Menyiasati Promosi Film Nasional di New Normal

 Menyiasati Promosi Film Nasional di New Normal

Dian Sunardi Munaf (kiri) dan Marcella Zalianty –foto instagram

JAYAKARTA NEWS— Dian Sunardi Munaf selaku pengelola CGV Cinema mengemukakan bahwa ada 2 hal yang paling memberatkan manajemen usaha bioskop yaitu pajak dan marketing.

“Kecuali ada kerja sama khusus antara pihak bioskop dan mal. Tapi untuk promosi saja, bioskop sudah mengeluarkan banyak   budget. Kalau untung, alhamdullilah. Kalau rugi, ya resiko,” ujar Dian dalam diskusi webinar bertopik ‘Menyiasati promosi film nasional di new normal’ yang dihelat oleh Direktorat Perfilman, Musik dan Media baru Kemdikbud dan DFI.

Sedangkan Aris Muda Irawan sebagai publisis dan marketing film agency menjelaskan dana promosi di new normal harus diubah paradigmanya. “Ini relatif. Ada yang 1 banding 1, separuh atau sepertiganya. Yang jelas, kini promosi digital lebih efektif dan target sasarannya lebih efisien,” ungkap Aris Muda. Bagaimana dengan kiat promosi yang dilakukan Marcella Zalianty selaku produser dan Ketum Parfi 56   (pecahan Parfi) ?

“Tiap film promosinya enggak sama. Content dan positioningnya seperti apa? Ada yang budget promosinya di bawah biaya produksi, malah filmnya mencapai box office (di atas 1 juta penonton). Ada yang filmnya berkualitas dan budget promosinya hampir menyamai biaya prooduksi, justru filmnya flop,” terang Marcella.

Niniek L Karim, artis, psikolog

Di sisi lain, aktris senior dan pengajar psikologi di UI, Niniek L Karim mengaku gagap marketing dan tak tertarik. “Saya kan pemain dan guru ( dosen ) ilmu psikologi sosial,” ucapnya.

Dikatakannya, kalau mau nonton film di bioskop, apanya yang menarik : cerita, akting pemain atau jenis filmnya. Di masa pandemi C 19, faktor kesehatan jelas penting, lalu aman, nyaman dan harga tiket murah. Ini oke semua,” papar Niniek.

Dalam ilmu psikologi, ada 3 komponen sikap seseorang dalam memandang sesuatu. Kognitif alias pemahaman, orang belum tahu di bawah sadarnya. Afektif, dimana orang merasa was-was dan tersanjung dan akhirnya berakhir dengan kecewa. Dan afirmatif dimana orang ke bioskop merasa sehat, aman dan mendapatkan sesuatu. Kalau enggak dapat hiburan atau sesuatu yang patut direnungkan,  buat apa pergi ke bioskop? Bagaimana dengan faktor promosi agar orang ke bioskop ?

“Ada tiket khusus buat pelajar dan mahasiswa seperti yang dilakukan di Salihara. Yuk kita jalankan promosi yang tepat sasaran meski untungnya sedikit,” imbuh Niniek.

Sebagai insan film, dia paling tak mau apa-apa minta ke pemerintah. “Kayak pengemis saja. Terapkanlah kiat ‘ringan sama dijinjing, berat sama dipikul’. Aku pasti bisa kok, jangan belum apa-apa sudah mundur,” tegas Niniek.

Pada akhirnya, kata adalah doa atau berkah menurut Gus Dur. ‘Psikologi keTuhanan’ versi Niniek L Karim menurut bahasa host Benny Benke ini memang diakui, paling menghunjam ke relung insan, pengamat dan jurnalis film.

Walau nara sumber lain juga tak kalah menarik  seperti; Ahmad Mahendra (Direktur Perfilman, Musik dan Media baru) Direktorat Jendral Kebudayaan, Kemdikbud, Harry Dagoe Suharyadi (sutradara), Dewananda (Dirut Penerbit Balai Pustaka yang kini mengarah ke multi media/film), Dr Daniel (pemerhati film dari Medan) dan Thova (pembuat poster film). Diskusi film yang dipandu oleh Yan Widjaja, Arul Muchsen dan Benny Benke melalui Zoom ini tak terasa sudah berjalan selama 2 jam lebih. Dan endingnya, sampai bertemu 2 minggu lagi. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *