Sosial Budaya
Tradisi Takbiran di Berbagai Daerah Indonesia
JAYAKARTA NEWS – Dilakukan pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW, tradisi takbiran dibawa pedagang Gujarat ke Indonesia.
Setiap daerah mengadaptasi tradisi takbiran ini sesuai dengan adat istiadat setempat.
Kini takbiran di malam Idul Fitri menjadi satu alkuturasi budaya dan agama yang unik di Indonesia. Dikutip dari Laman Ragam BUMN, Kamis (19/3/2026), beberapa tradisi di bawah ini.
Tumbilotohe
Di tradisi takbiran di Gorontalo ini malam Idul Fitri juga disebut malam pasang lampu.
Dalam bahasa setempat tumbilo artinya pasang dan tohe artinya lampu.
Yakni, di hari terakhir puasa, setiap rumah di Gorontalo memasang lampu minyak atau obor.
Begitu pula masjid, lapangan dan sepanjang jalan.
Masyarakat setempat masih mempertahankan cara tradisional menggunakan lampu botol diisi minyak kelapa.
Kadang ditambah dengan hiasan dari bambu. Masyarakat akan berkeliling kota membawa obor.
Saat ini tradisi tumbilotohe menjadi festival religi yang ditunggu masyarakat di Gorontalo.
Ronjok Sayak
Tradisi takbiran ini dipraktekan Suku Serawai di Bengkulu.
Dalam bahasa setempat ronjok artinya bakar gunung, sedangkan sayak artinya batok kelapa.
Tradisi ini dilakukan setelah sholat isya.
Ronjok Sayak digelar sebagai ucapan syukur dan kegembiraan setelah puasa sebulan penuh.
Selain itu juga sebagai penghormatan pada leluhur yang meninggal.
Dalam tradisi ini masyarakat membuat tumpukan batok kelapa setinggi satu meter di depan rumah.
Bentuknya bisa seperti tusuk sate atau gunungan. Setelah itu, batok kelapa dibakar bersama-sama.
Meriam Karbit
Tradisi dari Pontianak ini berakar dari kepercayan lama masyarakat setempat.
Konon, Raja pertama Pontianak, Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka lahan di Pontianak dan sering diganggu hantu.
Ia menyuruh pasukannya melontarkan meriam untuk mengusir hantu tersebut.
Meriam terbuat dari kayu mabang atau meranti. Panjangnya 5-6 meter diameter 50-70 sentimeter.
Bahan peledak terbuat dari karbit yang dimasukkan pada lubang dan disulut dengan api.
Tradisi memasang meriam karbit pernah dilarang pada era Orde Baru.
Setelah era reformasi 1998 tradisi ini kembali dihidupkan.
Di malam Idul Fitri, berjejer meriam karbit di pingir Sungai Kapuas dan dibunyikan secara bersamaan.
Meugang
Bila kebanyakkan daerah merayakan malam Lebaran dengan kemeriahan, berbeda dengan di Aceh.
Tradisinya membagi-bagikan daging yang dikenal dengan nama meugang.
Pada malam Lebaran, masyarakat berkumpul di masjid untuk menyembelih daging sapi atau kerbau.
Daging dimasak dan dimakan bersama-sama.
Biasanya yang diundang orang tidak mampu, anak yatim piatu.
Tradisi ini merupakan simbol rasa syukur dan kebersaman masyarakat di Aceh.
Meugang dilaksanakan juga sehari sebelum Ramadan dan sehari sebelum Idul Adha.***/mel
