Ghost Writer – Bercakap-Cakap dengan Hantu

 Ghost Writer – Bercakap-Cakap dengan Hantu

JAYAKARTA NEWS – Gost writers adalah sebutan bagi penulis yang dibayar untuk menulis buku, novel, karya jurnalistik untuk atas nama orang lain, dan untuk itu namanya tak dicantumkan sebagai penulis.

Dalam film yang bertajuk Ghost Writers yang tayang sejak Lebaran tahun ini, sutradara Bene Dion Rajaguguk membuat genre yang jarang dibuat sineas negeri ini, yaitu horor komedi.

“Jujur, dalam lima tahun terakhir, sulit menyebutkan judul film dengan genre tersebut,” lontar Bene Dion kepada penulis.

Dikatakannya, Ghost Writers memberikan kepada dirinya tantangan dan motivasi untuk menghasilkan karya yang unik dan segar.

“Sejak proses pengembangan dan penulisan naskah bersama Nonny Boenawan, saya sudah merasakan sensasi dari keseruan yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya,” katanya.

Sebagai sutradara debutan, mengerjakan sebuah film dengan banyak elemen – drama, komedi dan horor – membuat Bene Dion merasa grogi dan sangat berhati-hati tetapi sekaligus gembira.

“Niat belajar total juga membuat saya memutuskan tidak menggunakan co director,” imbuhnya.

Film berdurasi 112 menit dan lolos untuk 13 tahun ke atas ini dipenuhii unsur ketegangan yang dibumbui humor-humor segar. Bene Dion mampu mengemas beberapa adegan yang berseliweran dalam film produksi Starvision ini. Untuk 20 menit pertama, plot film mengalir lincah. Namun, adegan berikutnya, kurang menggelitik.

Dan baru kali ini, ada konsultan komedi, yang di film ini diarahkan oleh Muhadkly Acho.

Produser dan pemain, Ernest Prakasa mengaku film ini memiliki keunikan yang sangat menarik, sebuah kombinasi yang apik antara komedi, horor, dan drama keluarga yang digarap secara serius.

Ghost Writers karya Nonny Boenawan adalah salah satu peserta kelas penulisan skenario yang diadakan di Jakarta tahun 2018 silam oleh Ernest Pakasa dan Starvision. “Idenya orisinal dan serius diangkat ke film,” cerita Ernest Prkasa yang diiyakan oleh Chand Parwez.

Ceritanya tentang Naya (Tatjana Saphira), penulis novel ‘one-hit-wonder’ yang sudah beberapa tahun ini mengalami masa keterpurukan. Alasan ekonomilah yang membuat Naya dan adiknya, Darto (Endy Arfian) terpaksa harus pindah ke sebuah rumah tua yang harga sewanya lebih murah.

Suatu hari, Naya menemukan sebuah diary di rumah itu. Naya merasa kisah itu sangat emosional dan berpotensi untuk dijadikan novel. Naya pun menceritakannya kepada pacarnya, Vino (Deva Mahenra) yang mendukungnya untuk menulis kisah itu. Alvin (Ernest Prkasa), editor sekaligus manajer di kantor penerbitan Naya, juga sangat tertarik.

Ketika Naya memutuskan untuk menggarap novel dan mengetik di laptop di kamarnya, mendadak sontak muncullah Galih (Ge Pamungkas), hantu penunggu rumah tua sekaligus pemilik dari diary yang ditemukan Naya. Sang hantu marah karena Naya mencuri diary-nya. Akhirnya, Naya berupaya membujuk Galih agar membantunya mengerjakan novel tersebut. Dalam adegan ini, sangat menarik dan sangat unik percakapan antara Naya yang manusia dari dunia nyata dengan sang hantu Galih yang berasal dari dunia astral. Bahkan, sang hantu juga ikut mengetik kalimat demi kalimat di laptop Naya agar ceritanya tak menyimpang dari kisah pribadinya.

Belum selesai urusan Naya dan Galih, muncul teror dari sesosok hantu perempuan bernama Bening (Asmara Abigail) yang ternyata adik Galih.

Berhasilkan Naya membujuk Galih dan menjadikannya rekan kerja dari mewujudkan novelnya menjadi kenyataan demi membiayai sekolah Darto, adiknya ?

Sebuah film unik dan ‘aneh’ yang dipenuhi percakapan antara manusia dengan hantu dan hanya Naya yang bisa tahu kemunculan sang hantu Galih, sedang orang lain tidak tahu. Lalu, kenapa rumah tua ditunggui hantu Galih dan Bening ?

Semua jawabnya ada di Ghost Writers. Kalau semua ceritanya ditulis di sini, spoiler dong. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *