Hari Radio Sedunia: Radio yang tidak Pernah Padam

 Hari Radio Sedunia: Radio yang tidak Pernah Padam

Eddy Koko, praktisi radio–foto istimewa

OLEH sebab saya menduga tidak banyak yang mengetahui atau tahu tetapi lupa bahwa hari ini tanggal 13 Februari merupakan Hari Radio Sedunia, maka saya mencoba menuliskannya. Tentu juga banyak yang sudah menulis sebelumnya. Peringatan Hari Radio Sedunia ini resmi  dicetuskan tahun 2011 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa  (PBB) melalui United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang mengurus kerja sama antara negara dan bangsa di dunia bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Setiap tahun ada tema peringatan, seperti tahun 2018 Radio dan Olahraga kemudian 2019 tentang Dialog, Toleransi dan Perdamaian sedangkan tahun 2020 ini adalah Keanekaragaman dan Pluralisme.

Adalah Kerajaan Spanyol yang mengusulkan Peringatan Hari Radio Sedunia ini selanjutnya  UNESCO membahasnya dengan banyak pihak dari berbagai negara dan hampir semua  mendukung kemudian disetujui. Salah satu alasannya adalah radio sebagai media yang dikenal hampir semua orang di seluruh dunia dalam mendapatkan informasi dan hiburan. Kelebihan radio juga mampu menjangkau wilayah dan manusia yang tidak terjangkau oleh media lain. Sehingga media radio perlu “dilestarikan”.

Dalam pandangan saya, pernah bekerja sebagai wartawan di media cetak cukup lama, sekitar 27 tahun kemudian melompat ke media radio selama 12 tahun, media radio meupakan media yang unik. Jika alasan UNESCO menyebutkan, radio merupakan media mampu menjangkau wilayah luas yang tidak terjangkau media lain, memang, begitu adanya. Bukan sekedar slogan. Contohnya, ketika media cetak tidak mampu mengirimkan terbitannya ke suatu wilayah sulit, hutan, medan perang, lokasi bencana alam yang terisolasi dan sebagainya media radio melalui siarannya mampu sampai disana. Dahulu, saya kecil, sering mendengarkan Radio Republik Indonesia (RRI) mengirim pesan, kepada para prajurit sedang bertugas di perbatasan. “Selamat bertugas,” kata penyiar di Studio RRI Jakarta, seraya memutarkan lagu Walang Kekek dari Waljinah.

Kemampuan radio siaran menjangkau wilayah jauh dan terisolasi karena cara kerjanya menggunakan gelombang electromagnetic atau frequensi sehingga bisa bablas ke banyak wilayah tanpa hambatan. Hambatan hanya pada jalur frequency modulation atau dikenal dengan  FM, jika ada bukit atau gedung tinggi terganggu. Tetapi pada jalur short wave (SW) dan amplitude modulation (AM) mampu melewati pegunungan sehingga siaran dapat diterima sampai jauh. Yang dibutuhkan adalah kekuatan daya pancar (listrik) yang semakin besar akan lebih jauh. Kondisi ini jelas tidak tertandingi media lain dalam mengirimkan pesan atau beritanya.  Pendeknya, radio merupakan media massa yang mampu menyampaikan pesan dengan cepat dan jauh.

UNESCO juga menyebutkan radio merupakan media yang dikenal manusia seluruh dunia. Sepertinya banyak manusia yang sepakat pendapat tersebut. Kalaupun ada manusia  yang belum pernah kenal radio, itu sebuah pengecualian, jumlahnya barangkali satu banding sejuta. Tapi, ironisnya, meskipun radio dikenal oleh hampir seluruh manusia dari kelas paling bawah sampai presiden tetapi dalam “kehidupannya” radio bukan media kelas satu. Kalah dengan televisi yang daya jangkaunya tidak seperti radio. Para artis dan pejabat enggan tampil di radio, kecuali sedang punya kepentingan jualan lagu barunya atau pejabat perlu menyampaikan sesuatu, misalnya, kampanye. Tampil di radio? Kuno!

Radio Era Digital

Radio sebagai media penghibur dan penyampai berita pada manusia tidak bisa disangkal lagi. Tetapi belakangan muncul pertanyaan yang awalnya dilemparkan kepada media cetak dan televisi diteruskan ke media radio. Yaitu apakah sanggup menghadapi zaman digital yang gila-gilaan ini?  

Eit, tunggu dulu. Jangan sembarangan asal lempar pertanyaan  sembunyi kenyataan. Radio itu nyawanya dobel. Susah mati. Atau pinjam istilah pemain gaple, kagak ada matinya. Kalau PLN marah karena pemilik stasiun radio belum bayar listrik terus diputus alirannya paling mati siaran. Tetapi yang namanya media radio usianya tetap panjang.

