Film ‘Hayya 2’ – Impian, Harapan dan Kenyataan

 Film ‘Hayya 2’ – Impian, Harapan dan Kenyataan

JAYAKARTA NEWS – Penasaran dengan gadis mungil Palestina yang tak bisa diadopsi? Dalam sekuel film ‘Hayya 2 : Dream, Hope, Reality’ yang akan beredar di bioskop 24 Maret 2022, jelang keberangkatannya  kembali ke Palestina, Hayya lagi-lagi berhasil melarikan diri.

Kali ini, ia terdampar di perkebunan stroberi milik pasangan Lia dan Faizal (dimainkan secara apik oleh pasutri Dhini Aminarti dan Dimas Seto). Lia adalah seorang ibu muda yang berperangai aneh sedangkan suaminya, Faizal sangat canggung.

Di tempat yang lain, jurnalis Rahmat, Adhin dan Ria terus mencari Hayya. Dan, satu persatu tabir keluarga Lia dan Faizal mulai terbuka. Puncaknya : sebuah tragedi menimpa Hayya dan membuat situasi menjadi kompleks dan menegangkan.

Semula Lia menganggap Hayya adalah Hanna, putrinya yang wafat beberapa tahun silam. Hingga Lia menjadi histeris – menangis dan tertawa – dan barulah ia sadar bahwa Hayya bukan Hanna.

Percakapan singkat antara Faizal dan Hayya sangat menarik. “Ismi Hayya,” kata gadis kecil yang pandai berbahasa Arab. Faizal terperangah. “Min aina ya Hayya,” jawab Hayya ramah. “Palestine,” imbuhnya.

Melihat asal Hayya, Faizal jadi terkenang ketika ia sebagai arsitek, pernah bekerja di Dubai, jazirah Arab juga. Tapi Hayya enggak mau tahu itu semua. Maklum, ia masih kecil saat ini. Dan Faizal akhirnya berhasil menyadarkan Lia agar isterinya kembali ke jati dirinya.

Berdurasi 100 menit film garapan sutradara Jastis Arimba ini cukup menarik diikuti alurnya. Mengingat plot cerita yang ditulis Ali Euonia dan Jastis Arimba dipenuhi belokan-belokan tajam yang penonton tidak menyangkanya.

“Pada film ‘Hayya 2 ini, kami mrngangkat tema Dream (Impian), Hope (Harapan) dan Reality (Kenyataan)  yang semua diracik dalam satu kesatuan cerita,” ungkap Jastis Arimba.

Kentara di setiap adegan, Jastis Arimba sukses menjahit potongan-potongan cerita menjadi utuh menjelang ending. Dengan dream, tentu saja Hayya kembali mengingatkan impian setiap anak untuk bebas dan merdeka, sesuatu yang masih impian di benak anak Palestina.

“Semangat harus terus berkobar pada Hope atau Harapan guna melangkah untuk meraih impian. Dan dengan melihat reality atau kenyataan, kita menyadari bagaimana bertindak ke satu titik impian,” yakin Jastis Arimba kepada penulis.

Falsafah kehidupan yang riil dan nyata sebagaimana dipaparkan oleh Jastis Arimba ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Tengoklah puisi bertajuk ‘Cahaya di Bawah Cahaya’ tulisan Helvy Tiana Rosa, Benny Arnas dan Asma Nadia ini : diluar, gerimis turun/di Lembang, hujan deras/di Palestina, doa-doa memeluk sesiapa/tapi di keheningan/Hayya mampir/sejenak.

Ya, hanya sejenak. Mung mampir ngombe (hanya mampir minum), kata falsafah Jawa. Antara Jawa dan Palestina : klop ! (Ipik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.