Connect with us

Entertainment

Anggun Pradesha: Melawan Stigma Seksual Jadi Sutradara Film

Published

on

Anggun Pradesha (foto kalyana)

JAYAKARTA NEWS— Delapan tahun meninggalkan rumahnya di Jambi. Hengkang ke Bandung. Ditemani 2 kawannya sesama waria, Agung alias Anggun Pradesha (30 tahun) akhirnya berani balik ke Jambi menemui ayahnya.

“Orang-orang minoritas seperti saya perlu waktu. Rumah dulu adalah tempat aman dan nyaman,” cerita Anggun di at-america, Jakarta dalam diskusi usai pemutaran film ‘Balek ke Jambi’ karya Anggun.

Namun, rumah dalam dirinya juga merupakan neraka. Pasalnya, ayahnya tidak bisa menerima anaknya yang berstatus transgender alias waria.

“Masalah hidup kan beda dalam diri kita. Saya keluar dari rumah membangun kehidupan baru. Risikonya, mental harus kuat,” beber Anggun.

Kesulitan ekonomi, ejekan dan ancaman aparat makin menyudutkan Anggun. Ejekan dan cercaan seperti ‘penis kamu udah mati. Enggak bisa bangun ya?’ atau ‘ukuran penis kamu kecil?” kerap diterimanya.

Tapi telinganya sudah berdinding tebal.

Awalnya, Anggun melacurkan di jalanan, tapi ia sering dikejar dan digebuki polisi.
Ia banting setir. ‘Learning by doing’, jika ada kesempatan ia ingin belajar dan berkarya.
Kepada produser dan sineas Nia Dinata yang dikenalnya, Anggun belajar tentang kiat membuat film pendek.

“Saya berjuang sendirian dan harus bisa merebut ruang ini yaitu film,” urainya.
Dan jadilah karya film pendeknya bertajuk ‘Balek ke Jambi’ yang berdurasi 24 menit.

Harapan pertama adalah ibu kandungnya. Lalu teman-teman lama dan guru SMK.
Melalui Impact dan Kalyana Shira milik Nia Dinata, film ‘Balek ke Jambi’ memperoleh apresiasi yang hangat dan simpati berlimpah.

Saat diputar di Riau, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Jambi dan Jakarta, film ini disambut gegap gempita.

“Jujur, saya ingin melawan stigmatisasi seksual melalui film. Produk film ‘halal waria’ yang saya buat ini menciptakan inklusivitas yang sangat besar,” papar Anggun.

Dukungan penuh datang dari Nia Dinata (‘Arisan’, ‘Ca Bau Kan’, ‘World Without…’) yang ingin mengubah persepsi waria melalui film.

“Harapan saya, orang tua mau menerima anaknya yang transgender secara utuh. Kita harus bisa membangun ruang bersama yang aman dan nyaman,” timpal Nia Dinata.

Nia Dinata juga mendirikan program dan ruang dialog serta diskusi yang diberi nama ‘Rumah’.
“Semua film dan produk budaya Rumah dan Kalyana Shira ini non-profit alias gratis. Bagi LSM, organisasi, komunitas dan lembaga lain, kontak kami dan kami akan merespon secepatnya,” janji Nia Dinata optimis. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *