Terhadap Putin, Merkel tidak “Baper”

 Terhadap Putin, Merkel tidak “Baper”

ANGELA Merkel adalah politisi kawakan Jerman. Ia bertumbuh dan besar di Jerman Tumur. Dalam satu kesempatan, Merkel mengambarkan ia tumbuh di negara kediktatoran. Dia belajar dan terbiasa mementahkan semua jargon politik Uni Soviet yang deras menerpa melalui berbagai media.

“Kami harus menghadapi hal ini setiap hari,” tuturnya dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel pada tahun 2009. “Adalah suatu mujizat, kami mampu belajar meninggalkan semua itu.”

Tidaklah heran kalau Merkel tidak ‘baper’ (bawa perasaan) dengan Rusia. Di era Jerman terpisah, beberapa anggota Partai Sosial Demokrat ( Merkel bergabung dengan partai ini), yang hidup di Jerman Barat, menyerukan rekonsiliasi dengan Soviet — Politik Timur yang jadi kebijakan ‘dentete’ era tahun 1970-an.

Sementara di Jerman Timur, Stasi (badan intelejen Jerman Timur) dan KGB (badan intelijen Rusia) mengawasi warga di negara blok Soviet, yang paling luas jaringan intelejen negaranya. Kemiskinan dan saling tidak percaya menghinggapi warga, namun, menurut Merkel, tidak seorang pun berpikir bahwa sistem negara polisi itu bisa runtuh.

“Ketika itu hampir tidak seorang pun percaya (keruntuhan) bisa terjadi. Maka terjadilah,” kenangnya.

Bagi Merkel pelajaran keruntuhan Jerman Timur adalah menyelesaikan persoalan, seperti konflik di Ukraina, membutuhkan waktu lama dan kesabaran jadi sangat penting. Bagi Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, yang sangat ingin ‘menghancurkan’ kohesi Uni Eropa, pelajarannya adalah sistem politik, yang kelihatannya tak terkalahkan, bisa mendadak rentan dan hancur. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *