Connect with us

Kolom

Gunungan Wayang Purwa: Simbol Kehidupan dan Tata Semesta

Published

on

Oleh : Heri Mulyono

Dalam setiap pertunjukan wayang kulit purwa, terdapat satu elemen yang selalu hadir sejak awal hingga akhir pementasan, namun bukan tokoh pewayangan dalam pengertian konvensional. Elemen tersebut adalah Gunungan atau Kayon, sebuah wayang berbentuk gunung yang menyimpan makna filosofis mendalam tentang kehidupan, alam semesta, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Gunungan merupakan unsur penting dalam pergelaran wayang kulit purwa yang bentuknya menyerupai gunung. Meski tidak mewakili tokoh seperti wayang lainnya, Gunungan memiliki posisi sentral karena mengandung simbolisme yang sangat kaya dan multidimensional.

Asal-Usul dan Jenis Gunungan

Sejarah Penciptaan

Gunungan Blumbangan diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada era Kerajaan Demak, kemudian pada era Kartasura diciptakan kembali Gunungan Gapuran.

Dua Jenis Gunungan

Ada dua jenis gunungan yang dikenal dalam tradisi wayang purwa:

1. Gunungan Blumbangan (Kayon Wadon/Perempuan)

Kayon blumbangan diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada zaman Kerajaan Demak dan di dalamnya terdapat ragam motif kolam berisi air dan ikannya. Sebagai simpingan, kayon blumbangan biasanya diletakkan di sisi kiri layar.

2. Gunungan Gapuran (Kayon Lanang/Laki-laki)

Kayon gapuran diciptakan oleh Pakubuwono II di era Keraton Kartasura, awalnya untuk wayang klithik, kemudian dipinjam untuk wayang purwa dan sampai sekarang tetap dipakai.

Fungsi Gunungan dalam Pertunjukan

Gunungan memiliki beragam fungsi penting dalam pagelaran wayang kulit:

1. Penanda Awal dan Akhir Pertunjukan

Sebelum pertunjukan dimulai, gunungan ditancapkan di tengah layar dengan condong ke kanan, menandakan dunia yang belum diceritakan. Setelah pertunjukan selesai, gunungan kembali ditancapkan di tengah layar sebagai tanda berakhirnya cerita.

2. Pergantian Adegan

Gunungan berfungsi sebagai pembuka dan penutup pertunjukan, juga sebagai tanda pergantian jejeran atau adegan. Saat pergantian adegan, gunungan ditancapkan di tengah dengan condong ke kiri.

3. Simbol Elemen Alam

Gunungan digunakan untuk menyimbolkan api atau angin dengan cara membalik sisinya yang berwarna merah, warna yang melambangkan api. Gunungan juga dapat mewakili daratan, hutan, jalan, dan elemen alam lainnya sesuai dialog dalang.

Struktur dan Simbolisme Gunungan

Gunungan memiliki struktur tiga lapis yang mencerminkan konsep Tribuwana (tiga dunia) dalam kosmologi Jawa:

Dunia Bawah (Palemahan)

Dunia bawah atau Palemahan digambarkan berupa garis tipis memanjang berwarna merah di bagian bawah gunungan, tanpa hiasan atau simbol. Ini melambangkan dunia tempat manusia hidup, yang jika hanya berhenti di tahap ini, berarti manusia hanya menjalani kehidupan duniawi dan ragawi tanpa mengembangkan aspek rohani.

Dunia Tengah (Genukan dan Lengkeh)

Di dunia tengah terdapat rumah (gedong) yang tertutup pintunya rapat, dan di kedua sisi atap gedong terdapat gambar kepala raksasa bersayap sebagai simbol perpindahan dari dunia tengah ke dunia atas.

Bangunan Rumah (Gedong): Melambangkan tempat tinggal manusia yang menyatu dengan alam.

Dua Raksasa Penjaga: Cingkarabala dan Balaupata adalah saudara kembar berwujud raksasa yang ditugasi Bathara Guru untuk menjaga Selamatangkep, gerbang masuk menuju Kahyangan Suralaya. Meski bentuknya menyeramkan, mereka bertabiat jujur dan baik hati, dan hanya yang berniat baik yang dapat melewati mereka.

Burung Setengah Naga dan Hewan Lainnya: Dalam gunungan terdapat berbagai binatang seperti harimau, banteng, monyet, ayam hutan, dan burung, yang masing-masing melambangkan sifat dan karakter manusia.

Ular Melilit Pohon: Simbol godaan dan cobaan yang menghadang manusia dalam perjalanan hidupnya.

Dunia Atas (Pucuk)

Dunia atas atau Pucuk digambarkan sebatang pohon yang menjulang sampai ke puncak gunungan, disebut pohon hayat. Pohon kehidupan ini menjadi simbol sentral yang memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk.

Pohon Hayat (Tree of Life): Gunungan sebagai simbol kayon (pohon kehidupan) memberi kehidupan bagi makhluk hidup.

Banaspati (Kepala Raksasa di Puncak): Melambangkan godaan, cobaan, tantangan, dan bahaya yang setiap saat mengancam keselamatan manusia.

Bunga-bunga di Puncak: Melambangkan kesempurnaan spiritual yang menjadi tujuan akhir perjalanan hidup manusia.

Makna Filosofis

Konsep Manunggaling Kawula Gusti

Secara filosofis, gunungan menjadi ungkapan persatuan manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti). Bentuk segitiga yang mengerucut ke atas melambangkan perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan spiritual dan penyatuan dengan Sang Pencipta.

Trilogi Kehidupan

Gunungan mengandung konsep trilogi yang terungkap dalam penancapan gunungan (pathet nem, pathet sanga, pathet manyura), gambaran siklus kehidupan manusia dari anak-dewasa-tua.

Pathet Nem: Melambangkan masa kanak-kanak dan remaja (jam 19.00-24.00)

Pathet Sanga: Melambangkan masa dewasa dan puncak kehidupan (jam 24.00-03.00)

Pathet Manyura: Melambangkan masa tua dan persiapan kembali ke alam baka (jam 03.00-selesai)

Empat Dimensi Relasi

Secara antropologis, gunungan mengandung makna relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia dengan dirinya sendiri. Relasi ini mengantar manusia untuk senantiasa mengarahkan hati kepada Tuhan.

Panca Dharma

Gunungan menjadi panca dharma (lima prinsip) bagi kehidupan orang Jawa dan memberikan pendidikan moral serta spiritual. Lima ajaran kebijaksanaan yang terkandung dalam gunungan mencakup:

1. Keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat

2. Harmoni antara manusia dengan alam

3. Keadilan dalam hubungan sesama manusia

4. Pengendalian nafsu dan sifat buruk

5. Pencapaian kesempurnaan spiritual

Simbolisme Warna dan Bentuk

Bentuk Segitiga/Segi Lima: Bentuk segi lima melambangkan lima waktu yang harus dilakukan dalam agama, adapun bentuk meruncing ke atas melambangkan bahwa kehidupan manusia menuju yang di atas yaitu Allah SWT.

Kombinasi Warna: Penggunaan warna emas, merah, hitam, dan hijau memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan semangat dan api kehidupan, hitam melambangkan kebijaksanaan dan misteri, hijau melambangkan kesuburan dan kehidupan, sementara emas melambangkan kesucian dan kemurnian.

Gunungan sebagai Makrokosmos

Gunungan melambangkan makrokosmos dan fondasi spiritual dari materi, dengan Pohon Kahuripan atau Pohon Kehidupan Jawa sebagai figur sentralnya. Pohon ini didukung oleh sayap yang menandakan sifatnya yang mistis dan transenden.

Dimensi Pendidikan dan Moral

Gunungan mengandung ajaran filosofis tinggi, yaitu ajaran kebijaksanaan, yang mengimplikasikan bahwa pertunjukan wayang mengandung pelajaran bernilai tinggi.

Melalui simbol-simbol dalam gunungan, masyarakat Jawa diajari tentang:

Kebijaksanaan hidup: Bagaimana menjalani kehidupan dengan seimbang

Pengendalian diri: Menghadapi godaan dan nafsu seperti yang disimbolkan oleh berbagai binatang

Tujuan hidup: Mencapai kesempurnaan spiritual yang dilambangkan oleh puncak gunung

Harmoni kosmis: Keselarasan antara mikrokosmos (diri manusia) dengan makrokosmos (alam semesta)

Gunungan dalam Konteks Kontemporer

Nilai-nilai yang terkandung dalam Gunungan masih sangat relevan di era modern:

1. Keseimbangan Ekologis: Gunungan mengajarkan harmoni manusia dengan alam

2. Spiritualitas: Pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta

3. Etika Sosial: Hubungan horizontal yang baik dengan sesama

4. Pengembangan Diri: Perjalanan spiritual menuju kesempurnaan

Gunungan bahkan digunakan sebagai logo resmi untuk KTT G20 Bali 2022, menunjukkan pengakuan global terhadap nilai filosofisnya.

Catatan Akhir

Gunungan identik dengan gunung sehingga menggambarkan tata semesta, dan unsur-unsurnya menunjukkan kedekatan orang Jawa dengan Sang Pencipta dan alam.

Gunungan bukan sekadar properti dalam pertunjukan wayang, melainkan representasi visual dari worldview Jawa yang holistik. Ia menjadi jembatan antara dunia nyata dan spiritual, antara manusia dan Tuhan, serta antara individu dan alam semesta.

Relasi gunungan dengan orang Jawa tidak terpisahkan, gunungan menjadi identitas khas milik orang Jawa. Memahami gunungan berarti memahami filosofi hidup Jawa yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan pencarian makna spiritual dalam setiap aspek kehidupan.

Melalui simbolisme yang kaya dan mendalam, Gunungan mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan bertingkat dari yang material menuju spiritual, dari yang profan menuju sakral, dan dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan. Inilah warisan kebijaksanaan leluhur yang tetap relevan dan perlu dilestarikan untuk generasi mendatang. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement