“Diplomasi Anjing Labrador” Putin kepada Merkel

“PERSETERUAN” antara Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin memang klasik. Pernah kejadian, ketika Merkel berkunjung ke Moskow awal 2006, Putin memperlihatkan gaya ‘permainannya’ dengan memberi hadiah boneka anjing —-meskipun dia sudah diperingatkan Merkel tidak suka anjing. Setahun kemudian, ketika sedang berunding di Laut Hitam, dia membiarkan anjing Labrador hitamnya (anjing ini bertubuh besar) memasuki ruangan perundingan.

Toomas Ilyes, mantan presiden Estonia, menggambarkan permainan anjing itu sebagai (intimidasi) klasik KGB. Dia mengatakan Merkel tidak akan mempunyai pandangan ilusi terhadap Rusia dan dia sangat memahami bagaimana Rusia di bawah Putin. “(Ingat) dia besar di negeri Stasi (Jerman Timur). Tentu saja dia mengerti semuanya,” tukasnya.

Kendati begitu, Merkel tetap meneruskan tradisi Jerman untuk secara teratur bertemu dengan para pemimpin Rusia, memposisikan diri sebagai perantara antara Eropa dengan Rusia. Dan tentu saja tetap mempertahankan hubungan dagang, yang sudah belangsung ratusan tahun, antara Jerman dengan Rusia.

Merkel juga melakukan ‘permainannya’ dengan membela demokrasi dan hak azasi manusia.Dia bertemu dengan tokoh-tokoh oposisi Rusia dan menyatakan kemarahannya atas pembunuhan wartawan pro-demokrasi dan kritis terhadap Kremlin (pemerintahan Putin) Anna Politkovskaya pada tahun 2006.

Beberapa hari setelah pembunuhan, Putin kembali mengunjungi Dresden.Dia dan Merkel mengadakan jumpa pers bersama.Saat itu, Putin kehilangan kontrol emosinya dan meledak setelah ditanya soal pembunuhan Politkovskaya. Ledakan emosi Putin dipotong dan tidak disiarkan. Namun para pemirsa sempat melihat Putin memuji Merkel sebagai orang yang bersedia mendengar dan digambarkan sebagai karakteristik yang langka dari perempuan.

Konstantin Eggert, wartawan Rusia yang sering mewawancarai Merkel, mengatakan Kremlin tidak pernah bisa memahami Merkel. Mereka percaya dia sama seperti kanselir sebelumnya yang akan mengikuti apa saja kemauan kalangan bisnis Jerman dan mengikuti tradisi Politik Timur. “Tapi dia (Merkel) tidak menghamba siapa pun, atau apa pun,” tukasnya.

Kohl menerima Gorbachev dengan pelukan sahabat. Schroder (kanselir sebelum Merkel) juga memberi sambutan yang sama, tapi tidak bagi Merkel. “Dia selalu tidak menyukai pendekatan semacam itu,” tutur Stefan Kornelius, penulis biografi Merkel.

Merkel telah membuat kagum Putin dengan kemampuannya memahami persoalan secara detil. Pengetahuan Merkel mengenai Rusia dan kebudayaannya serta kesiapan dia untuk mempertahankan pandangannya —- sama seperti yang selalu dilakukan Putin. Dalam konferensi keamanan di Munich, yang dihadiri Merkel, Putin dengan tegas menyatakan dia menentang Barat dan mengecam dominasi Amerika dalam urusan dunia.

Karl-Theodor zu Gutenberg, mantan menteri pertahanan Merkel, menceritakan ketika banyak pendengar pidato Putin, termasuk para pejabat Amerika, sangat kaget mendengar pernyataan itu. Merkel terlihat sama sekali tidak terkejut. Dia selalu waspada terhadap strategi Putin.

Namun Merkel pernah juga salah perhitungan.Dalam pertemuan NATO di tahun 2008, dia menentang masuknya Georgia dan Ukraina kedalam NATO. Pernyataan bersama hanya menyebutkan kedua negara bisa jadi anggota NATO di masa depan.

Putin memandang NATO ingin merangkul negara-negara bekas Pakta Warsawa.Dan karena tidak ada perlindungan NATO, dia kemudian, menginvasi Georgia dan akhirnya di tahun 2014 menganeksasi Crimea dari Ukraina.Dalam hal ini Putin benar; NATO tidak berindak apa-apa.

Persaingan Jerman dan Rusia (Merkel vs Putin) masih terus berlanjut. Merkel hampir pasti (menurut jajak pendapat) akan terpilih kembali. Namun, menurut pengamat politik, dia tidak lagi sekuat secara politis seperti masa jabatan sebelumnya.Sementara Rusia dituduh ikut campur pemilihan umum Jerman dengan mengangkat isu pengungsi, negara–negara yang ingin keluar dari Uni Eropa, dan radikal Islam. *** (Sumber: New York Times)

Merkel Kuasai Jerman, Putin Kuasai Rusia

BAGAIMANA sosok Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, dan kaitannya dengan Angela Merkel pada khususnya, dan Jerman (Timur) pada umumnya? Putih dalam satu kesempatan mengatakan, keruntuhan Jerman Tmur dan Uni Soviet sebagai bencana geopolitik terbesar pada abad 20.

“Kita sebenarnya bisa menghindari sejumlah masalah jika Soviet tidak tergesa-gesa keluar dai Eropa Timur,” tutur Putin kepada wartawan, yang ditugaskan Kremlin untuk menulis buku mengenai dirinya, pada tahun 2000 lalu.

Putin, seorang agen KGB, melihat dengan kekuatiran dari Dresden.Bos Stasi setempat, yang bekerjasama dengan KGB, ditahan dan akhirnya bunuh diri. Putin, belakangan, menceritakan bagaimana kerumunan orang yang marah berkumpul di depan kantor KGB. Karena kuatir diserang, Putin sempat menelepon meminta bantuan perlindungan dari militer Soviet, yang pangakalannya berlokasi dekat kantor KGB. Namun permintaan Putin ditolak dengan alasan perintah harus langsung dari Moskow. “Moskow diam saja. Ada perasaan bahwa negara itu sudah lenyap,” ungkap Putin. Kerumunan orang itu akhirnya bubar sendiri.

Belakangan Putin menuturkan pelajaran yang dia peroleh dari keruntuhan Jerman Timur; Kekuasaan haruslah digengam dengan kuat di dalam negeri dan di luar, jika Rusia ingin menghindari nasib seperti Uni Soviet. “Uni Soviet punya penyakit yang tidak ada obatnya: kelumpuhan kekuasaan.”

Kedua tokoh Eropa, Angela Merkel dan Vladimir Putin memperoleh posisi tertinggi di negara masing-masing kalau bukan karena “kecelakaan” bisa juga disebut “tidak diharapkan”. Putin, yang tidak dikenal di dunia internasional dan bahkan di dalam negeri, menjadi presiden Rusia setelah Boris N. Yeltsin secara dramatis mengundurkan diri di Tahun Baru 1999.

Di sisi lain, Merkel menjadi ketua Partai Uni Kristen Demokrat — partai kanan tengah — dengan menyingkirkan mentornya, mantan kanselir Helmut Kohl. Merkel, yang dipandang sebelah mata sebagai politisi perempuan, membuktikan kemampuannya ketika memperoleh kursi kanselir Jerman pada pemilu tahun 2005. ***

Terhadap Putin, Merkel tidak “Baper”

ANGELA Merkel adalah politisi kawakan Jerman. Ia bertumbuh dan besar di Jerman Tumur. Dalam satu kesempatan, Merkel mengambarkan ia tumbuh di negara kediktatoran. Dia belajar dan terbiasa mementahkan semua jargon politik Uni Soviet yang deras menerpa melalui berbagai media.

“Kami harus menghadapi hal ini setiap hari,” tuturnya dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel pada tahun 2009. “Adalah suatu mujizat, kami mampu belajar meninggalkan semua itu.”

Tidaklah heran kalau Merkel tidak ‘baper’ (bawa perasaan) dengan Rusia. Di era Jerman terpisah, beberapa anggota Partai Sosial Demokrat ( Merkel bergabung dengan partai ini), yang hidup di Jerman Barat, menyerukan rekonsiliasi dengan Soviet — Politik Timur yang jadi kebijakan ‘dentete’ era tahun 1970-an.

Sementara di Jerman Timur, Stasi (badan intelejen Jerman Timur) dan KGB (badan intelijen Rusia) mengawasi warga di negara blok Soviet, yang paling luas jaringan intelejen negaranya. Kemiskinan dan saling tidak percaya menghinggapi warga, namun, menurut Merkel, tidak seorang pun berpikir bahwa sistem negara polisi itu bisa runtuh.

“Ketika itu hampir tidak seorang pun percaya (keruntuhan) bisa terjadi. Maka terjadilah,” kenangnya.

Bagi Merkel pelajaran keruntuhan Jerman Timur adalah menyelesaikan persoalan, seperti konflik di Ukraina, membutuhkan waktu lama dan kesabaran jadi sangat penting. Bagi Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, yang sangat ingin ‘menghancurkan’ kohesi Uni Eropa, pelajarannya adalah sistem politik, yang kelihatannya tak terkalahkan, bisa mendadak rentan dan hancur. ***