Feature
Membedah Profil Suku Betawi di Jakarta, Tamu di Rumah Sendiri
Oleh : Heri Mulyono
Di kota yang namanya mereka sendiri yang beri — Betawi, dari Batavia — orang Betawi kini menjadi minoritas. Angka sensus berbicara tanpa basa-basi: dari mayoritas mutlak, mereka tinggal bayangan.
Suku yang Lahir dari Pertemuan
Betawi bukan suku dalam pengertian konvensional. Mereka tidak turun dari satu nenek moyang, tidak berbicara dalam satu bahasa purba, tidak memiliki kerajaan tunggal. Suku ini terbentuk melalui proses asimilasi dari berbagai budaya — Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Arab, Tionghoa, India, Portugis, hingga Belanda — menciptakan identitas yang benar-benar unik. Mereka adalah produk dari apa yang para sosiolog sebut creolization: percampuran yang menghasilkan identitas baru, bukan sekadar campuran lama. Disahkan sebagai kategori ‘suku’ dalam sensus penduduk pada tahun 1930, orang Betawi adalah suku yang paling Jakarta dari semua suku — lahir dari kota, bukan dari desa atau dataran tinggi.
Nama Betawi sendiri berasal dari kata Batavia yang dipelintir lidah pribumi. Sebuah kata Belanda yang menjadi nama identitas jutaan orang. Ada sesuatu yang sangat Jakarta dalam proses itu. Peneliti Australia Lance Castles, dalam jurnal Indonesia terbitan Cornell University (1967), menyimpulkan bahwa etnis Betawi terbentuk dari proses peleburan berbagai kelompok etnis di Batavia. Sementara Dr. Yasmine Zaki Shahab (UI) memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk antara 1815 hingga 1893, berdasarkan studi sejarah demografi penduduk Jakarta.
Dari Mayoritas ke Pinggiran
Berdasarkan sensus penduduk 1930, jumlah orang Betawi mencapai 778.953 jiwa — mayoritas mutlak Batavia. Lalu datanglah kemerdekaan. Dan bersamanya, gelombang yang tak pernah surut. Pada 1961, suku Betawi mencakup hanya 22,9 persen dari 2,9 juta penduduk Jakarta. Dalam tiga dekade, mereka turun dari mayoritas menjadi kurang dari seperempat penduduk.
Pembangunan Jakarta yang pesat sejak awal 1970-an mengubah segalanya. Kawasan-kawasan yang dulu kampung Betawi — Cengkareng, Kebon Jeruk, Pasar Minggu, Pulo Gadung — kini adalah pusat bisnis dan perumahan elit. Orang Betawi sudah lama pergi. Ke mana? Urbanisasi dan tekanan ekonomi membuat mereka pindah ke Depok, Tangerang, dan Bekasi. Mereka tidak merantau. Mereka digeser. Sensus BPS 2010 mencatat 6,8 juta jiwa orang Betawi se-Indonesia, tersebar jauh melampaui batas administratif Jakarta — radius yang menggambarkan seberapa jauh mereka telah didorong pergi.

Tradisi yang Masih Berdetak
Namun ada yang bertahan. Dan itu bukan sekadar pajangan.
Di sebuah gang sempit Jakarta Timur pada pagi Oktober, terdengar tabuhan rebana dan suara pantun bersahutan. Ini Palang Pintu — ritual paling dramatis dalam pernikahan adat Betawi yang masih hidup hingga kini. Tradisi ini menggabungkan seni bela diri pencak silat, sastra pantun, dan lantunan shalawat. Maknanya jauh lebih dalam dari sekadar tontonan: beradu pantun bermakna suami kelak mampu membahagiakan keluarganya; beradu silat bermakna laki-laki harus bisa membela kehormatan. Kini Palang Pintu tak hanya hadir di pernikahan Betawi, tapi juga untuk menyambut tamu pejabat dan acara-acara kenegaraan. Ia keluar dari kampung, masuk ke protokol negara.
Tradisi Nyorog — ritual menjelang Ramadan di mana anggota keluarga yang lebih muda membawa bingkisan sembako kepada yang lebih tua — masih dijaga dengan serius, biasanya sepekan sebelum puasa. Di sisi lain, upacara sunatan Betawi adalah festival tersendiri: anak laki-laki yang akan dikhitan didandani bak pengantin, diarak mengelilingi kampung dengan kuda atau tandu, diiringi barisan rebana dan pencak silat. Sebuah siklus — anak masuk ke fase dewasa bukan dengan sunyi, tapi dengan pesta dan keberanian. Ada pula Bikin Rume, upacara syukuran saat hendak membangun rumah, karena bagi masyarakat Betawi membangun rumah adalah kegiatan sakral yang melibatkan perhitungan hari baik, pantangan, dan doa keselamatan.
Bahasa yang Menang, Penutur yang Kalah
Ada paradoks indah sekaligus getir di sini. Bahasa Betawi adalah bahasa paling berpengaruh di Indonesia kontemporer. Hampir seluruh kosakata gaul nasional berasal darinya — bokap, nyokap, gue, lo, bete, ogah. Sinetron, podcast, konten kreator dari Sabang sampai Merauke berbicara dengan aksen yang bersumber dari Jakarta. Bahasa Betawi menjadi de facto bahasa informal nasional. Namun penutur aslinya justru semakin sedikit yang mewariskannya. Sebuah kemenangan yang kosong: bahasanya hidup, tapi identitasnya layu.
Meja Makan sebagai Peta Sejarah
Jika ada satu tempat di mana identitas Betawi paling jujur terbaca, itu adalah dapur mereka. Hidangan Betawi dipengaruhi oleh masakan Melayu, Arab, India, Tionghoa, dan Eropa — terutama Belanda dan Portugis — juga Sunda, Jawa, dan Minangkabau. Setiap piring adalah dokumen sejarah.
Ambil Soto Betawi sebagai contoh. Menurut peneliti kuliner dari Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, soto Betawi berakar dari tradisi Tiongkok (Caudo), dengan pengaruh Arab dan India pada penggunaan minyak ghee dan rempah kapulaga. Kuahnya yang kental dari campuran santan dan susu, berisi daging sapi atau jeroan, adalah cermin dari kota pelabuhan yang menerima siapa saja. “Artinya ada keharmonisan yang kokoh dalam masyarakat Betawi dari semangkuk soto,” katanya.

Hidangan Asinan Betawi dengan Bir Pletok.
Bir Pletok adalah paradoks lain. Namanya ‘bir’, tapi tidak mengandung setetes alkohol pun. Terbuat dari jahe, kayu secang, kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan serai — minuman rempah yang kaya khasiat, konon lahir karena orang Betawi ingin minuman yang meriah tapi tetap halal. Ini Betawi: mengambil nama asing, memberinya jiwa lokal, lalu meminumnya hangat-hangat.
Asinan Betawi berakar dari zaman kolonial, dipengaruhi masakan Tionghoa dan Arab — sayuran diasinkan dengan cuka dan garam, disajikan dengan bumbu kacang asam-pedas-gurih. Sementara Roti Buaya — roti berbentuk buaya sepanjang lima puluh sentimeter yang dibawa mempelai pria — menyimpan filosofi paling puitis: buaya dipilih karena dipercaya hanya kawin sekali seumur hidup. Ini adalah bahasa simbolis dari suku yang tak pernah punya aksara sendiri.
Namun banyak dari hidangan ini sedang dalam perjalanan menghilang. Sayur Babanci — ketupat berkuah santan dengan lebih dari dua puluh rempah, namanya dari kolaborasi Baba (Betawi) dan Enci (Tionghoa) — kini nyaris mustahil ditemukan di pasar biasa. Gabus Pucung, ikan gabus dalam bumbu kluwek hitam pekat, semakin menghilang seperti metafora yang terlalu sempurna: semakin tua, semakin tidak terlihat. Kuliner Betawi kini semakin jarang diminati generasi muda. Memasak makanan Betawi membutuhkan waktu lama — tidak sesuai ritme Jakarta yang serba cepat.
Ornamen atau Identitas?
Pemerintah DKI tidak tinggal diam. Festival budaya digelar, Setu Babakan ditetapkan sebagai kawasan pelestarian, nama-nama jalan diganti menjadi nama tokoh Betawi. Tapi pelestarian budaya tanpa pemberdayaan ekonomi adalah teatrikal. Selama orang Betawi masih terdesak ke pinggiran, selama tanah warisan terus berpindah tangan kepada mereka yang lebih kuat secara kapital — maka ondel-ondel di depan mal, palang pintu di acara pejabat, dan kerak telor di festival hanyalah pertunjukan nostalgia.
Para pelestari muda mulai bergerak. Sanggar-sanggar di pelosok Jakarta Timur dan Jakarta Selatan terus melatih anak-anak memainkan palang pintu dan berpantun. Mereka sadar: mengajak generasi muda itu susah-susah gampang, tapi kalau tidak dilakukan dari sekarang, semua ini bisa punah.
Malam itu, di depan pusat perbelanjaan di Sudirman, seorang bapak tua berambut putih berdiri di pinggir keramaian. Di tangannya, sebotol bir pletok — merah mencolok, harum rempah. Ia minum perlahan, memandangi ondel-ondel yang bergoyang diiringi musik dari speaker portable. Mungkin ia ingat kampungnya yang kini sudah jadi jalan tol. Mungkin ia ingat semangkuk soto yang dimasak ibunya dengan ghee dan kapulaga, dan bagaimana tidak ada yang mewarisi resep itu. Ondel-ondel itu terus bergoyang. Tersenyum ke semua arah, tidak membeda-bedakan siapa yang memandang. Dan di tangannya, bir pletok itu tinggal seteguk — sisa dari yang pernah ada. (*)
____
Referensi: Lance Castles, The Ethnic Profile of Jakarta, Cornell University Indonesia Journal, April 1967; BPS, Sensus Penduduk 1930, 2010, Long Form SP2020; Dr. Yasmine Zaki Shahab (UI); Fadly Rahman, Universitas Padjadjaran; Pusat Kajian Gastronomi UGM, Seri Gastronomi Kelir Betawi, 2021.
