Musim Corona, Saatnya Kembali ke Sepeda

 Musim Corona, Saatnya Kembali ke Sepeda

Wabah Covid-19, jadi momentum untuk kembali bersepeda. (foto: egu)

Jayakarta News – Wabah Covid-19 menebar ketakutan sekaligus manfaat. Karena banyak yang sudah paham, saya tak bahas sisi keganasannya, tapi manfaatnya. Virus ini ternyata menciptakan udara bersih. Polusi berkurang drastis, sehingga dunia ‘bernafas’ lega.

Kebijakan lockdown, PSBB dan aturan sejenis lain, di banyak negara, mampu mengurangi jumlah kendaraan berlalu lalang. Pabrik juga banyak yang tutup sehingga gas buang perusahaan berhenti. Karena bersih, penghuninya pun beroleh asupan udara sehat, tak terkecuali kita.

Karenanya, negara di Eropa kini mulai berfikir untuk mereposisi moda transportasinya menjadi ramah lingkungan. Untuk jarak dekat, mereka menggiatkan kembali jalan kaki dan bersepeda. Jerman, Inggris, Brussel dan beberapa negara lain, bahkan sudah mengalokasikan anggaran buat membuat jalur sepeda dan trotoar guna mendukung program yang dinamai langit bersih ini.

Rasanya tidak ada salahnya Jakarta ikut. Apalagi jalur khusus sepeda juga sudah ada, tinggal ditambah biar ideal. Jadikan pandemik ini entry poin semua kembali ke alam. Mumpung lagi booming, agar momentumnya tak hilang manfaatkan sekalian.

Beberapa tahun terakhir sepeda lipat (folding bike) laku keras. Datang berapa unit ludes dibeli. Tak peduli mereknya, asal ada orang berebut memilikinya. Bahkan ada saja spekulan memborong beberapa unit untuk kemudian dilepas kembali dengan harga fantastis.

Maka tak usah heran beberapa merek sepeda lipat kelas atas kini sulit didapat. Bahkan ada pula harus PO (Pre Order) guna memperolehnya. Trend luar biasa yang mestinya harus diambil peluangnya.

Bersepeda menghirup udara bersih di sekitar GBK. (foto: egu)

Gowes memang jadi gaya hidup masyarakat kota. Libur, segala usia hilir mudik di jalanan. Ramenya bukan main. Saking riuhnya terkadang ada saja yang mengalami kecelakaan. Kejadian itu bukan semata-mata kekurang hati-hatian, tapi juga indikator penggemar sepeda mulai tumbuh di mana-mana.

Fenomena itu membuat komunitas sepeda menjamur bak cendawan di musim hujan. Mereka membuat banyak event sehingga penggemar antusias. Libur dan akhir pekan tiba, ada saja kegiatan yang dihelat, membuat  jalanan penuh warna-warni; Jersey, helmet serta sepada.

Mengayuh pedal rame-rame membangkitkan euforia. Sendau-gurau antar peserta berlangsung tanpa batas. Tidak ada sekat, semua berbaur jadi satu tak peduli latar belakang sosialnya. Itu lah pesepeda, wajar  ada di mana-mana.

Boleh jadi musiman, tapi bisa juga tidak. Masyarakat kota butuh relaksasi. Seminggu bekerja perlu kanal melepas kepenatan. Dan itu seperti tersalurkan lewat hobi bersepeda.

Trend ini patut disambut gembira. Pemerintah semestinya mengapresiasi agar ada manfaat. Harus diakui, hanya sepeda yang mampu mengurai kepadatan lalu lintas, sekaligus penyumbang udara bersih.

Meskipun jalur sepeda di ibukota  belum sempurna patut disambut gembira. Sayang tidak dimanfaatkan. Fasilitas dan aturan ada, tinggal  optimalkan. Bukan sebaliknya dibuat tapi tak berguna dan sia-sia. Semoga saja tidak terjadi, sehingga semua tetap bisa gowes aman, nyaman dan selalu gembira.

Lewat olahraga imunitas terjaga. Jika dimenej dengan baik, imun pula yang dapat membentengi diri dari beragam penyakit, tak terkecuali virus corona. Mari jaga udara bersih. Mumpung ada momentumnya, sekarang atau tidak sama sekali. (eko guruh)

Bersepeda…. Sehat dan nikmat. (foto: egu)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *