Sosial Budaya
Fakta Unik Tradisi Sungkem Masyarakat Indonesia di Hari Raya Idul Fitri
JAYAKARTA NEWS – Tidak cukup berjabat tangan, sebagian masyarakat Indonesia punya tradisi sungkem di hari raya Idul Fitri.
Tradisi sungkem saat Idul Fitri ini sudah berlangsung hampir seratus tahun dan dilakukan turun-temurun.
Ini sejumlah makna tentang tradisi sungkem yang sudah belaku sejak zaman Mangkunegara I, dikutip dari Laman Ragam BUMN, Kamis (19/3/2026).
Pertemuan para raja-raja
Tradisi sungkem dipercaya pertama kali dilakukan Mangkunegara I sekitar tahun 1930-an.
Di satu kesempatan Raja Solo itu melakukan pertemuan dengan prajurit dan punggawanya di sebuah balai.
Pertemuan ini dibuat untuk mengenal pasukannya dengan baik sekaligus momen saling memaafkan.
Satu persatu prajurit dan punggawa menghampiri raja lalu bersimpuh untuk meminta maaf.
Dalam bahasa Jawa sungkem artinya sujud atau tanda bakti dan hormat.
Sungkem menunjukan, mereka yang lebih muda memohon maaf dan doa akan keselamatan.
Sungkem juga menunjukkan akhlak yang mulia, berjiwa santun, menjunjung etika.
Serta sebagai bentuk terima kasih pada orang tua atau orang yang dihormatinya.
Alkuturasi budaya Jawa dan Islam
Bisa dibilang tradisi sungkem merupakan hasil alkuturasi budaya.
Para pemimpin organisasi Islam melihat perayaan Idul Fitri sangat tepat untuk melakukan sungkem.
Karena esensinya adalah bermaaf-maafan.
Kemudian, para pemimpin organisasi mempraktekan tindakan yang sama.
Anggota organisasi melakukan sungkem pada pemimpin agama setempat.
Tradisi ini kemudian dipraktekkan juga para anggota dan orang-orang Jawa di rumahnya.
Dari situlah tradisi sungkem terus dipertahankan di keluarga Jawa hingga sekarang.
Tidak hanya saat Lebaran
Kebanyakkan orang hanya tahu kalau sungkem dilakukan saat Idul Fitri saja.
Sebenarnya sungkem juga dilakukan pada peristiwa penting lainnya. Yaitu, saat seorang anak menikah.
Dalam adat Jawa, setelah siraman, kedua mempelai akan melakukan sungkem ke orang tua.
Selain doa restu, sungkem juga dimaksudkan untuk meminta pengampunan atas perbuatannya selama menjadi anak.***/mel
