Bupati Biak Numfor: Indonesia Akan Tetap Utuh

Menyikapi Stigma Negatif Terhadap Masyarakat Papua

Jayakarta News – Tindakan rasisme masih kerap menimpa kelompok tertentu. Tak heran terjadi gejolak dan muncul kemarahan masyarakat. Karenanya negara harus memberi rasa aman dengan adanya tindakan hukum terhadap mereka yang rasis. 

Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap menyadari, para mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di luar kota pernah mengalami perilaku rasis. Hal itu tentu ditentang, tapi paling penting bagaimana menyikapinya perlakukan itu. 

“Menyikapi stigma yang diberikan kepada kami. Bagaimana menyikapi dan menanggapinya hal ini (rasis) bisa terselesaikan dengan baik,” ujar Herry Ario Naap saat diskusi online bertajuk Papua Dalam Keberagamaan Indonesia, Senin (15/6/2020).

Bercermin pada kejadian unjuk rasa di Papua tahun 2019 untuk menentang rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur. Gelombang protes pun terus terjadi dan kericuhan tak terhindari. 

“Jadi ketika kita bicara soal rasisme, yang dihadapi mahasiswa Papua di Surabaya berdampak luas menjadi persoalan global di masyarakat Papua,” ucap Herry. 

Kala itu kelompok masyarakat di Biak turut menyuarakan aspirasi mereka, untuk menolak tindakan rasisme yang terjadi. Dialog dan komunikasi tetap dilakukan kepada tokoh masyarakat agar tercipta kondisi yang kondusif.

“Saya pun melakukan pendekatan pendekatan kepada tokoh masyarakat. Kepada tokoh adat dan agama, untuk dapat berdiskusi,” tuturnya. 

Boleh menyuarakan pendapat sebagai bentuk protes. Semua sepakat dan menentang tindakan rasisme. Namun saat menyuarakan aspirasi melakukannya dengan cara sesuai ketentuan konstitusi. 

“Saya menyiapkan pola untuk masyarakat, silakan datang dan menyampaikan aspirasi mereka. Bahwa kami tidak setuju dengan rasisme, tapi dengan tidak cara anarkis,” pesannya. 

Cara yang sama disampaikanya kepada seluruh mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan di wilayah Jawa maupun kota lainnya untuk memberikan pemahaman yang sama.  

“Kita menolak rasisme tapi menyikapinya dengan positif dan lebih elegan. Lebih tenang untuk menghadapinya, tidak harus dengan tindakan anarkis,” tegas Herry. 

Herry pernah berdialog dengan Gubernur, Kapolri dan Panglima TNI perihal masalah rasisme. Poin utamanya jangan memberikan stigma buruk terhadap orang dengan etnis tertentu.

“Bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang utuh. Ketika Papua dilihat menjadi bagian dalam NKRI, tidak ada stigma yang diberikan,” tandasnya. (ks)

Cara Biak Numfor Ciptakan Suasana Kondusif

Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. (foto: nanang s)

Jayakarta News – Kabupaten Biak Numfor, Papua termasuk cukup aman ketika wilayah Papua dan Papua Barat pertengahan Agustus dan September lalu diterpa kerusuhan. Bahkan di Wamena yang sangat rusuh terjadi gelombang pengungsi ke kota yang lebih aman. Sebagian besar masyarakat melakukan eksodus dan pulang ke kampung halaman masing-masing, baik ke Sumatera, Sulawesi, Jawa dan lainnya.

Mengapa Biak Numfor begitu kondusif? Rupanya pimpinan daerah, bupati termuda Tanah Papua ini sudah ambil sikap sebelum massa bergerak. Ancang-ancangnya sangat elok. Herry Ario Naap, M.Pd (37) mantan anggota DPRD Biak Numfor dan wakil bupati pada periode sebelumnya, mengumpulkan para tokoh masyarakat. Para tokoh termasuk tokoh adat dan rohaniawan diminta  menenangkan masyarakat dan komunitasnya.

Namun, yang diprediksi tak urung datang juga. Massa terprovokasi karena kejadian di Surabaya yang diduga bersifat rasis. Bupati Herry Ario Naap yang juga disapa pak HAN ini tetap tenang. Kata-katanya di depan massa seolah memberi jalan pada pengunjuk rasa yang mau berbuat anarkhis. “Ya, silakan kalau kalian mau bakar-bakar toko, mau bakar-bakar gedung, silakan. Nanti uang kita habis untuk memperbaiki itu,“ kisah pak HAN, Rabu pekan lalu di Jakarta, ketika menghadapi masyarakatnya yang konon juga mulai panas.

Ia melanjutkan, kalau uang pemerintah terus-menerus dipakai untuk memperbaiki gedung-gedung yang dibakar, kapan kita bisa maju. Kapan kita bisa membangun untuk kesejahteraan. “Akhirnya mereka tidak jadi bakar-bakar,“  kata pak HAN menjawab pertanyaan mengapa Biak Numfor aman-aman saja ketika itu.  Ya, tentunya redahnya emosi massa tak lepas dari wejangan para tokoh masyarakat setempat yang sudah bicara dari hati ke hati agar tidak anarkhis.

Bupati Herry Ario Naap. (foto nanang)

Herry Ario hadir bersama Gubernur Jawa Tengah, Bupati Banyuwangi, Bupati Musi Banyuasin, dan Bupati Luwu Utara sebagai pembicara dalam seminar Mimpi Tokoh Muda untuk 2045 yang diselenggarakan PWI Pusat di Jakarta.

Sebagai tokoh muda Papua ia memaparkan mimpinya yang sahaja namun fundamental, yakni damai dan sejahtera.  “Kita mimpi  untuk Biak Numfor, untuk Papua dan untuk Indonesia adalah damai dan sejahtera. Kita mimpi untuk adil dan makmur dengan prediksi akan dapat bonus demografi,“ kata Herry Ario.

Oleh karena itu menuju arah yang  ingin dicapai, ia mengajak masyarakat, para stake holder dan LSM untuk berpikir, apa indikasi dan poin-poin yang harus diwujudkan dengan segala tantangan yang menghadang dalam kepesatan teknologi di era revolusi industri saat ini. Sehingga kita dapat menikmati bonus demografi, bukan bencana demografi.

Hal itulah yang kemudian menjadi pergumulan pemikirannya, sehingga arah kebijakan Biak Numfor mengusung visi; “Biak Numfor yang religius, berkarakter, dan berbudaya.“ 

“Mimpi saya damai dan sejahtera. Itu mimpi saya,“ tegasnya lagi. Biak Numfor dan Papua bersama Indonesia yang damai dan sejahtera. Tanpa damai dan sejahtera, kapan Indonesia emas yang maju dan sejahtera bisa dinikmati. Mimpi saya, di Tanah Papua tidak ada konflik, dan kita bisa hidup dalam kesetaraan di Indonesia, sehingga Indonesia yang maju dan sejahtera dapat diwujudkan.

Jika tanpa kesetaraan, kata alumnus Universitas Satyawacana Salatiga ini, Papua akan tetap seperti ini (bergolak) dan media massa akan terus meliput dan menjadi isu global mengapa Papua seperti ini.

Dalam kesempatan itu Herry juga menyatakan apresiasinya terhadap Presiden Joko Widodo yang selama masa jabatannya, periode pertama (2014-2019)  datang ke tanah Papua lebih dari 8 kali. Presiden tidak hanya mengunjungi kota provinsi seperti Jayapura, namun datang pula ke pelosok-polosok. Bahkan ke daerah-daerah yang sebagian besar orang takut ke sana, tapi Presiden datang juga karena ingin melihat kondisi riel masyarakat Papua.

“Masyarakat Papua memberi apresiasi dan bangga terhadap bapak Presiden,“  katanya lagi.

Menurut Herry Ario, untuk mewujudkan mimpinya dan kesetaraan masyarakat Papua, satu hal yang penting adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Pembangunan dari kampung ke kampung akan terus digenjot dengan memanfaatkan dana desa dan mendorong transparansi.

“SDM akan menjadi barometer untuk kemajuan pembangunan di Papua. Kalau SDM tidak siap, maka Papua akan tetap menjadi Papua yang jadi pergumulan besar di NKRI ini,“ tegas Herry Ario. (iswati)