• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Saturday, September 26, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Jazz di Garasi dan Bawah Pohon

Jazz di Garasi dan Bawah Pohon

admin by admin
December 24, 2017
in Entertainment
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MUSISI jazz Indonesia, Idang Rasjidi mengaku bahwa awalnya tak banyak yang mengenal musik jazz di Indonesia. Tetapi, kini setidaknya ada 64 gelaran jazz di Indonesia. Menurutnya, ini adalah efek dari metode mengenalkan jazz dari atas turun ke bawah. Bukan hanya mengenalkan musik jazz di tempat-tempat resmi atau yang mewah.

“Dari atas, turun ke bawah. Dari kampung ke kampung,” kata Idang Rasjidi menjelang tampil di Jazz on The Bridge (JOBB) di Bangka Belitung, 29 dan 30 Desember 2017 dengan sederet jazzer yaitu Fariz RM, Mus Mujiono dan Tompi. Semua musisi tampil di Jembatan Emas yang merupakan ikon pulau Bangka. Gubernur adalah inisiator JOBB dan acara ini dihelat oleh Gipi dan Pemda Bangka.

Menurut dia, hal itu cukup efektif dalam mendorong gelaran-gelaran berkaitan jazz. Ia memberi contoh di Yogyakarta ada Ngayogjazz, yang rutin digelar. Pelaksanaannya bukan di hotel mewah, melainkan di desa di pinggiran kota. “Meski main di desa, yang datang menontong ribuan orang. Ini penting karena memengaruhi kawasan sekitar tentang jazz,” ujar pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka Belitung itu.

Sekarang ini ada juga ajang jazz lain di kota kecil di Jawa, yakni di Pekalongan. “Di Batam, Pangkal Pinang, Lampung, dan lainnya,” kata Idang Rasjidi.

Ia menegaskan bahwa mengenalkan musik jazz tidak harus di tempat yang mewah. Terkadang di garasi, atau bahkan di bawah pohon sambil membawa peralatan sendiri. “Tidak harus mengenalkan teknik-teknik yang sulit, tetapi bagaimana membuat mereka menikmatinya,” kata dia.

Jazz, bagi Idang Rasjidi, adalah barometer kebebasan yang bersifat universal. Idang memiliki seorang sahabat asal Rusia. Ia sendiri tidak bisa berbahasa Rusia. “Tetapi ketika kami bertemu dan bermain musik, semua melebur menjadi satu,” ujarnya. ***

Tags: fariz rmgelaran jazz di indonesiaJazzjazz di babeljazz di bangka belitungjazz on the bridgemus mujionomusik jazztompi
Previous Post

Bermain dengan Satwa Nusantara di Jakarta Aquarium

Next Post

Hiasan Pohon Natal Laksana Mode

admin

admin

Next Post
Hiasan Pohon Natal Laksana Mode

Hiasan Pohon Natal Laksana Mode

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version