Kreatifitas diakui orang merupakan salah satu upaya memperpanjang hidup dengan cara menghadapi ganasnya perubahan zaman. Ide kreatif sering muncul disaat situasi sesorang atau sekelompok orang terjepit dalam posisi tidak mengenakkan atau kritis. Dalam perkembangan dunia makin dasyat maka kreatifitas merupakan kendaraan untuk berjalan bersama zaman karena perubahan tidak bisa dilawan tetapi harus diikuti. Pada era konvergesi media seperti sekarang radio mengambil keuntungan tersebut dengan memainkan kreatifitas yang tinggi dalam persaingan ketat. Radio pada saat sekarang bukan hanya menawarkan suara lewat udara tetapi ikut serta bersama kemajuan media yang ada.

Siaran radio sekarang tidak hanya bisa didengar mengunakan alat penerima radio transistor, misalnya, seperti dahulu tetapi juga dapat melalui alat telpon genggam dengan jaringan internet (streaming). Penyiar sedang siaran radio saat ini bisa juga ditonton melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook sehingga akan terasa lebih akrab. Materi berita yang dibaca penyiar juga langsung tersimpan dalam kolom website radio tersebut. Sehingga sewaktu-waktu pendengar atau masyarakat bisa membuka untuk membacanya. Dengan ini dapat merubah sebutan  radio sebagai  media selintas, karena pendengar tidak bisa mendengar ulang lagi berita yang baru disampaikan penyiar. Pada media cetak pembaca bisa membaca ulang jika ada kalimat  belum dipahami. Tetapi dengan disertai website atau online pendengar bisa lebih jelas memahami berita yang baru disiarkan. Ada klipingnya.

Kondisi tersebut di atas adalah gambaran yang dilakukan sejumlah radio siaran di dunia dan Indonesia saat ini. Pengelola radio mengikuti zaman dengan memenuhi kehendak masyarakat dan, khususnya, pendengarnya. Pendengar setia sebuah acara stasiun radio yang belum sempat mendengarkan karena kesibukan kerja mereka dapat menunda dengar. Pada saat lowong para pendengar tersebut dapat membuka membuka file (dokumentasi) siaran pada website radio kesayangannya untuk mendengar acara yang diinginkan. Media radio hari ini, boleh dikatakan, mengambil banyak peran yang dimiliki media lainnya. Apakah hal tersebut masih bisa disebut  radio siaran? Tentu masih. Sebab siaran tetap dilakukan sesuai layaknya radio selama ini, ada mixer amplifier, microphone dan pemutar musik, tetapi diberi sentuhan media baru.

Berdasarkan pengalaman pribadi mengelola stasiuan Radio Trijaya Networks dengan sejumlah acaranya, terbukti radio merupakan media patut diperhitungkan, selama itu dikelola dengan sepenuh hati. Selama Sembilan tahun mengelola sebuah talkshow radio dengan nama acara Polemik mampu memunculkan banyak nama pengamat, politisi dan akademisi, semula tidak dikenal masyarakat menjadi popular. Terbukti kemudian mereka tampil di berbagai media. Jejak digital tentang hal ini tentu bisa dipelajari, kapan mereka berawal dari tampil di radio kemudian popular.

Jika ada pertanyaan bagaimana bisa terjadi banyak stasiun radio tutup alias tidak lagi siaran? Tentu jawabannya banyak faktor tetapi umumnya karena pengelola tidak kreatif,  kolot dan sering menempatkan manusia tidak paham dan tidak suka dunia radio menjadi pimpinnannya. Biasanya karena hubungan keluarga atau kerabat. Media radio selayaknya dikleola dengan terus memahami dan mengikyuti  perkembangan di luar studio. Menggandeng anak muda terlibat dalam mengelola stasiun radio merupakan langkah positif kaerna mereka memiliki semangat dan kreatifitas yang tinggai. Stasiun radio tanpa kreatifitas pasti mati.

Hari radio Sedunia tahun 2020 ini mengambil pesan keanekaragaman dan pluralisme. Tema ini bisa saja diartikan sebagai pesan kepada pemilik dan pengelola stasiun radio di dunia, kelolalah radiomu dengan keragaman sumber daya manusiany. Tanpa membedakan ras dan agama agar tetap hidup. Sebab jika pengelola stasiun radio manusia usia tua tanpa ada yang muda maka diskusi menghadapi zaman susah terjadi, akibatnya program tidak berkembang. Program tidak disukai masyarakat berakibat tidak ada pendengar, maka tidak ada yang pasang iklan alias tidak punya duit untuk bayar listrik. Mati.

Selamat hari radio sedunia! *** Eddy Koko – Praktisi Radio

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *