Trik Syiar Empat Pilar

 Trik Syiar Empat Pilar

Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR (tengah) foto bersama belasan jurnalis senior usai diskusi tentang isu-isu kebangsaan dan ketatanegaraan aktual. (foto: rina ginting)

Jayakarta News – Bangsa Indonesia harus senantiasa mengaktualisasikan dirinya dalam konteks berbangsa dan bernegara. Komitmen pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus senantiasa disosialisasikan.

“Persoalannya, cara sosialisasinya pun harus berkembang. Sudah tidak lagi model kelas dan top-down, tetapi harus dicari cara untuk lebih aktual dengan konteks perkembangan zaman,” ujar Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR saat berdiskusi dengan belasan wartawan senior di Gedung DPR/MPR RI, beberapa waktu lalu.

Terkait itulah, Martin yang politisi senior Partai Gerindra, mantan anggota DPR RI periode 1987-1992 itu menggali informasi dari para pelaku media senior. “Ukuran saya adalah, ketika teman-teman masih aktif di media, itu artinya teman-teman survive. Bagaimana bisa survive, pasti karena selalu meng-update dan meng-upgrade diri. Tanpa itu, pasti media saudara sudah terkubur,” ujar Martin, disambut tawa para peserta diskusi.

Diskusi pun mengerucut pada kedahsyatan media sosial. Saat ini, medsos menempati ranking pertama sebagai sumber informasi masyarakat. Ragamnya bisa melalui website, youtube, podcast, bahkan whatsapp dan facebook. Tak heran jika banyak stasiun televisi pun mengemas programnya berbasis medsos.

Martin yang mantan pimpinan Harian Umum Jayakarta itu, menambahkan, tidak sedikit akun medsos yang dijadikan media penyebar kebohongan, bahkan hoax. “Tapi saya mengapresiasi upaya Kemen Kominfo yang rajin menayangkan iklan layanan masyarakat, tentang pentingnya check and recheck setiap menerima informasi di medsos,” tambahnya.

Bukan hanya itu, masyarakat pun cenderung semakin kebas saraf sensitifitasnya. Alhasil, manakala menerima informasi yang –sebelumnya—bisa memancing emosi dan perasaan marah, saat ini sudah bisa menerima dengan lebih rileks. Mungkin tetap marah, jika suku, agama, ras, dan antargolongan menjadi bahan pelecehan. Tetapi, tingkat kemarahannya lebih terkontrol.

“Ada tren positif. Masyarakat yang terpancing berita bohong atau hoax, mulai dewasa. Indikasinya, tidak begitu saja mencerna dan menerima, tetapi akan mencari second opinion,” ujar Martin, yang secara periodik rajin berdiskusi dengan para wartawan senior. Selain untuk melepas kangen, juga untuk berdiskusi, tentang banyak hal. Utamanya, tentang media dikaitkan dengan isu-isu kebangsaan dan ketatanegaraan.

Martin menganggap, sosialisasi empat pilar yang banyak dilaksanakan oleh MPR dan pemasyarakatan ideologi Pancasila yang dilakukan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) pun harus dimodifikasi melalui sajian-sajian informasi yang interaktif, kreatif, dan inovatif. Intinya, pesan menjadi lebih mudah tersampaikan melalui trik syiar yang kontekstual dengan perkembangan zaman.

“Bukan hanya pesan tersampaikan, lebih dari itu, bisa menjangkau segmen yang lebih luas, utamanya segmen anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa,” pungkas Martin. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *