Connect with us

Kabar

Dekan FDIK Univeritas PTIQ: Dosen Wajib Terapkan Kurikulum OBE dan Edlink Servima

Published

on

Foto dari kiri Yasser Muda Lubis, Dr. Topikurohman, dan Wahab Nur Kadri

JAYAKARTA NEWS— Untuk meningkatkan kualitas proses sekaligus hasil pembelajaran, dosen tidak lagi cukup hanya menguasai materi perkuliahan. Mereka juga dituntut memahami, menguasai, dan menerapkan Outcome Based Education (OBE) serta memanfaatkan Edlink Sevima dalam setiap mata kuliah yang diampu.

Penerapan keduanya dinilai menjadi bagian penting dari transformasi pembelajaran perguruan tinggi yang semakin terdigitalisasi dan berorientasi pada capaian kompetensi mahasiswa.

Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi  (FDIK) Universitas PTIQ Jakarta, Dr. Topikurohman, MA, dalam acara Pelatihan Kurikulum OBE dan Edlink Sevima untuk Dosen di lingkungan FDIK, Selasa (11/8), di Kampus Universitas PTIQ Jakarta.

Menurut Topikurohman, penerapan OBE dan Edlink Sevima merupakan konsekuensi dari perkembangan pendidikan tinggi yang semakin menempatkan capaian pembelajaran dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian integral dari proses pendidikan. Ia mengakui, pada tahap awal penerapannya, OBE dan Edlink Sevima dapat dirasakan cukup merepotkan oleh dosen karena membutuhkan penyesuaian dalam merancang pembelajaran, menyusun perangkat perkuliahan, hingga mendokumentasikan capaian mahasiswa.

Namun, setelah menjadi kebiasaan, sistem tersebut justru akan memberikan kemudahan, terutama dalam memastikan proses pembelajaran berjalan lebih terarah dan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih sistematis. “Memang pada awalnya terasa merepotkan. Tetapi kalau sudah terbiasa, justru akan memudahkan dosen dan mahasiswa. Karena itu, penguasaan OBE dan Edlink Sevima bagi dosen sudah menjadi suatu keniscayaan,” ujar Topikurohman.

Ia menambahkan, pengembangan OBE di lingkungan FDIK Universitas PTIQ Jakarta tidak semata-mata diarahkan pada perubahan teknis dalam proses pembelajaran. Lebih dari itu, OBE diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat identitas dan keunggulan akademik fakultas. Setidaknya terdapat empat orientasi utama yang dikembangkan.

Pertama, mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam seluruh mata kuliah di bidang dakwah dan komunikasi, sehingga kompetensi akademik mahasiswa tidak terlepas dari landasan nilai dan etika Islam.

Kedua, memperkuat karakter kebangsaan dan keindonesiaan dalam konteks global, agar lulusan memiliki wawasan keislaman sekaligus mampu berinteraksi dalam lingkungan masyarakat yang semakin terbuka.

Ketiga, mengembangkan penerapan teknologi dan sains komunikasi modern, sebagai respons terhadap perubahan lanskap komunikasi di era digital. Keempat, memperluas kolaborasi internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat reputasi akademik FDIK Universitas PTIQ Jakarta.

Sementara itu, Ketua Program Studi (Prodi) Komunikasi Islam, Wahab Nur Kadri, menjelaskan bahwa implementasi kurikulum OBE membawa konsekuensi terhadap perubahan paradigma pembelajaran. Jika sebelumnya proses perkuliahan lebih banyak bertumpu pada dosen atau pengampu (lecturer-centered learning), kini orientasinya bergeser kepada mahasiswa melalui pendekatan student-centered learning. Dengan demikian, mahasiswa tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai subjek aktif yang dituntut mampu mengeksplorasi, menganalisis, memecahkan masalah, dan menghasilkan solusi.

Perubahan paradigma tersebut juga beriringan dengan pergeseran orientasi kemampuan berpikir mahasiswa, dari Lower Order Thinking Skills (LOTS) menuju Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Artinya, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengingat dan memahami informasi, tetapi diarahkan pada kemampuan menganalisis, mengevaluasi, mencipta, serta menerapkan pengetahuan dalam menghadapi persoalan nyata. Dengan pendekatan ini, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dapat dikuasai mahasiswa, tetapi juga dari kemampuan mereka menggunakan pengetahuan tersebut secara kritis dan produktif.

Di sisi lain, Ketua Prodi Manajemen Dakwah (MD), Yasser Muda Lubis, menegaskan bahwa penerapan OBE juga menjadi momentum bagi Prodi MD untuk mempertegas arah dan distingsi keilmuannya. Prodi MD diarahkan menjadi pusat pengkajian dan pengembangan ilmu manajemen dakwah melalui pendekatan Islamic Contextual Performance, yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan transformasi digital.

“Orientasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam pengelolaan lembaga dakwah dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Yasser. Menurutnya, integrasi antara nilai-nilai Al-Qur’an, kompetensi manajerial, dan kemampuan beradaptasi dengan transformasi digital inilah yang diharapkan menjadi salah satu distingsi utama Prodi Manajemen Dakwah Universitas PTIQ Jakarta.

Dengan demikian, penerapan OBE dan Edlink Sevima di FDIK Universitas PTIQ Jakarta bukan sekadar perubahan administratif dalam penyusunan kurikulum maupun penggunaan platform digital.

Lebih jauh, keduanya menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengubah budaya pembelajaran: dari sekadar menyampaikan materi menjadi memastikan capaian kompetensi, dari dosen sebagai pusat pembelajaran menuju mahasiswa sebagai subjek aktif, serta dari kemampuan berpikir tingkat rendah menuju kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan solutif.

Pada titik inilah transformasi pembelajaran diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter Qur’ani, berwawasan kebangsaan, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menjawab tantangan masyarakat di era global. (abah)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement