Kolom
Misteri Jenglot Kulit Cicak
Gde Mahesa
Dunia dukun atau supranatural tak asing dengan istilah BeKa. Orang awam jarang yang tau. BK adalah singkatan dari Batara Karang, bahasa umumnya “jenglot”. Benda ini pengamatan penulis berwujud seperti boneka primitif, dan boleh dikata menyeramkan. Terkadang benda ini sering menjadi syarat para dukun kepada kliennya untuk sebuah hajad.
Jenglot biasanya berukuran terbilang kecil, sekitar 10 sampai 20cm. Jika kebanyakan disebutkan mirip manusia, menurut penulis justru jauh dari mirip. Mungkin disebut mirip karena mempunyai anggota badan yang sama. Namun wajah nya jauh dari wajah manusia, berwarna gelap, dengan wajah menyeramkan, bertaring mencuat serta memiliki rambut dan kuku yang panjang.
Diketahui jenglot ini ditemukan di beberapa wilayah Nusantara seperti Jawa, Kalimantan, dan Bali. Biasanya makhluk ini ditemukan di bawah tanah, di batang pohon atau di atap rumah.
Sedangkan asal-usul jenglot diyakini berasal dari masa-masa peralihan antara Kerajaan Majapahit dan era awal Islam di Nusantara, ketika banyak orang mendalami ilmu-ilmu gaib atau laku spiritual yang ekstrem.
Konon, jenglot dulunya juga manusia yang menjalani ritual tertentu hingga tubuhnya mengecil dan membatu karena energi spiritual yang tinggi.
Versi lainnya adalah seorang manusia yang mempraktikkan ilmu sihir terlarang agar hidup secara kekal atau ilmu “Batara Karang” yang berarti membuat manusia abadi. Ketika orang tersebut meninggal, tubuhnya justru ditolak bumi sehingga tidak terurai dan menyusut menjadi jenglot.
Tetapi ada beberapa pendapat lain yang mengatakan asal usul jenglot seperti, salah satu spesies hewan langka yang tak diketahui, atau semacam mahluk ghaib yang dapat dijinakkan. Seiring waktu, jenglot menjadi bagian dari cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagian masyarakat Indonesia mempercayai jenglot sebagai makhluk yang memiliki kekuatan mistik dan menyimpan energi gaib yang kuat. Konon, benda ini dapat bergerak atau berpindah tempat sendiri serta dipercaya hanya bisa hidup jika diberi persembahan berupa darah.
Mereka yang mempercayai kekuatan jenglot biasanya menjadikan benda ini sebagai media untuk keuntungan praktis dan instan. Misalnya menarik rezeki, penglaris usaha, atau bahkan untuk perlindungan diri dari serangan ilmu hitam.
Lain daripada itu bisa dipergunakan untuk hal yang positif, juga bisa untuk mencelakai, meskipun belum terbukti secara langsung dan secara ilmiah. Sehingga kebenaran tersebut masih dipertanyakan.
Penggunaan jenglot tidak bisa sembarangan karena diyakini memiliki perjanjian spiritual yang rumit dan konsekuensi jika tidak dirawat dengan baik.
Beberapa praktisi supranatural atau dukun mungkin menggunakan jenglot dalam praktik-praktik mereka, meskipun penggunaannya tidak selalu jelas atau diakui secara luas.
Penting untuk diingat bahwa mitos jenglot adalah bagian dari folklore dan warisan budaya tertentu di Indonesia dan wilayah sekitarnya.
Konon kabarnya, ada yang menyatakan bahwa jenglot merupakan spesies hewan langka yang tidak diketahui sains, ada juga pendapat bahwa jenglot dibuat dengan proses mumifikasi dari beberapa spesies, seperti kepala monyet yang disambung dengan ekor kuda (versi lain : rambut manusia) sebagai rambutnya, lalu dikisahkan seakan-akan boneka tersebut memiliki kekuatan mistik, demi kepetingan pribadi untuk meraup keuntungan tersendiri bagi si pembuat boneka tersebut.
Namun ada pihak lain yaitu para kaum rasionalis mengklaim bahwa jenglot tidak lebih dari benda buatan manusia. Keberadaan jenglot sering menuai perdebatan terutama di kalangan ilmiah karena sebagian peneliti menyebut jenglot hanyalah rekayasa manusia dengan wujud boneka kecil yang dibentuk sedemikian rupa lalu diciptakan mitos di sekelilingnya.
Dicuplik dari Wiki-Pedia, dalam sebuah riset medis, jenglot didefinisikan sebagai bukan makhluk hidup, setelah diteliti oleh tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Melalui foto sinar Rontgen, tidak ditemukan unsur tulang (sebagai penyangga organ mahluk hidup) tetapi hal yang mengejutkan justru diperoleh dari penelitian DNA lapisan kulit jenglot yang mengelupas.
Setelah diperiksa oleh Dokter Djaja Surya Atmaja dari Universitas Indonesia, ternyata lapisan kulit itu memiliki DNA mirip primata sejenis manusia.
Akan tetapi, penyelidikan asal-usul jenglot secara medis hanya dihentikan sampai di sana karena pemilik jenglot tidak mengizinkan jenglot dibedah, agar tidak ada hal buruk yang terjadi.
Dengan hasil riset tersebut, penulis jadi teringat ketika bertemu seseorang yang bisa membuat jenglot, dengan tekstur kulit yang nampaknya seperti kulit asli, ternyata terbuat dari kulit cicak. Persembahan darah untuk diminum oleh jenglotpun dipraktekkan dengan tekhnis tersendiri.
Kesimpulan paling bijak bagi yang percaya dengan jenglot adalah tetap hati-hati. Jangan sampai tertipu. Sebab jenglot tetap antara ada dan tiada dari mitologi peradaban tradisi budaya.
Bullll….. bullll… klepussss……
