Connect with us

Kesehatan

BRIN Kembangkan Sensor SPR Berteknologi untuk Deteksi Gula Darah

Published

on

Istimewa

JAYAKARTA NEWS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sensor berbasis Surface Plasmon Resonance (SPR) yang berpotensi mendeteksi kadar glukosa secara noninvasif, cepat, dan real-time.

“SPR berpotensi menjadi platform sensor glukosa yang akurat dan nyaman digunakan serta dapat diintegrasikan ke dalam berbagai aplikasi pemantauan kesehatan sehari-hari,” ungkap Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Fotonika BRIN Lia Aprilia, dalam Forum Presentasi Ilmiah dan Inovasi ORNAMAT #87 yang diselenggarakan secara daring, Selasa (23/6/2026).

Saat ini, kata Lia, metode pemantauan glukosa yang umum digunakan masih bersifat invasif karena memerlukan sampel darah.

“Selain menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan, proses analisisnya juga membutuhkan waktu,” jelas Lia.

Sebagai solusi, kata Lia, BRIN mengembangkan teknologi sensor berbasis Surface Plasmon Resonance (SPR), sebuah teknologi sensor optoelektronik yang mampu mendeteksi perubahan indeks bias akibat interaksi biomolekul pada permukaan logam tipis.

Teknologi ini dikenal memiliki sensitivitas tinggi, tidak memerlukan pelabelan (label-free), serta mampu memantau interaksi biomolekul secara real-time.

Lia menjelaskan bahwa prinsip kerja SPR memungkinkan deteksi biomolekul secara presisi sehingga sangat menjanjikan untuk pengembangan perangkat pemantauan glukosa generasi baru.

“Pengembangan sensor berbasis SPR menjadi bagian dari upaya BRIN dalam menghadirkan teknologi diagnostik yang lebih efektif dan ramah pengguna,” ujar Lia seperti dikutip laman brin.go.id.

Selain membuka peluang lahirnya perangkat pemantauan glukosa noninvasif, riset ini juga memperkuat kapasitas nasional di bidang fotonika dan biosensor.

Ke depan, teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung layanan kesehatan yang lebih efisien, terjangkau, dan berbasis inovasi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya penyandang diabetes yang memerlukan pemantauan glukosa secara rutin.

Menurut Lia, glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh dengan kadar normal berkisar antara 80-120 mg/dL. Pemantauan kadar glukosa menjadi sangat penting, terutama bagi penyandang diabetes yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penyandang diabetes di dunia diproyeksikan mencapai 700 juta orang pada 2030. Kondisi ini mendorong perlunya pengembangan teknologi pemantauan glukosa yang lebih mudah, akurat, dan nyaman digunakan oleh masyarakat.  (yog)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement