial.

Hanya karena waktu yang terbatas sajalah membuat ia tak bisa masuk atau aktif dalam sebuah organisasi kemasyarakatan. Meski begitu, ia senantiasa aktif ketika memang ada kesempatan. Tak heran bila jaringan sosialnya pun sangat luas. Tidak saja di kebumen, tetapi di Jakarta dan kota-kota lain.

Bersosialisasi, apa pun bentuknya, adalah wahana paling nyata dalam mengamalkan konsep hablum minannas, hablum minallah. Kita tidak mungkin menjalin hubungan baik dengan Tuhan, tanpa diimbangi hubungan yang baik kepada sesama.

Dilihat dari dimensi yang lain, bersosialisasi adalah cara paling mudah untuk menakar kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

“Dalam human relationship, kita menjumpai banyak sekali persoalan duniawi. Di situ sesungguhnya kita diuji. Ujian atas implementasi nilai-nilai keagamaan kita. Seberapa jauh kita bisa melaksanakan nilai-nilai Islami dalam tataran hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Buyar Winarso, mantap.

Harmoni hidup, sejatinya ada dalam harmoni hati. Jika manusia selaras hidupnya dengan (perintah dan larangan) Tuhan, maka ia memiliki hubungan harmonis dengan Sang Pencipta.

Jika manusia mengedepankan prinsip menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, maka ia memiliki hubungan yang harmonis dengan sesama.

“Terakhir, jangan lupa, manusia juga harus memiliki hubungan yang harmonis dengan alam atau lingkungan hidup. Itulah penyempurna harmoni hidup seorang manusia,” ujar Buyar Winarso, tentang filosofi hidupnya. (Roso Daras/Bersambung)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *