Eksotisme Rumah Kayu “Lawasan”

 Eksotisme Rumah Kayu “Lawasan”
Kanan, tampak bangunan “lawasan” yang sudah dipoles. Foto: Gde Mahesa
Pohon mungkin tidak bisa ngomong, menjanjikan surga atau mengkotbahkan bait-bait kitab suci. Tapi yang jelas, pohon telah memberikan tempat berteduh dan menjadi tempat tinggal bagi banyak binatang kecil. Pohon telah memberikan banyak teladan dan manfaat nyata dalam. (Kahlil Gibran)

Seperti kata bijak di atas, setelah tidak menjadi pohon hanya disebut seonggok kayu. Akan tetapi, jika kayu diolah sedemikian rupa dengan akal budi manusia, akan terbentuk sesuatu yang bisa saja mengagumkan. Entah itu kayu baru (sehabis pohon ditebang) atau kayu lama yang sudah terbentuk.

Kayu bekas, kursi meja lemari, daun pintu, jendela bahkan rumah yang mau roboh pun masih mempunyai nilai ekonomi serta eksotisme tersendiri. Jangan heran jika sebuah rumah Jawa gaya limasan berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah. “Ana rego ana rupo,” kata seorang penjual rumah-rumah lawasan, yang maksudnya adalah “ada harga ada kualitas”.

Jika ditelusuri, memang benar adanya. Sebab kualitas dan jenis kayu, teknis penggarapan atau finishing, umur kayu, semua mempengaruhi mutu dan tentu saja harga. Membeli rumah bekas seakan membeli sejarah yang hilang. Betapa tidak, konon cerita dari para pedagang bahwa rumah yang dibelinya tak jarang adalah rumah orang terpandang dan disegani. Hal ini bisa diketahui dari karakter rumahnya.

Nur Prasetyo, sudah menggeluti bisnis kayu “lawasan” sejak tahun 1998. Foto: Gde Mahesa

Menurut Nur Prasetyo yang menggeluti rumah lawasan sejak 1998 kepada Jayakartanews, tidak sedikit rumah bersejarah itu akhirnya dijual atau bahkan terbengkalai karena tidak ada yang mengurus. Sebagian lain memang menghendaki untuk diganti dengan bangunan dan bahan yang lebih baru.

Berbisnis rumah lama, menurut Nur Prasetyo, memang harus teliti. Untuk profesi yang dijalainya, ia dibantu tim kerja yang solid. Mereka bertugas berburu mencari rumah kuno ke seluruh penjuru tanah Jawa. Dalam menaksir harga pun harus cermat. Sebab namanya rumah kuno, tak jarang di sana-sini pasti ada kekurangannya.

Menurutnya, membeli rumah kuno ada seninya. Karakter penjualnya juga aneka-rupa. Ada yang menjual rumah (kayu) saja. Ada yang minta diangkut semua, sampai ke tegel dan keramik hingga tempat cucian dan kemar mandi seisinya. “Malah ada yang minta dibongkar semua sampai ke pondasinya,” ujar Nur Prasetyo.

Ia dan timnya, demi melakoni profesi jual-beli rumah (kayu), harus rela blusukan. Jika terjadi “deal”, maka segera ia dan tim melakukan pembongkaran, dan memindahkan semua barang bongkaran ke tempat penampungan. Nah, di tempat penampungan itulah satu demi satu bahan-bahan yang didapat dibersihkan, dipoles, dan direkonstruksi kembali menjadi bangunan yang siap jual.

 

Bangunan yang sudah reyot ini, biasanya dijual murah. Oleh Nur Prasetyo dan tim, kemudian direkondisi menjadi tegak dan indah. foto: Gde Mahesa
Siapa sangka, komplek bangunan rumah khas Jawa ini didirikan dari kayu-kayu lawasan yang sudah dipoles oleh Nur Prasetyo dan timnya. Foto: Gde Mahesa

Jika beruntung, tidak lama setelah berdiri, ada yang datang dan menawar. Jika terjadi transaksi, maka bangunan itu pun kembali dibongkar dan diboyong ke lokasi yang dikehendaki pembeli. Ada yang digunakan sebagai rumah tinggal kedua, ada yang digunakan sebagai tempat bisnis resto, bahkan ada yang kemudian dijual kembali.

Menarik memang, mempunyai rumah lawasan yang klasik, teduh, dan erat dengan budaya. Di berbagai pelosok di Yogyakarta dan Jawa Tengah, banyak bermunculan rumah lawasan yang dijadikan sebagai guest house. Tak jarang tamu-tamu asing malah betah tinggal dan bermalam di rumah lawas yang kental aroma tradisionalnya itu.

Jika Anda ke Yogyakarta, setidaknya ada dua tempat yang banyak dijadikan tempat mengolah kayu dan rumah lawasan, yakni di Jalan Parangtritis dan di Kasongan. Dua-duanya di Kabupaten Bantul. Selain di dua tempat itu, tak jarang ditemui kegiatan serupa di desa terpencil nun di tengah kampung. “Biasanya itu tempat display. Jadi kalau ada yang ingin melihat, seperti apa wujud bangunan rumah lawasan itu kalau sudah jadi, kami ajak ke tempat display di tengah desa,” kata Nur Prasetyo.

Menyambangi Jl. Parangtritis dan Kasongan, tampak hiasan-hiasan dari kayu. Usut-punya-usut, itu adalah cara Nur Prasetyo dan kawan-kawan memanfaatkan kayu-kayu lawas yang sudah keropos dan tidak mungkin lagi dipakai menopang rumah. “Dengan sentuhan seni, kami jadikan hiasan. Peminatnya juga banyak,” tambahnya.

Anda berminat? ***

 

Kayu-kayu lawas yang keropos dan tidak bisa digunakan lagi untuk menyangga bangunan, diolah menjadi kayu hias. Foto: Gde Mahesa

 

Membangun rumah kayu dengan kayu “lawasan”. Foto: Gde Mahesa
Kayu lawasan yang masih banyak diburu kolektor. Foto: Gde Mahesa
Kayu lawasan yang dipoles dan siap dibangun lagi. Foto: Gde Mahesa
Kayu lawasan, bisa menjadi antik dan berharga mahal. Foto: Gde Mahesa

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *