Cara Biak Numfor Ciptakan Suasana Kondusif

 Cara Biak Numfor Ciptakan Suasana Kondusif
Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. (foto: nanang s)

Jayakarta News – Kabupaten Biak Numfor, Papua termasuk cukup aman ketika wilayah Papua dan Papua Barat pertengahan Agustus dan September lalu diterpa kerusuhan. Bahkan di Wamena yang sangat rusuh terjadi gelombang pengungsi ke kota yang lebih aman. Sebagian besar masyarakat melakukan eksodus dan pulang ke kampung halaman masing-masing, baik ke Sumatera, Sulawesi, Jawa dan lainnya.

Mengapa Biak Numfor begitu kondusif? Rupanya pimpinan daerah, bupati termuda Tanah Papua ini sudah ambil sikap sebelum massa bergerak. Ancang-ancangnya sangat elok. Herry Ario Naap, M.Pd (37) mantan anggota DPRD Biak Numfor dan wakil bupati pada periode sebelumnya, mengumpulkan para tokoh masyarakat. Para tokoh termasuk tokoh adat dan rohaniawan diminta  menenangkan masyarakat dan komunitasnya.

Namun, yang diprediksi tak urung datang juga. Massa terprovokasi karena kejadian di Surabaya yang diduga bersifat rasis. Bupati Herry Ario Naap yang juga disapa pak HAN ini tetap tenang. Kata-katanya di depan massa seolah memberi jalan pada pengunjuk rasa yang mau berbuat anarkhis. “Ya, silakan kalau kalian mau bakar-bakar toko, mau bakar-bakar gedung, silakan. Nanti uang kita habis untuk memperbaiki itu,“ kisah pak HAN, Rabu pekan lalu di Jakarta, ketika menghadapi masyarakatnya yang konon juga mulai panas.

Ia melanjutkan, kalau uang pemerintah terus-menerus dipakai untuk memperbaiki gedung-gedung yang dibakar, kapan kita bisa maju. Kapan kita bisa membangun untuk kesejahteraan. “Akhirnya mereka tidak jadi bakar-bakar,“  kata pak HAN menjawab pertanyaan mengapa Biak Numfor aman-aman saja ketika itu.  Ya, tentunya redahnya emosi massa tak lepas dari wejangan para tokoh masyarakat setempat yang sudah bicara dari hati ke hati agar tidak anarkhis.

Bupati Herry Ario Naap. (foto nanang)

Herry Ario hadir bersama Gubernur Jawa Tengah, Bupati Banyuwangi, Bupati Musi Banyuasin, dan Bupati Luwu Utara sebagai pembicara dalam seminar Mimpi Tokoh Muda untuk 2045 yang diselenggarakan PWI Pusat di Jakarta.

Sebagai tokoh muda Papua ia memaparkan mimpinya yang sahaja namun fundamental, yakni damai dan sejahtera.  “Kita mimpi  untuk Biak Numfor, untuk Papua dan untuk Indonesia adalah damai dan sejahtera. Kita mimpi untuk adil dan makmur dengan prediksi akan dapat bonus demografi,“ kata Herry Ario.

Oleh karena itu menuju arah yang  ingin dicapai, ia mengajak masyarakat, para stake holder dan LSM untuk berpikir, apa indikasi dan poin-poin yang harus diwujudkan dengan segala tantangan yang menghadang dalam kepesatan teknologi di era revolusi industri saat ini. Sehingga kita dapat menikmati bonus demografi, bukan bencana demografi.

Hal itulah yang kemudian menjadi pergumulan pemikirannya, sehingga arah kebijakan Biak Numfor mengusung visi; “Biak Numfor yang religius, berkarakter, dan berbudaya.“ 

“Mimpi saya damai dan sejahtera. Itu mimpi saya,“ tegasnya lagi. Biak Numfor dan Papua bersama Indonesia yang damai dan sejahtera. Tanpa damai dan sejahtera, kapan Indonesia emas yang maju dan sejahtera bisa dinikmati. Mimpi saya, di Tanah Papua tidak ada konflik, dan kita bisa hidup dalam kesetaraan di Indonesia, sehingga Indonesia yang maju dan sejahtera dapat diwujudkan.

Jika tanpa kesetaraan, kata alumnus Universitas Satyawacana Salatiga ini, Papua akan tetap seperti ini (bergolak) dan media massa akan terus meliput dan menjadi isu global mengapa Papua seperti ini.

Dalam kesempatan itu Herry juga menyatakan apresiasinya terhadap Presiden Joko Widodo yang selama masa jabatannya, periode pertama (2014-2019)  datang ke tanah Papua lebih dari 8 kali. Presiden tidak hanya mengunjungi kota provinsi seperti Jayapura, namun datang pula ke pelosok-polosok. Bahkan ke daerah-daerah yang sebagian besar orang takut ke sana, tapi Presiden datang juga karena ingin melihat kondisi riel masyarakat Papua.

“Masyarakat Papua memberi apresiasi dan bangga terhadap bapak Presiden,“  katanya lagi.

Menurut Herry Ario, untuk mewujudkan mimpinya dan kesetaraan masyarakat Papua, satu hal yang penting adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Pembangunan dari kampung ke kampung akan terus digenjot dengan memanfaatkan dana desa dan mendorong transparansi.

“SDM akan menjadi barometer untuk kemajuan pembangunan di Papua. Kalau SDM tidak siap, maka Papua akan tetap menjadi Papua yang jadi pergumulan besar di NKRI ini,“ tegas Herry Ario. (iswati)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *