• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Memet Harus “Lebih Liar”

Memet Harus “Lebih Liar”

admin by admin
May 29, 2019
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Memet Chairul Slamet, didampingi istri dan para sahabat. (ist)

JAYAKARTA NEWS – Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gang Sadewa, Yogyakarta, R. Chairul Slamet kini menyandang gelar akademik doktor. Seniman sekaligus akademisi yang akrab disapa Memet itu, lulus memuaskan dalam ujian terbuka untuk memperoleh derajat doktor, di Concert Hall Pascasarjana ISI Yogyakarta, Jl. Suryodiningratan, Yogyakarta, Kamis (23/5/2019).

Dalam ujian itu, Memet membawakan disertasi Musik Batu, dan memuaskan sembilan anggota dewan penguji. Mereka adalah Dr. GR Lono lastoro simatupang, MA, Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar. Msi,  Prof. Dr Victor Ganap, M.Ed, Dr. St. Sunardi (co promotor), Kurniawan Adi Saputra Ph.D (pimpinan sidang), Prof. Dr. Djohan, MSi (promotor), Dr. Royke Bobby Koupaha, MSc, Prof. Dr Timbul Haryono, MSc, dan Dr. Fortuna Tyas, Msi.

Di antara sembilan orang penguji, satu di antaranya berkomentar menarik. Dia adalah Prof. Dr. Pande Made Sukarta, S.Kar,Ssi. Menurut Made Sukarta, Memet adalah tipikal pemusik yang masih suka dengan aturan. “Harusnya lebih liar dan (lebih) gila,” ujarnya.

Usai sidang, Memet pun menanggapi secara khusus komentar Made Sukarta. “Lingkungan saya itu sudah gila. Saya pun rasanya sudah mengikuti kegilaan itu, tapi kok masih dibilang kurang oleh penguji. Sungguh mengherankan dunia ini…. ternyata seniman nggak ada yang mau bener…. Edan kabeh…,” ujar Memet sambil tertawa lebar.

Bagi yang kenal dan mengenal Memet, khususnya dalam bermusik, tentu tahu bahwa ia seorang pemusik liar dan gila. Dalam melahirkan komposisi musik, tentunya. Dari pengamatan Jayakarta News, dalam banyak kesempatan, apa yang dikatakan Dr Pande Made Sukarta juga tidak salah. Dalam hal tertentu, Memet tetaplah seorang guru, seorang dosen musik. Karenanya, dalam batas-batas tertentu, dan utamanya kepada anak didik, ia tidak bisa seenaknya mengumbar keliaran dan kegilaan bermusik.

Memet bersama istri dan penulis. (ist)

Ranah liar dan kegilaan bermusik, setidaknya sudah ditunjukkan Memet dalam berbagai repertoar, baik bersama kelompok etnik-kontemporer Gang Sadera, maupun saat ia perform sendiri. Dalam dunia art music performance para seniman sudah tak asing lagi. Pria asli Madura ini boleh dibilang idealis.

Karya idealisnya pada tahun 2016, mengadakan konser kolosal dengan 1.010 pendukung di kota Senju Tokyo, dan rencana akan diulang tahun 2020 di Jepang. Lalu tahun 2015 ia mengiringi pertunjukan Bantengan kolosal di Batu, Malang. Tahun 2017, Tambur Perdamaian di Jati Nom Klaten. Tahun 2018 musik othok-othok kolosal pada acara Car Free Day Solo.

Tahun yang sama, ia menggarap musik drama Montserrat yang dipentaskan Teater Alam Yogyakarta. Tak jauh dari Montserrat, ia berkolaborasi dengan Prof Yudiaryani dalam Pidato Kebudayaan. Saat ini, Memet tengah menyiapkan komposisi musik untuk drama Pusaran yang akan dimainkan Teater Alam dan ISI Yogyakarta, Juli mendatang. Satu lagi rencana besar di tahun 2019 ini adalah menata musik pentas “Sukma Suci Sang Patih Kebo Iwa”, oleh Forum Budaya Jawa-Bali, di Pantai Pandawa, Bali, yang direncanakan bulan Oktober.

“Beberapa hari lalu, saya juga dihubungi Roso Daras, penulis buku-buku Bung Karno. Ia dan tim kreatif Yayasan Aku dan Sukarno sedang menyiapkan TV Digital, Bung Karno TV. Saya diminta membantu mengisi ilustrasi musik di setiap episodenya,” ujar Memet antusias.

Setidaknya, ia kini mengaku lega berhasil melewati satu tahap. Sebelumnya, hampir dua tahun ia berkutat pada disertasi “musik batu” yang tak kunjung rampung. Kolega, sahabat, dan keluarga acap menanyakannya. “Saya berterima kasih kepada keluarga, sahabat, promotor, co-promotor, para penguji, kolega dan handai taulan semua yang mendukung keberhasilan ini,” ujarnya serius. (gde)

Tags: ISI Yogyakartajayakartanewsmemet chairul slamet
Previous Post

Rudy Bule Dipecat dari Ketua Kadin Kabupaten Bogor

Next Post

Tiga Langkah Pemerintah Cegah Penyebaran Hoaks Melalui Medsos

admin

admin

Next Post
Tiga Langkah Pemerintah Cegah Penyebaran Hoaks Melalui Medsos

Tiga Langkah Pemerintah Cegah Penyebaran Hoaks Melalui Medsos

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version