Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the zox-news domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Jadilah Sarjana Intelektual Bukan Sarjana Tukang - Jayakarta News
Notice: Function WP_Styles::add was called incorrectly. The style with the handle "ql-main" was enqueued with dependencies that are not registered: ql-bootstrap. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.9.1.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Connect with us

Kabar

Jadilah Sarjana Intelektual Bukan Sarjana Tukang

Published

on

Jayakarta News – Dunia perguruan tinggi sedang menjadi “terdakwa” dari kekacauan tata kelola pemerintahan, dan juga munculnya korupsi di mana-mana.

Pernyataan keras itu dilontarkan Menkopolhukam Mahfud MD, saat menyampaikan stadium generale pada acara wisuda 750 sarjana dan magister Universitas Islam Kadiri, di Kediri, Jawa Timur, Sabtu (21/12).

Gugatan itu dilayangkan pada perguruan tinggi, karena umumnya pelaku korupsi, menurut Mahfud MD, adalah sarjana yang merupakan produk dari perguruan tinggi. Pelaku korupsi umumnya sarjana tukang. “Keahliannya bisa diperdagangkan sesuai pesanan.”

Mahfud berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan sarjana, tapi juga mencetak intelektual. “Jadilah ulul albab, orang yang cerdas dan mulia ahlak. Ini sebuah tantangan bagi perguruan tinggi,” tegasnya.

Intelektual tidak musti sarjana, dan sarjana tidak otomatis intelektual. Dicontohkan, Buya Hamka, Natsir, KH Wahid Hasyim, itu bukan sarjana tapi intelektual yang patut diteladani. “Apa artinya kalau sarjana hanya jadi tukang. Jadilah sarjana intelektual yang beriman, dan bertanggung jawab untuk berbuat baik,” kata Mahfud, yang juga seorang dosen di UII Yogyakarta itu.

Perguruan tinggi seyogyanya memiliki kedadaran kolektif  mencetak intelektual, yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga watak. Mahfud merujuk contoh almarhum BJ Habibie, yang dinilainya sebagai sosok berilmu dan bertakwa.

Diingatkan oleh Mahfud, pendidikan dan pengajaran kita sebagaimana termaktub dalam konstitusi telah memiliki pohon dan akar yakni Pancasila. Ibaratnya pohon itu memiliki ranting ilmu pengetahuan, yang semuanya bermuara pada akar Pancasila.

Ia berharap lulusan Universitas Islam Kadiri yang juga pernah dipimpinnya itu, mampu melahirkan lulusan-lulusan yang tidak hanya berahlak, tapi juga memiliki sikap inklusif, menerima perbedaan-perbedaan. “Tegakkanlah keadilan tidak hanya di antara kelompok sendiri tapi juga berlaku adil pada siapa pun “ ujar Mahfud MD. (am)

Menko Polhukam Prof Dr H. Mahfud MD, SH, SU menyampaikan “studium generale” pada Rapat Terbuka Senat Universitas Islam Kadiri, dalam rangka Wisuda Sarjana dan Program Magister tahun 2019. (foto: Kemenko Polhukam)
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement