Syaharani Ibrahim: Saya Nggak Pernah Bermimpi Jadi Penyanyi Jazz

JAYAKARTA NEWS— Meski Saira Syaharani Ibrahim sudah berkali-kali menyanggah dirinya bukan penyanyi jazz, namun khalayak tetap berpendapat sebaliknya.

“Saya enggak pernah bermimpi jadi penyanyi jazz,” ujar Rani sewaktu unjuk diri dalam konser musik di Lounge XXI Plaza Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Namun, karena dia dikelilingi musisi jazz, lama kelamaan Rani menemukan jiwanya ke jazz.
“Jadi saya dikenal karena menyanyikan lagu jazz. Sejak kecil saya akrab dengan jazz. I love jazz,” tuturnya.

Dia bilang sudah bikin pagar. “Tapi larinya ke sini lagi. Jazz. Saya bertemu banyak dedengkot jazz dan juga blues. Aransemen dan warnanya ke sini lagi,” sambung Rani yang malam itu dia melantunkan empat nomor jazz.

Lagu pertama, digebrak ‘What A Wonderful World’ yang aslinya dibawakan Louis Armstrong.
“Saya juga merekam lagu ini di Sangaji Musik. Musiknya dibuat oom Bubi Chen. Ini versi saya,” cerita Rani.

Menyusul lagu ‘Come Fly to Me’ yang dicomot dari album Frank Sinatra.

Baru lagu ke tiga berlirik bahasa Indonesia. Judulnya ‘Tersiksa Lagi’.

Rani dan Alfred Ayal (foto ipik)

Dan Rani mengakhiri lagu pamungkas bertajuk ‘You to Me are Everything’ milik The Real Thing. Rani berduet dengan biduan Alfred Ayal dan biduanita Nathalie.

Rani tarik suara ramai-ramai. Ia turun panggung dan mengajak khalayak ‘joget tipis-tipis’ mengelilingi arena.

Vokal Rani serak-serak berkarakter. Dijuluki ‘lady jazz Indonesia’ kelahiran Batu, Malang (Jawa Timur) ini lihai berkomunikasi dan menyapa khalayak dan mengajaknya bernyanyi bareng.

Sekali-sekali dia duduk di sebelah fans nya dan menyodorkan mick ke khalayak. Menyapanya dan beruluk salam.

“Selamat buat pak Benny Suherman dan ibu yang malam ini merayakan 52 tahun pernikahan. Juga pak Antonius yang ultah ke 62. Happy buat semua,” imbuh Rani. Ini salah satu kiat dan gimik Rani menambah semarak suasana.

Penyanyi berdarah Bugis ini meniti karir musiknya sejak kecil. Mendirikan band Queenfireworks pimpinan Donny Suhendra dan merekam album perdana bertajuk ‘Love’ (1999) berisi 11 lagu bernuansa jazz, fusion, elektronik n hip hop.

“Saya sebut ini psikedelik musik ‘Magma’. Irama musiknya ringan, simpel, segar, kreatif, dan komunikatif,” urainya.

Rani juga berkolaborasi dengan penyanyi bergenre pop, seperti Iwan Fals, Slank, Dian Pramana Putra, Fariz RM dan Erwin Gutawa.

Rani yang pernah mewakili Indonesia ke North Sea Jazz Festival di Belanda ini juga pernah mendampingi beberapa artis musik yang konser di Jakarta dan beberapa kota diantaranya Al Jarreau, Dave Koz, Yellow Jackets, Keith Martin dan Fourplay.

Sepanjang karir musiknya Rani kerap tampil di perhelatan jazz di dalam negeri seperti Jak Jazz, Java Jazz, Jazz Gunung, Ngayogjazz dan Asean Jazz di Batam.

Menutup konser, Alfred Ayal dan Ayalas Band mempersembahkan beberapa nomor Queen seperti ‘Somebody to Love’, ‘Bohemian Rhapsody’ dan ‘We Are the Champion’. Plus dua lagu bernuansa progresif rock dari Chicago ‘It’s Hard to Say I’m Sorry’ dan ‘Give it Up’ lagu lawas bernada riang milik KC & Sunshine Band.

Hampir seluruh khalayak berjoget membentuk polonaise dan ular-ularan.
Malam semakin larut. Dan semoga bermimpi indah. (pik)

Jazz di Garasi dan Bawah Pohon

MUSISI jazz Indonesia, Idang Rasjidi mengaku bahwa awalnya tak banyak yang mengenal musik jazz di Indonesia. Tetapi, kini setidaknya ada 64 gelaran jazz di Indonesia. Menurutnya, ini adalah efek dari metode mengenalkan jazz dari atas turun ke bawah. Bukan hanya mengenalkan musik jazz di tempat-tempat resmi atau yang mewah.

“Dari atas, turun ke bawah. Dari kampung ke kampung,” kata Idang Rasjidi menjelang tampil di Jazz on The Bridge (JOBB) di Bangka Belitung, 29 dan 30 Desember 2017 dengan sederet jazzer yaitu Fariz RM, Mus Mujiono dan Tompi. Semua musisi tampil di Jembatan Emas yang merupakan ikon pulau Bangka. Gubernur adalah inisiator JOBB dan acara ini dihelat oleh Gipi dan Pemda Bangka.

Menurut dia, hal itu cukup efektif dalam mendorong gelaran-gelaran berkaitan jazz. Ia memberi contoh di Yogyakarta ada Ngayogjazz, yang rutin digelar. Pelaksanaannya bukan di hotel mewah, melainkan di desa di pinggiran kota. “Meski main di desa, yang datang menontong ribuan orang. Ini penting karena memengaruhi kawasan sekitar tentang jazz,” ujar pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka Belitung itu.

Sekarang ini ada juga ajang jazz lain di kota kecil di Jawa, yakni di Pekalongan. “Di Batam, Pangkal Pinang, Lampung, dan lainnya,” kata Idang Rasjidi.

Ia menegaskan bahwa mengenalkan musik jazz tidak harus di tempat yang mewah. Terkadang di garasi, atau bahkan di bawah pohon sambil membawa peralatan sendiri. “Tidak harus mengenalkan teknik-teknik yang sulit, tetapi bagaimana membuat mereka menikmatinya,” kata dia.

Jazz, bagi Idang Rasjidi, adalah barometer kebebasan yang bersifat universal. Idang memiliki seorang sahabat asal Rusia. Ia sendiri tidak bisa berbahasa Rusia. “Tetapi ketika kami bertemu dan bermain musik, semua melebur menjadi satu,” ujarnya. ***