Trimatra untuk Pendidikan Nasional

 Trimatra untuk Pendidikan Nasional

Ilustrasi–foto instagram kemendikbud

JAYAKARTA NEWS—Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) akan mengadakan Fokus Diskusi Kelompok (FDK) ke-5 dari rangkaian diskusi bertema besar ‘Pendidikan Sebagai Penjuru Dalam Membangun Warganegara Unggul’ di Apartmen Sultan, Rabu (11/12/2019).

Diskusi kali ini masih membahas masalah kurikulum dengan mengangkat isu Trimatra (Etika, Logika, Kebangsaan) sebagai masukan bagi perbaikan Sistim Pendidikan Nasional kita.

Sejumlah tokoh akan hadir dalam diskusi ini, di antaranya Pontjo Sutowo (Aliansi Kebangsaan), Bambang Pharma (YSNB), wakil BSNP, wakil Puskur dan Wakil Kemenag serta para pakar pendidikan yang sangat konsen menyempurnakan standar pendidikan nasional.

Menurut Pontjo Sutowo, permasalahan praksis pendidikan di Indonesia cukup banyak dan dilematis. Pertama, permasalahan mental bangsa yang sudah menjadi permasalahan besar sehingga perlu program revolusi mental untuk memperbaikinya.

Kedua, permasalahan defisit ideologi sehingga diperlukan usaha untuk tetap mendudukkan Pancasila dengan membentuk lembaga BPIP. Masalah ideologi tentu menyangkut masalah nasionalisme/kebangsaan.

Ketiga, permasalahan penurunan kecerdasan. Indikatornya berupa rendahnya hasil uji PISA 2019 yang baru diumumkan beberapa hari lalu.

Keempat, permasalahan terlalu banyaknya pelajaran yang mengakibatkan siswa-siswa kita menanggung beban berlebihan.

Atas beberapa masalah tersebut, YSNB lewat jubirnya Bambang Pharma memandang perlu mengusulkan rasionalisasi kurikulum dengan mengajukan konsep Trimatra (Etika, Logika, Kebangsaan) pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Sehingga kurikulum inti di Indonesia adalah Agama-Etika-Logika-Kebangsaan.

Berbeda dengan beberapa negara lain yang tidak menempatkan Agama dalam kurikulumnya, kita menempatkannya karena Agama selain berhubungan dengan etika juga berhubungan dengan nasionalisme yang ditandai pada alinea 2 UUD 1945. Kalimat itu menyatakan merdeka atas rahmat Tuhan YME. Maka dari itu sangat mengherankan jika Kebangsaan dipertentangkan dengan Keagamaan.

Sementara Logika atau Kecerdasan yang terdiri dari Sains-Matematika-Literasi-Bahasa yang mengindikasikan kemampuan bernalar dalam jangka panjang harus terus diperbaiki agar hasilnya maksimal.

Sisanya, kita perlu gerakan-gerakan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat untuk terus digulirkan (contohnya Gernas Pemberantasan Buta Matematika).

Gerakan dan usulan yang terangkum dalam trimatra ini diharapkan bisa mengejar ketertinggalan kita sehingga pendidikan kita mampu mencetak warganegara unggul.***/sm

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *